
Dari pagi hingga siang hari Alea tetap berada di kosan barunya bersama Dewi dan juga Lia, sedangkan Danu telah berangkat bekerja sedari jam 10 pagi tadi.
Mereka hanya mengobrol santai sambil ditemani beberapa cemilan yang Alea bawa dari kotanya.
Alea banyak bertanya mengenai kampung di sana. Rupanya Dewi dan Lia pun tak banyak tahu karena mereka bukan orang asli dusun tersebut, sama seperti Alea yang merantau karena kuliah dan telah tinggal 3 tahun lebih di sana.
Yang Alea dengar dari cerita mereka bahwa kampung itu memiliki banyak sejarah, kurang mengerti juga fakta detailnya seperti apa sebab hanya sedikit yang mereka ketahui dari cerita warga di sana.
Selain itu Alea juga mencari tahu tentang seluk-beluk serta aturan-aturan yang ada di sana. Agak sedikit aneh setelah mendengar cukup banyak peraturan yang baginya itu adalah hal biasa dan lumrah dilakukan oleh semua orang.
Tidak boleh berisik, membuang sampah sembarangan, dan bakar-bakaran. Kecuali jika api itu berasal dari kompor langsung, jika membuat sate atau bakar sampah tidak diizinkan, merokok pun tak boleh.
Selain itu juga tidak diperbolehkan membawa banyak orang ke tempat itu. Dewi dan Lia pun jika ingin berkumpul dengan teman-temannya memilih tempat yang agak jauh dari sana, terkadang hanya membawa satu atau dua orang dan hanya sekadar berkunjung sebentar lalu segera pergi.
Kamar yang sudah ditinggali harus selalu dalam keadaan bersih, jangan dibiarkan kotor ketika ingin pergi.
Dilarang memetik bunga yang ada di sekitar, juga tidak boleh meludah di sembarang tempat.
Jangan keluar di malam hari, lewat jam 9 malam harus sudah menutup pintu, jika sedang berada di luar dan pulang lebih dari jam yang sudah ditentukan harus jalan cepat dengan menunduk dan jangan menoleh ke belakang sedetikpun.
Begitulah kira-kira yang Dewi dan Lia katakan, intinya jika ingin melakukan sesuatu harus berhati-hati dan jika tidak tahu-menahu apa-apa lebih baik bertanya atau meminta izin terlebih dahulu.
Alea menjadi waspada tinggal di sana, banyak peraturan yang menurutnya janggal dan tidak masuk akal. Tapi lebih baik ia menurutinya dan menjaga perbuatannya untuk tidak melakukan hal yang dilarang agar tak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
Sangat berbeda memang dengan kota kelahirannya yang bebas melakukan apapun asal tidak merugikan warga lainnya.
Jam menunjukkan pukul dua belas siang, Alea menyudahi obrolan itu. Waktu Zuhur telah tiba, mereka masuk kamar masing-masing untuk menjalankan perintah agamanya. Selepas sholat Alea baru teringat jika ia belum menghubungi keluarganya di panti asuhan, langsung saja ia mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon yang dituju.
"Assalamualaikum, Ummi." Salam untuk umminya di seberang sana.
__ADS_1
"Wa'alaikumsallam, Nak kamu kemana saja? kenapa baru menghubungi Ummi sekarang? Ummi nungguin kamu telpon dari kemarin loh, akhirnya kakak kamu yang telpon Ummi semalam kasih kabar kalau kamu sudah sampai bahkan sudah tinggal di kos ya?" cecar Ummi Maryam yang khawatir pada anaknya, lantaran ini adalah pertama kalinya Alea tinggal sendiri dan jauh dari keluarga.
"Iya Ummi, Lea minta maaf karena lupa kasih kabar ke Ummi. Alea udah dapat kosannya yang murah dan nyaman, di sini banyak temannya loh Ummi, semua pada ramah sama Alea." Rasa bersalah dalam diri Alea karena lupa memberi kabar pada umminya.
"Iya nggak apa-apa, Nak. Alhamdulillah kalau begitu, Ummi senang dengarnya. Baik-baik ya di kota orang, jangan berbuat macam-macam dan jaga diri, kamu jauh dari Ummi dan Abi, jika ada apa-apa langsung telpon Ummi." Jawab Ummi dengan titah yang harus dipatuhi.
"Baik Ummi, Lea dengar nasihat Ummi, insyaallah Alea akan baik-baik saja." Balas Alea meringankan kekhawatiran sang ummi.
"Tapi kemarin perasaan Ummi kok tiba-tiba nggak enak dan selalu kepikiran kamu, ditambah lagi kamu nggak beri kabar bikin Ummi khawatir, kamu nggak kenapa-kenapa kan, Nak?" ujar Ummi risau.
