Misteri Kampung Mati

Misteri Kampung Mati
Episode 1 - Tentang Alea


__ADS_3

Cerita ini hanyalah fiksi dan dari imajinasi author sendiri.


Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian/cerita, itu adalah kebetulan semata & tidak ada unsur kesengajaan.


Jika ada kesalahan dalam menulis mohon berikan komentar supaya author bisa langsung koreksi 🙏🏻


Kritik serta saran sangat membantu penulis untuk belajar agar lebih baik lagi.


Tapi tolong berkomentarlah tanpa menyakiti hati author, hargai karya orang lain karena menulis tidaklah mudah.


TERIMA KASIH DAN SILAHKAN MEMBACA 🤗


Di terminal terlihat seorang gadis manis berhijab yang memasuki usia 19 tahun, baru saja turun dari bus dengan menggeret kopernya. Lalu ia mengambil ponsel dalam tas selempangnya untuk melakukan panggilan.


"Assalamualaikum, Kak Ali. Aku sudah sampai, Kakak di mana?" tanyanya pada seorang pria di seberang telepon.


"Wa'alaikumsallam, Dek. Kakak ada di ruang tunggu, kamu di mana?" ucap pria yang dipanggil Ali itu seraya melirik jam di tangannya.


"Aku baru saja turun dari bus, tunggu aku segera ke sana." Panggilan dimatikan, lantas gadis itu langsung bergegas menuju tempat di mana sang kakak tengah menunggunya.


"Hai Kak, Lea kangen." Sapanya kemudian memeluk sang kakak dengan erat untuk melepas rindu.


"Hai Dek, Kakak juga kangen, bagaimana perjalananmu?" tanya Ali sambil membalas pelukannya.


"Ya lumayan capek, perjalanan dari kota Osi Bhinna menuju kota Marubhumi ini memakan waktu kurang lebih 4 jam, tapi aku senang." Ujar Alea dengan senyum ceria.


"Syukurlah kalau kamu senang." Ucap Ali dan ikut tersenyum.


Alea melepaskan pelukannya. "Kak Ali sudah lama menunggu ya?"

__ADS_1


"Tidak lama, sekitar 20 menit lah. Ya sudah kita ke kosan Kakak dulu sekarang, nanti dilanjut lagi ngobrolnya, yuk." Ali mengelus pelan kepala gadis yang tertutup rapi dengan hijab itu.


Alea mengangguk nurut. "Naik apa?" tanyanya.


"Naik motor dong, tuh diparkir di sana." Tunjuk Ali ke arah parkiran.


"Sini kopernya biar Kakak yang bawa." Lanjutnya dengan merebut koper dari tangan Alea.


Ali pun berkendara meninggalkan terminal menuju kosannya dengan membawa Alea di belakangnya.


Alea Safira biasa dipanggil Alea atau Lea adalah gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan sejak kecil atau bisa dikatakan saat masih bayi. Dirawat oleh pasangan suami istri yang sudah dianggap seperti orang tuanya sendiri. Abi dan umi itulah panggilan untuk kedua orang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Alea mendapatkan kasih sayang yang begitu besar dan tulus, begitu juga dengan anak-anak panti lainnya, mereka saling memberi cinta.


Panti asuhan yang baru didirikan dua tahun tepat saat kehadiran Alea pada masa itu dan kini telah berjalan bertahun-tahun lamanya hingga rumah sederhana itu ramai dengan anak-anak yang menghiasi tawa. Walaupun sering merasa kekurangan ekonomi, makanan dan pakaian harus saling berbagi, tak ada kesedihan sedikit pun di raut wajah mereka. Memiliki keluarga yang harmonis menjadi kebahagiaan untuk mereka semua.


Hidup dengan penuh kesederhanaan, keceriaan, dan kehangatan selalu ia rasakan bersama dengan yang lainnya. Begitupun dengan Ali Wijaya Kusuma, seorang anak berusia delapan tahun yang ditemui umi Maryam saat sedang mengamen di pasar, tidak ada yang tahu keberadaan orang tuanya, karena perasaan iba akhirnya wanita itu ingin merawatnya.


Hingga saat Ali sudah beranjak dewasa dan memutuskan mencari pekerjaan di kota yang lumayan luas dan ramai penduduk. Kota itu bernama Marubhumi yang dijuluki sebagai kota asri, sebab warga-warga di kota tersebut senang melakukan penghijauan, tentu hingga saat ini sudah banyak pohon-pohon atau pun tanaman di setiap halaman rumah warga.


Selama Ali tinggal jauh di kota itu, tak pernah sekalipun ia melupakan keluarganya. Tiap bulan selalu mentransfer sebagian gajinya kepada orang tuanya, meskipun gajinya tidak banyak, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya.


Kerja keras dan perhatian yang diberikan Ali kepada keluarganya itu membuat Alea merasa kagum dan ingin mengikuti jejaknya. Dengan giat belajar demi menggapai cita-citanya membuat kedua orang tuanya bangga dengan nilai tinggi yang selalu ia dapatkan ketika masa sekolah. Setelah lulus SMA wanita itu berencana melanjutkan studinya, mendapatkan gelar sarjana ialah impiannya saat ini. Otaknya yang cerdas dan tak pernah mengeluh untuk belajar membuatnya mendapatkan beasiswa disalah satu universitas favorit di kota Marubhumi.


