Misteri Kampung Mati

Misteri Kampung Mati
Episode 6 - Merah Delima?


__ADS_3

Ketika Alea pingsan, alam bawah sadarnya tengah berada di hamparan luas tanah yang kosong. Semuanya gelap, tak ada setitik cahaya pun, ia berkeliling mencari jalan keluar tetapi tempat itu tak ada ujungnya dan kegelapan itu membuatnya tak bisa melihat sempurna.


Hanya gumpalan-gumpalan asap yang mampu ia lihat. Asap itu semakin mengepul hingga membuat Alea terbatuk-batuk, tenggorokannya seakan tercekat.


Ia sendiri, tak ada siapapun di sekitarnya. Takut? itu yang sedang dirasakannya kini, Alea berteriak memanggil nama sang kakak, abi hingga umminya, tetapi tak ada yang menyahut.


Alea terus berlari ketakutan, ia terus memutari mencari jalan hingga akhirnya menyerah. Sedang tersesat di manakah dia? sendiri dan tak tahu arah jalan pulang.


Akhirnya hanya mampu menangis, berharap ia bisa kembali. Memikirkan Kak Ali saat ini pasti tengah khawatir dengannya. Hingga suara itu Alea dengar,


Dek, bangun!!


Sadarlah..


Jangan buat Kakak khawatir.


Suara yang sangat Alea kenali, sang kakak memanggilnya dengan lirih dan seperti menahan tangis. Kak Ali mencarinya, sedangkan ia tak tahu berada di mana, bagaimana ia bisa kembali?


"Kaaakk!!! Kak Ali di mana? Tolong, Alea tersesat di sini!" teriaknya menyahut panggilan sang kakak, tetapi seketika tempat itu mendadak hening.


"Kakak, bawa Alea kembali pulang, hiks hiks." Tangis Alea luruh, ia benar-benar takut.


Hingga angin kencang menghampirinya bersama kabut asap yang semakin tebal.


Hahahahaa


Menetaplah di sini hingga aku berhasil mengambil jiwamu!


Setelah ribuan purnama aku mencarimu, akhirnya kau datang dengan sendirinya.


Hahahahaa


Merah Delima! aku mendapatkanmu.


Hahahahahaa


Hahahahahaa


Hahahahahaa


Suara tawa diawal begitu menggema hingga Alea terkejut. Siapa yang berbicara? Alea tak tahu itu. Tetapi kalimat yang diucapkannya membuat Alea bingung, dengan siapa sosok itu berbicara? apakah ucapan itu tertuju untuk dirinya?


Merah Delima? siapakah itu?


Alea mencari asal suara tersebut yang masih tertawa begitu menyeramkan hingga ia bergidik ngeri. Dirinya ketakutan, harus kepada siapakah ia meminta tolong?Tapi perlahan tawa itu menjadi pelan dan menghilang, juga kabut asap yang sedikit demi sedikit memudar.


Dirinya masih menangis terisak-isak, badannya sudah lemas. Ia pasrah dan hanya mampu berdoa agar takdir bisa membuatnya kembali.


Bibirnya melantunkan doa dan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang telah ia hapalkan, lalu berdzikir menggunakan jari-jari tangannya.


Jiwanya terbawa hingga ke dunia nyata.


Deg


Tubuh Alea sedikit tersentak kaget hingga membuka kedua matanya. Ia telah tersadar dengan kondisi badan yang masih menggigil.

__ADS_1


"Alea, Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga, Dek!" pekik Ali berucap syukur ketika sang adik telah membuka matanya.


Ali memeluk tubuh Alea yang masih berbaring dengan tatapan bingung.


"Dek, kamu tidak apa-apa? apakah ada yang sakit?" tanya Ali sambil memeriksa suhu tubuh Alea yang masih panas dingin.


Danu yang sedari tadi memperhatikan kekhawatiran Ali juga berucap syukur melihat Alea telah sadar kembali. Ia merasa kagum pada Ali yang amat sangat menyayangi adiknya. Bahkan sedari tadi Ali menahan air matanya agar tidak keluar.


"Aku kenapa, Kak?" tanya Alea bingung.


"Kamu tadi pingsan, Dek." Ali menjawab sambil membantu Alea yang hendak bangun. "Lagipula kenapa tiba-tiba bisa pingsan? apa kamu sedang sakit?" tanyanya.


Alea menggeleng tidak ingat apapun. "Aku tidak tahu, Kak." Jawabnya.


Ali menghembuskan napasnya kasar, ia begitu khawatir melihat Alea seperti ini. Ada rasa sakit di ulu hatinya karena takut Alea kenapa-kenapa.


"Kak Ali, ini air hangat dan handuknya." Ucap Lia yang baru datang bersama Dewi tapi sedetik kemudian langsung terkejut kala memasuki kamar itu.


"Alea?" pekiknya ketika melihat Alea telah sadar.


"Kamu sudah sadar?" lanjut Lia langsung masuk untuk mengecek kondisi Alea.


Alea membalas dengan tersenyum dan mengangguk.


"Huft syukurlah, aku khawatir tadi karena badanmu panas dingin menggigil gitu, sekarang biar aku kompres ya agar cepat normal kembali. Wi, sini handuknya!" kata Lia sambil mengambil handuk di tangan Dewi.


"Alea, kamu sedang sakit kah?" tanya Dewi penasaran saat melihat wajah Alea pucat memerah dan tubuhnya terbungkus selimut.


"Alea tidak merasa sakit, Mbak. Bahkan sebelum ini tubuhku sangat sehat." Alea berucap lemah.


"Coba rendam tanganmu di air hangat ini agar dinginnya menghilang." Saran Dewi membantu mencelupkan tangan Alea di baskom yang berisi air hangat tersebut.