Perasaan seorang ibu memang benar adanya ketika memikirkan anaknya. Walaupun bukan seorang ibu kandung, tetapi batinnya telah menjadi satu semenjak Alea berada dalam dekapannya, dirawat dengan penuh kasih dan sayang.
Kemarin hari pertama Alea menginjakkan kakinya di kota Marubhumi langsung disambut dengan demam tinggi yang disebabkan cuaca dingin di kota tersebut.
Mungkin karena hal itu yang membuat perasaan ummi merasa cemas memikirkan Alea yang berada jauh darinya.
"Lea nggak apa-apa, Ummi. Mungkin Ummi terlalu memikirkan Alea dan masih belum rela melepas Alea untuk tinggal jauh dari Ummi dan Abi. Alea mohon jangan cemaskan Alea lagi ya Ummi, ada Kak Ali yang jaga Alea di sini. Dan maaf jika membuat Ummi khawatir, insyaallah nggak akan Lea ulangi lagi." Tutur Alea tak ingin membuat umminya semakin resah karenanya.
"Iya Ummi, Alea bisa kuliah dan mendapatkan beasiswa pun atas ridho Allah. Alea akan ingat selalu pesan-pesan Ummi." Kata Alea yang membuat Ummi bahagia.
"Alhamdulillah Ummi diberkahi anak yang Sholeh dan Sholehah." Ucap Ummi senang, raut wajahnya selalu nampak tersenyum tiap kali mendengar sang anak selalu menurut padanya.
"Itu karena Ummi dan Abi yang mengajarkan kepada kami, terima kasih ya Ummi. Oh ya Abi tidak ada di rumah, Ummi?" ujar Alea.
"Abi belum pulang dari masjid dan anak-anak lagi pada tidur siang." Kata Ummi.
"Oh pantas sepi, padahal Lea udah kangen dengan mereka, pingin ngobrol." Alea sangat dekat dengan adik-adiknya, meskipun baru satu hari berpisah kerinduan itu sudah jelas adanya.
"Mereka baru saja tidur, Ummi nggak tega banguninnya. Nanti kalau mereka sudah bangun Ummi kasih tahu, makanya kamu harus sering-sering telpon Ummi ya, Nak." Ucap Ummi berharap.
__ADS_1
"Iya Ummi, insyaallah Alea akan selalu mengabari Ummi." Jawab Alea.
"Ya sudah Ummi tutup telponnya ya, baik-baik di sana." Kata Ummi.
"Ummi juga sehat-sehat ya, jangan terlalu mengkhawatirkan Alea, doakan saja semuanya baik dan kuliah Alea berjalan lancar hingga lulus, aamiin." Tutur Alea juga berdoa untuk dirinya sendiri.
"Aamiin, semangat mengejar mimpimu, Nak, agar menjadi orang sukses." Doa Ummi yang tak pernah berhenti untuk kebaikan anaknya.
"Baik Ummi, insyaallah Alea bisa." Tekad Alea.
"Assalamualaikum." Salam pamit Ummi.
"Wa'alaikumsallam, Ummi." Jawab Alea sebelum panggilan benar-benar terputus.
Setelah itu ia hanya berdiam menatap ponselnya, bingung ingin melakukan apa akhirnya menjelajah ke dunia maya, melihat-lihat berita terbaru.
Ada kasus pembunuhan di sebuah hotel yang belum diketahui siapa pelakunya. Korban seorang pria tertusuk pisau di bagian jantung dan sayatan yang begitu dalam di lengannya, juga ada bekas cekikan di leher.
Para polisi sudah mencari tahu dengan melacak sidik jari, tetapi sepertinya pelaku memang sudah merencanakan pembunuhan tersebut hingga tidak ada jejak atau barang bukti apapun.
Alea terus membaca berita tersebut dengan penasaran, sebab dari awal melihat judul beritanya sudah membuatnya menarik. Lokasinya berada di Aosmhor, tentu saja Alea mengetahui nama dusun itu, tempat dimana sang kakak telah menetap lama di sana, dan tidak jauh juga dari tempat tinggalnya saat ini.
Dari artikel itu dijelaskan bahwa sudah ada 3 korban pembunuhan di hotel tersebut selama sebulan ini. Pihak hotel merasa dirugikan dengan orang yang disebut pelaku itu, sebab kini hotel tersebut harus ditutup sementara selama kasus penyelidikan berlanjut.
Bersambung...
Maaf baru UPšš¼ Vi abis hibernasiš£
Jangan bosen nungguin ya, plis಄_಄
__ADS_1
Insyaallah setelah ini rajin UPš