Misteri Kampung Mati

Misteri Kampung Mati
Episode 4 - Bisikan


__ADS_3

Ketiga orang itu melewati gang kecil yang terdapat plang bertuliskan kos putra dan putri, gang itu hanya memiliki lebar satu meter berada di sebelah rumah Nyai Gendis. Jalan itu sedikit menurun dan becek, daun-daun kering serta ranting-ranting kecil berceceran di mana-mana, tembok kiri dan kanannya terlihat penuh dengan coretan, banyak bagian yang keropos dan retak, juga cat yang telah mengelupas akibat sering terjadinya hujan.


Ali berjalan di belakang dua wanita yang sedang asik berbincang di hadapannya itu, ah ralat satunya gadis.


Dengan menggeret koper Alea, karena memang sebaiknya dibawa langsung, jika ditinggal diam nangkring di atas motor tak ada jaminan akan aman. Ya walaupun isinya hanya berupa pakaian, tetap saja tidak dibiarkan ditinggalkan begitu saja tanpa ada yang jaga.


Ali kakak idaman bukan? begitu perhatian pada adiknya sampai tidak membiarkannya kelelahan atau membuat tangannya pegal karena membawa beban berat. Status Alea hanya adik tiri, tapi rasa sayangnya begitu besar dan bentuk perhatiannya hanya dia tahu.


Setelah belok kiri barulah sampai di depan kos-kosan berlantai dua yang berjejer dan berhadapan, terdapat 12 kamar kos, enam kamar di sebelah kiri dengan masing-masing tiga kamar di lantai bawah dan lantai atas, begitu juga dengan sebelah kanannya. Tangga berada di paling ujung, setelahnya hanya ada tembok pembatas, tak ada jalan lagi. Ya setelah memasuki gang kecil tadi, inilah jalan buntunya berakhir di sebuah kos-kosan.


Lebih kecil dari kosannya Ali, tapi kelihatannya nyaman. Pintu dan jendela berwarna coklat, sedangkan temboknya putih. Beberapa kamar yang belum ditempati sedikit berdebu, banyak sarang laba-laba di bagian langit-langit, serta terasnya terlihat kotor.


Beberapa meter sebelum sampai di kos tadi sudah tercium aroma bunga melati yang menyeruak hingga ke rongga hidung. Dan benar saja ternyata di depan teras tersebut dipenuhi dengan tanaman bunga melati, karena saking banyaknya aroma itu benar-benar terendus sangat tajam.


Anehnya di sini hanya dipenuhi dengan bunga melati, sedangkan di halaman rumah Nyai Gendis, Alea melihat beberapa macam bunga, seperti mawar merah, mawar putih, juga sedap malam. Tidak hanya Alea, sebenarnya Ali pun sedikit risih dengan kembang melati yang berlebihan seperti itu.


Mereka baru melihat-lihat kondisi luarnya, Alea sedikit ragu untuk tinggal di sini seorang diri. Segera ia tepis pikiran-pikiran negatifnya, sebab saat ini ia sangat membutuhkan tempat tinggal.


Suara motor terdengar nyaring dari arah gang memasuki halaman kos tersebut. Dua orang gadis berpakaian kasual turun dari motornya setelah mesin motor tersebut mati. Mereka terlihat seperti anak kuliahan dengan menenteng tas juga memakai sepatu sneaker.


"Siang, Nyai." Sapa salah satu dari mereka pada Nyai Gendis.


"Siang juga, Dewi, Lia. Kalian baru pulang kuliah?" balas Nyai Gendis basa-basi.


"Kuliah sedang libur, Nyai. Tadi kami hanya bermain di rumah teman." Jawab Lia, gadis rambut pendek sebahu.


"Mereka siapa, Nyai?" kali ini Dewi bertanya, ia akan sangat antusias jika ada penghuni baru di kosan itu.


"Kenalin ini Alea dan kakaknya, Ali. Alea ini anak rantau yang rencananya akan ngekos di sini." Ucap Nyai Gendis pada Dewi dan Lia.


"Oh ya Alea, ini ada Dewi dan Lia yang tinggal di kos ini juga, kalian bisa berteman dan saling membantu jika ada yang membutuhkan nanti." Tuturnya kembali pada Alea.


Alea mengulurkan tangannya sembari berkenalan. "Alea, mbak. Dan ini kakakku, Ali." Sapanya tersenyum ramah.


Mereka menyambut antusias, senang mendapatkan teman baru satu kos, apalagi terlihat usianya yang sepertinya tak selisih jauh.


"Selamat datang, Alea. Semoga betah ya." Ucap Lia.


"Apa cuma kamu yang akan tinggal di sini, Alea? Kak Ali tidak ikut kah?" tanya Dewi.


Baru saja Ali akan menjawab, suara Alea menghentikannya.

__ADS_1


"Tidak, mbak. Lea ingin mencoba untuk mandiri." ucapnya seraya tersenyum.


"Ohh itu bagus, kamu cukup berpikir dewasa ternyata." Sambung Dewi.


"Nanti kita sambung lagi ya ngobrolnya, kami harus membersihkan diri dulu nih." Kata Lia.


"Eh, iya mbak silakan." Ujar Alea membiarkan mereka pamit ke kamarnya yang berada di lantai atas.


"Mari Alea, kita melihat kamar yang telah saya bersihkan." Ajak Nyai Gendis ke salah satu kamar di lantai bawah.


