Misteri Kampung Mati

Misteri Kampung Mati
Episode 5 - Pingsan


__ADS_3

Ketika sudah mendapatkan uang mukanya tadi Nyai Gendis kembali ke rumahnya setelah memberikan kunci kamar kos tersebut. Alea menerimanya juga mengantarkan Nyai Gendis hingga depan pintu kamar, begitu juga dengan Ali.


Kini tinggal mereka berdua, Ali berniat membantu apapun yang Alea butuhkan untuk seharian penuh ini.


PERGI KALIAN!!!


Deg


Teriakan bernada marah dan seakan penuh ancaman itu membuat Alea kaget bukan main, pasalnya begitu terdengar jelas di telinganya seakan itu sebuah peringatan dan perintah untuknya agar segera pergi.


Jika tadi Alea mendengar suara bisikan pelan dan samar, kini suara itu sangat nyaring memekakkan telinganya.


'Pergilah Cah Ayu, di sini bukan tempatmu.'


Kini berganti dengan suara wanita yang lembut, suara itu seperti memohon kepada dirinya agar tak berada di tempat ini.


Hahahahah..


Hahahahah..


Hahahahah..


Suara tawa pria dewasa menggema di sekelilingnya, Alea merasakan tubuhnya seperti sedang dikitari hingga membuatnya sesak napas. Bahkan hidungnya mencium bau amis yang sangat menyengat mengalahkan aroma wangi bunga melati yang ada di sekelilingnya.


Tubuhnya lemas tak kuat menghirup bau yang tak sedap itu, mulutnya menahan mual ditutup dengan tangannya, dadanya sudah naik turun dengan napas yang memburu dan tangannya memijit kepalanya yang pening. Pandangannya sudah mulai kabur hingga...


Bruk


"Astaga, Dek!" pekik Ali yang syok melihat Alea ambruk di lantai teras.


"Dek, bangun! muka kamu kenapa bisa pucat begini, yaampun kamu pingsan, Lea?!!" monolog Ali dengan nada khawatir.


Dilihat wajah Alea yang sedikit memerah dan bibirnya pucat. Ali menggoncangkan tubuhnya juga menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas, sedangkan ketika ia menggenggam telapak tangannya terasa begitu dingin.


Langsung saja Ali mengangkat tubuh Alea dan membawanya ke dalam. Ketika tubuh itu sudah direbahkan, ia membuka koper Alea dan mencari selimut tebal di dalamnya, dengan segera menutup tubuh sang adik dengan selimut itu hingga menyisakan kepalanya saja.


Ali duduk mendampingi Alea sambil menggenggam erat tangannya, memberikan sentuhan-sentuhan hangat berharap suhu tubuhnya bisa normal kembali.


Dibenarkannya hijab yang sedikit teracak, lalu mengusap kening hingga pipi yang semakin bertambah panas. Sorot mata Ali menatap penuh kekhawatiran, ia bingung harus apa untuk membuat adiknya kembali sadar. Ingin mengompres dengan air hangat, tapi belum ada alat yang bisa digunakan untuk memasak air.

__ADS_1


Tak terasa buliran bening jatuh di pipinya, ia tak sanggup melihat adiknya sakit, ia pun tak tahu mengapa sang adik bisa seperti ini sedangkan sedari tadi yang ia lihat Alea begitu semangat dan antusias untuk tinggal di tempat ini. Wajahnya selalu terlihat tersenyum senang hingga ia tak menyadari apa yang sedang Alea rasakan. Dirinya pun merasa gagal menjaga Alea di kota ini seperti yang dipesankan oleh Abi dan Umminya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu menyadarkan Ali, dengan segera ia menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya kemudian beranjak membuka pintu.


"Maaf, kedatangan saya ke sini karena mendengar suara gaduh di luar tadi. Apa terjadi sesuatu di kamar ini?" tanya seorang pria yang berbadan tinggi yang sepertinya seumuran dengan Ali.


"Saya minta maaf jika mengganggu ketenangannya, Mas. Adik saya jatuh dan pingsan di teras tadi, hingga saat ini masih belum sadar." Lirih Ali.


"Tidak apa-apa, Bang. Tidak menggangu sama sekali, saya pun sedang santai tadi. Oh ya panggil saya Danu saja tanpa embel-embel mas." Tutur pria bernama Danu itu. "Adikmu masih belum sadar? dioleskan dengan minyak angin saja, Bang, agar cepat sadar." Sarannya.


"Panggil saya Ali, Danu." Balas Ali yang juga ingin dipanggil nama saja. "Kami baru saja datang ke sini dan tidak kepikiran sama sekali untuk membawa minyak angin. Apa kamu punya? kalau boleh saya ingin memintanya sedikit agar adik saya bisa sadar kembali." Pintanya.