Memang semua anak di panti asuhan itu diajarkan hidup mandiri agar ketika beranjak dewasa bisa menentukan jalan untuk masa depannya masing-masing. Abi Sofyan dan umi Maryam telah bekerja keras untuk membiayai kebutuhan serta pendidikan anak-anaknya, hingga saat ini ketika Alea berangkat menuju Marubhumi pun masih dibekalkan beberapa jumlah uang untuknya. Alea berjanji pada dirinya sendiri jika itu adalah uang yang terakhir kalinya ia terima dari orang tuanya. Di kota ini ia akan


bekerja sebagaimana kakaknya yang bisa mencukupi kebutuhan keluarga tercintanya.


Bicara tentang orang tua kandung dan asal usul Alea sangatlah kelam. Memasuki masa remaja di usia 13 tahun, Alea pernah menanyakan keberadaan sang ayah dan ibunya. Pada saat itu juga umi Maryam bercerita, rumah orang tua Alea tidak jauh dari panti asuhan, umi Maryam dan ibunya itu bisa dikatakan sangat dekat sebab hampir setiap hari mereka selalu bercengkrama.


Beberapa tahun silam, terdapat seorang pria dan wanita muda memasuki sebuah daerah terpencil yang minim penduduk bernama Osi Bhinna. Mereka adalah pasangan yang baru saja menikah. Karena keterbatasan ekonomi dan belum mendapatkan pekerjaan apapun di daerah tersebut, mereka memilih tinggal di kontrakan kecil tepatnya berseberangan dengan panti asuhan milik umi Maryam dan abi Sofyan.

__ADS_1


Wanita yang biasa dipanggil Maya begitu ramah dan terbuka terhadap tetangga sekitarnya, itu membuatnya cepat akrab dan dikenal rendah hati oleh semua orang. Begitu dengan umi Maryam yang bisa menyesuaikan diri dengan keberadaan Maya, wanita yang lebih muda darinya.


Dua tahun sudah menetap di sana, pasangan suami istri itu belum juga dikaruniai keturunan padahal Maya sangat ingin merasakan keberadaan seorang anak. Walaupun Surya, sang suaminya itu tidak pernah menuntut hal tersebut tapi sebagai wanita ada rasa kesepian ketika sedang berada sendiri di rumah, sebab Surya bekerja sebagai kuli panggul yang berangkat pagi pulang sore. Alhasil umi Maryam sering mengajaknya ke panti asuhan untuk bermain bersama anak-anaknya.


Setelah beberapa bulan kemudian, Maya dinyatakan hamil. Kabar bahagia untuknya dan sang suami tidak bertahan lama ketika memasuki bulan ketujuh usia kandungannya, Surya mengalami kecelakaan hingga merenggut nyawa. Berita duka yang membuat Maya mengalami depresi dan umi Maryam berusaha untuk selalu menemani juga membantu bangkit dari keterpurukannya.


Hingga pada akhirnya Maya berjuang seorang diri mencari nafkah untuk memenuhi dirinya juga sang jabang bayi. Mendekati waktu melahirkan, wanita itu sangat bersemangat ingin berjumpa sang buah hati, tapi masih terlihat jelas aura kesedihan yang tak pernah hilang dari raut wajahnya. Suami yang tak ada di sisinya saat sedang berjuang melahirkan seorang nyawa, hanya ditemani beberapa tetangganya juga umi Maryam yang selalu ada layaknya seorang kakak.


Setelah anak itu lahir, kebutuhannya pun bertambah. Maya hanya berjualan minuman dan makanan instan di depan kontrakannya, melayani pembeli sekaligus mengurus bayinya. Alea Safira, nama yang diberi Maya untuk anaknya sesuai keinginan pria yang dicintainya saat masih ada. Walaupun keadaan memaksa, ia mencoba ikhlas dan tegar dalam menjalaninya. Hanya anaknya yang menjadi kebahagiaan bagi dirinya.


Baru beberapa bulan merasakan kebahagiaan atas hadirnya seorang bayi di sisinya, cobaan datang kembali menimpa wanita itu. Maya sering merasa tubuhnya lemas, sesak di dada juga nyeri perut seperti ada ribuan jarum yang tertusuk di badannya, beberapa kali ia mengeluarkan darah dari dalam mulutnya. Tak henti-hentinya bibir itu terus melantunkan doa pada sang pencipta. Hingga saat merasa tak mampu lagi untuk menggerakkan tubuhnya, ia hanya berbaring menunggu waktu di mana ia akan kembali berjumpa dengan sang suami.


Ketika waktu itu tiba, umi Maryam yang menggantikan dirinya untuk menjaga dan merawat Alea bagaikan anak sendiri.


Cerita yang mengiris hati seorang anak remaja, hingga saat dewasa Alea masih mengingatnya dan merasakan betapa pilunya takdir yang dijalani sang ibu juga begitu kuatnya ketika ibu berjuang melawan deritanya seorang diri.


Walaupun tak pernah melihat langsung wajah kedua orang tuanya, tapi Alea sangat menyayangi mereka. Foto-foto yang ia pinta dari uminya disimpan rapi dalam sebuah album, termasuk foto pernikahan orang tuanya yang terkadang membuatnya meneteskan air mata. Sering kali ia pergi ke makam keduanya untuk dibersihkan juga mendoakan mereka, jika tidak ia hanya mampu mendoakan dalam sholatnya. Alea berharap keduanya dipersatukan kembali dan hidup bahagia di Jannah-Nya.


-TBC-


Like


Komen


Vote


Hadiah


my ig: @silviaa.putri_

__ADS_1


__ADS_2