"Terima kasih kalian sudah perhatian sama Lea." Tutur Ali, lagi-lagi bersyukur Alea mendapat teman baik dan perhatian, ia jadi sedikit tenang jika berjauhan dengan Alea nanti.


"Kak Ali tenang saja, kita sesama manusia harus saling membantu." Balas Dewi dan Lia mengangguk setuju.


"Terima kasih Mbak Lia, Mbak Dewi." Ucap Alea senang, perlakuan baik mereka mengingatkan Alea pada kakak perempuannya di panti asuhan.


"Sama-sama, Alea." Ucap Lia dan Dewi berbarengan.


"Dewi, Lia, sebaiknya kita keluar, biarkan Alea istirahat dulu." Celetuk Danu yang sedari tadi diam saja.


"Emm kamu siapa?" tanya Alea baru sadar jika ada lelaki yang tidak dikenalnya duduk dekat dengan Ali.


"Saya Danu, tinggal di kos ini juga, kamar saya yang di depan sana." Jawab Danu sembari menunjuk kamarnya.


"Oh ya, salam kenal Kak Danu." Balas Alea membuat lawan bicaranya terkekeh.


"Hahaha, dia lebih suka dipanggil Bang Danu, Alea." Sahut Dewi.


"Ohh maaf Alea tidak tahu." Ujar Alea menatap Danu.


"Tidak apa-apa, Alea." Jawab Danu tersenyum.


"Sekarang jam berapa ya?" tanya Alea pada semua.

__ADS_1


"Jam 3 lebih, kenapa?" Lia menjawab.


"Alea belum sholat Zuhur, sebentar lagi akan Ashar." Ucap Alea, bagaimanapun keadaannya ia tetap harus menjalankan lima waktunya.


"Kakak juga belum, kamu duluan saja, kami akan keluar." Kata Ali.


Meraka keluar meninggalkan Alea sendiri di dalam. Kemudian Alea segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


"Astaga!!" pekik Alea hampir terjungkal ke belakang saat membuka pintu kamar mandi.


Jejak kaki siapa ini?


Langkah Alea yang ingin memasuki kamar mandi terhenti kala melihat jejak kaki berlumuran tanah basah, jejak itu berakhir di ujung tembok.


Alea bingung dengan jejak kaki tersebut yang cukup besar dan seakan berjalan ke dinding.


Apa mungkin Kak Ali atau Bang Danu? tapi mengapa hanya sebatas kamar mandi dan tidak dibersihkan pula.


Tak ingin banyak pikir dan berlama-lama, Alea langsung menyirami jejak itu hingga menghilang, lalu ia segera berwudhu dan sholat.


Sedangkan di depan, yang lain tengah mengobrol dengan duduk lesehan di teras.


"Danu, sebenernya saya agak risih dengan kembang melati di sini. Apa tidak bisa dipindahkan sebagian atau diganti dengan berbagai macam tanaman yang lain, kenapa harus melati semua?" tutur Ali mengutarakan rasa penasarannya.


"Sutt! jangan kamu apa-apakan kembang melati itu, Al! beritahu juga adikmu agar tidak perlu mengurusi bunga itu, karena biasanya Nyai Gendis akan memetiknya setiap sebulan sekali." Jawab Danu penuh peringatan.


"Memangnya untuk apa bunga sebanyak ini?" Ali bertanya lagi.


"Sudah tidak perlu bertanya, Kak Ali! takut Nyai marah, dia paling tidak suka jika ditanya mengenai hal pribadinya." Sahut Lia agar Ali tidak bertanya lebih jauh.


"Oh ya kamu asal mana, Al?" Danu mengalihkan pembicaraan.


"Asal Osi Bhinna, tapi sudah lama tinggal di Aosmhor." Jawab Ali.


Kampung Aosmhor, tempat yang Ali tinggali saat ini, berseberangan dengan Nekro Chorio.


"Aosmhor? tidak jauh juga ya, emm tapi harus melewati jembatan itu." Tutur Danu pelan.


"Kenapa adikmu tidak tinggal bareng denganmu?" lanjutnya.


"Biarkanlah, dia ingin mencoba mandiri dan lagipula dia akan kuliah di Universitas Luzea, jaraknya lebih dekat dari sini." Kata Ali.


"Loh kami juga kuliah di kampus itu, ternyata Alea salah satu maba di sana ya." Celetuk Dewi.


"Oh ya? kebetulan banget dong, kalau begitu tolong bimbing Alea ya sebab dia sama sekali belum tahu seluk-beluk kampus tersebut, jadi jika adik saya sedang kesulitan dan bertanya mengenai kampus mohon bantuannya bila tidak keberatan." Ali memohon pada dua gadis itu.


"Jujur saya sedikit khawatir membawa Alea tinggal di sini sendiri, bagaimanapun saya tidak bisa selalu berada di dekatnya. Adik saya baru saja merantau dari kota yang lumayan jauh, jika ada apa-apa dengannya maka saya yang harus bertanggung jawab. Meninggalkan dia sendirian di sini membuat saya cemas, apalagi dia belum terbiasa dengan suasana lingkungannya dan baru akan belajar beradaptasi." Tambahnya.


"Kak Ali tenang saja, kami akan menjaga Alea di sini." Jawab Lia dan Dewi menyetujuinya.


"Berikan nomor ponselmu, Al! jika memang ada apa-apa aku akan segera menghubungimu." Ujar Danu seraya menyerahkan ponselnya.


Ali menerima dan mengetikkan nomornya lalu menyerahkan ponsel itu kembali.


"Ya terima kasih untuk kalian semua." Ucapnya tulus dan dibalas dengan senyuman.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2