"Ada, sebentar saya ambil dulu." Ujar Danu kemudian melangkah menuju kamarnya yang berhadapan dengan kamar Alea.


Ali kembali ke dalam mengecek keadaan adiknya dan membiarkan pintu dibuka lebar agar Danu bisa langsung masuk.


Ia mengusap-usapkan tangan Alea untuk meredakan rasa dinginnya, matanya menatap sayu berharap Alea segera sadar.


"Boleh masuk, Al?" suara Danu membuat Ali menoleh kepada pria itu yang berdiri di ambang pintu.


"Nih minyak anginnya, coba oleskan di kening dan area hidung." Ucap Danu memberikan sebotol minyak angin.


"Terima kasih, semoga saja bisa cepat sadar." Ali menerima botol itu dan langsung membukanya.


Ia mengoleskan sedikit demi sedikit di dahi sang adik sembari memijitnya perlahan, lalu beralih ke hidung, Ali memberikan sapuan dengan ibu jari dan jari telunjuknya di depan hidung Alea, dibiarkan sejenak agar Alea dapat menghirup aromaterapi dari minyak angin tersebut.


"Kenapa masih belum sadar juga, Danu?" tanya Ali tanpa beralih menatap Alea.


"Coba pijit jari-jari tangan dan kakinya." Saran Danu, ia kasihan melihat wajah gadis di hadapannya yang sedikit memerah itu.


Ali langsung melakukannya, ia menyibakkan sedikit selimutnya untuk mengambil tangan Alea dan memberikan pijatan lembut pada telapak tangan gadis itu terutama jari-jarinya, bergantian antara tangan kiri dan kanan.


"Assalamualaikum, Kak Ali, Bang Danu, sedang apa ini?" tanya Lia yang sehabis buang sampah tadi melihat pintu kamar yang baru ditempati Alea terbuka lebar, karena penasaran ia pun mendekati kamar tersebut yang ternyata dua orang pria sedang duduk menatap perempuan yang tengah berbaring.


"Wa'alaikumsallam." Jawab Ali dan Danu bersamaan.


Ali hanya menoleh sekilas tanpa menjawab lagi, kemudian melanjutkan kembali melakukan apa saja pada Alea agar adiknya segera sadar.

__ADS_1


"Neng Lia, ini adiknya Ali pingsan." Danu menjawab.


"Apa?! pingsan?" pekik Lia terkejut.


"Boleh Lia masuk?" izinnya ingin melihat keadaan Alea.


"Masuk saja." Kata Ali pelan, walaupun ia sedikit khawatir takut sang adik sesak lantaran banyak orang di sekitarnya.


Ali sedikit bergeser ketika Lia ingin mengecek keadaan adiknya.


"Kenapa Alea bisa pingsan?" tanya Lia sambil menyentuh kening Alea yang masih terasa panas.


"Saya tidak tahu, dia ambruk begitu saja di depan teras." Jawab Ali setahunya.


"Wajahnya panas tapi badannya menggigil, Lia akan masak air hangat dulu untuk mengompresnya." Ucap Lia langsung berdiri meninggalkan kamar itu.


Di lantai dua, Lia langsung masuk kamarnya menuju dapur dan membuat air hangatnya. Selagi air itu dimasak ia keluar menuju kamar temannya, Dewi.


"Wi, kamu ada handuk kecil bersih gak?" tanyanya pada Dewi yang kini menatapnya bingung.


"Handuk kecil untuk apa, Li?" Dewi bertanya balik melihat wajah Lia yang tak biasa.


"Buat ngompres Alea, dia pingsan, Wi." Jawab Lia cepat.


"Hah! pingsan kenapa, Li?" Dewi pun kaget, lupa Lia tengah buru-buru membutuhkan benda itu.


"Duh, nanti saja tanyanya, aku belum matiin kompor nih, kamu punya handuk kecil gak?" ujar Lia tak sabaran.


"Sepertinya ada, sebentar deh." Dewi mencari handuk itu di lemarinya.


"Kamu cari saja dulu handuknya, aku mau matiin kompor." Ucap Lia langsung pergi tanpa mendengar sahutan Dewi.


Lia menuangkan air panas ke baskom dan sedikit dicampur dengan air dingin agar berubah menjadi hangat. Setelahnya ia segera keluar, Dewi sudah menunggunya di depan pintu. Bersamaan menuju kamar Alea.


"Kak Ali, ini air hangat dan handuknya." Ucap Lia tapi sedetik kemudian langsung terkejut kala memasuki kamar itu.


"Alea?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2