Jika kamar Dewi berada di pojok dekat tangga dan Lia bersebelahan dengan Dewi atau berada di tengah-tengah di lantai atas. Berbeda dengan Alea yang berada di bawah dan paling depan berhadapan dengan gang sempit dan gelap. Karena memang di gang itu tidak ada pencahayaan, lampu hanya ada di kos-kosan saja.


Melihat kamar yang sudah bersih dan layak dipakai membuat Alea ingin cepat-cepat menempatinya. Kamar ini hanya terdiri dua petak, kecil tapi cukup untuk Alea seorang, wajar saja jika harganya terbilang murah.


"Bagaimana dengan ruangannya, Lea? bersih dan nyaman bukan?" tanya Nyai Gendis.


"Iya, Nyai. Sepertinya saya akan betah di sini." Jawab Alea sambil menelisik ke setiap penjuru ruangan.


"Mari lihat dapur dan kamar mandinya." Nyai Gendis berjalan lebih dulu di depan, Alea dan Ali mengekor di belakangnya.


Dapur dan kamar mandi yang saling berbagi ruang, satu petak menjadi dua tempat, jadilah lumayan sempit.


pergiii~


pergiii~


Mungkin di kamar sebelah sedang mengobrol dengan seseorang. Lirihnya dalam hati.


"Bagaimana, dek? menurut Kakak lumayan nyaman tempatnya, apa mau langsung kamu tempati? kalau iya, Kakak akan bantu membereskan barang-barangmu." Suara Ali menyadarkan Alea dari lamunannya.


"Ah iya Kak, sekalian nanti beli keperluan kos ya, aku tidak membawa banyak barang." Kata Alea.


"Tidak membawa banyak barang apanya? lihatlah koper travel jumbo yang kamu bawa." Ali terkekeh menatap koper itu yang belom tahu apa saja isi di dalamnya.


"Ish! maksudnya barang yang tidak mungkin bisa aku bawa, seperti lemari dan kasur." Sungut Alea.


"Oke baiklah adik manis, apapun untukmu." Ucap Ali sambil mengusap lembut kepala sang adik.


"Jadi kamu sudah cocok dengan kamar ini, Lea?" tanya Nyai Gendis memastikan jika Alea akan benar-benar menempati kamar itu.


"Iya Nyai, saya langsung saja taruh barang-barang saya di sini, boleh?" Alea sedikit antusias untuk memiliki tempat tinggal baru, apalagi memiliki tetangga kos yang ramah seperti Dewi dan Lia. Tetapi entah mengapa ada keraguan dalam hatinya.

__ADS_1


Nyai Gendis tersenyum senang ketika Alea akan menepati kamar itu.


Dan Alea pun berpikir jika Nyai Gendis sangat ramah senyum, dilihat jika wanita itu selalu tersenyum ketika berbicara dengannya.


Nyai Gendis mengangguk. "Boleh, asal bayar uang muka dulu, ya." Jawabnya.


"Berapa, Nyai?" tanya Alea sembari menarik tasnya.


"250 ribu per bulan dan uang mukanya 100 ribu." Murah memang, sesuai tempat dan lingkungannya.


Alea membuka tas selempangnya dan mengeluarkan uang yang ada di dompetnya.


"Ini uangnya, Nyai." Bukan Alea, tapi Ali yang lebih dulu memberikan dua lembar uang kepada Nyai Gendis.


"Kenapa Kakak yang membayarnya?" tanyanya kurang suka.


"Untuk sekarang biar Kakak yang bayar, nanti kamu boleh melunasi DP itu." Jawab Ali menatap Alea.


"Biar Lea saja, Kak, aku ada kok uangnya." Balas Alea tak terima, ia merasa tak enak hati jika sang kakak yang membayarnya.


"Simpan saja, Dek. Kamu kan belum bekerja, diirit-irit dulu ya sampai dapat pekerjaan." Kata Ali sambil membujuk agar Alea membiarkan dirinya untuk membantu membayar uang sewa kamar tersebut.


Alea membenarkan perkataan Ali, memang benar dia akan mencari pekerjaan setelah ini agar tidak bergantung pada orang tua dan kakaknya lagi.


Ali telah membantu mencarikannya pekerjaan sebelumnya, tetapi belum menemukan pekerjaan apapun yang sedang membutuhkan karyawan. Mungkin nanti ia akan mencarinya lagi bersama Alea.


"Baiklah, terima kasih, Kak Ali. Jika nanti Lea telah bekerja akan aku ganti uangnya." Ujarnya tersenyum pada Ali.


"Tidak perlu, Lea! kamu jangan menganggap Kakak ini orang lain, sebab ini termasuk tanggung jawab Kakak."


"Tapi kan.." Alea ingin membantah tapi mulutnya langsung dibungkam oleh titah sang kakak yang harus dituruti.


"Jangan membantah, Dek." Titahnya.


Nyai Gendis lagi-lagi tersenyum melihatnya, sepertinya kali ini senyuman itu ditujukan kepada Ali yang begitu perhatian kepada adiknya.


PERGI KALIAN!!!


Deg


Bersambung...

__ADS_1


Author harap kalian tidak jadi silent readers🙏🏻😉


Mohon dukung karya baruku ini, like, comment, gift, and vote🤗 terimakasih.


__ADS_2