
Masih dalam perjalanan menuju kampung seberang, keduanya duduk nyaman di atas motor sambil diselingi dengan obrolan ringan.
Angin sepoi-sepoi menyentuh hingga ke pori-pori kulit, padahal saat ini tengah siang hari yang seharusnya merasakan panas dari teriknya sinar matahari. Mungkin karena banyaknya pepohonan membuat kota itu menjadi sejuk.
Tetapi yang membuat kurang nyaman di sini ialah sedikitnya penerangan dikarenakan cahaya dari matahari terhalang oleh pohon-pohon yang rindang. Alea merasa kota ini rada gelap dibanding kampung halamannya, yaitu Osi Bhinna.
"Bagaimana keadaan ketika malam hari ya? lampu jalan pun hanya sedikit." Batinnya.
"Apa Kak Ali nyaman tinggal di sini?" tanya Alea.
Ali sedikit menoleh melirik spion yang memperlihatkan wajah Alea di belakangnya. "Tentu saja, untuk apa kakak tinggal bertahun-tahun di sini jika tidak nyaman." Jawabnya.
Alea mengangguk. "Hmm, tapi di sini sejuk ya, tidak seperti kota asal kita yang panasnya sangat terik ketika siang hari membuat tubuh selalu merasa gerah."
Osi Bhinna adalah kota terpencil yang mana penduduknya saling berdekatan bahkan rumah satu dengan yang lainnya berdempetan. Untuk pepohonan sangat normal, tidak seperti Marubhumi ini. Hal itu membuat daerah tersebut terkena sinar matahari langsung. Jika membandingkan suhu diantaranya mungkin selisih 15 derajat Celsius.
"Pasti malam harinya sangat dingin?" lanjutnya.
"Ya begitulah, tidur tidak perlu menggunakan kipas angin lagi, hemat bukan?" sahut Ali sambil terkekeh.
Motor terus melaju menyusuri jalan yang cukup sepi, hingga sebuah jembatan beraspal luas dan panjang sudah berada di depan mata.
Alea yang melihat itu sedikit merasa takut, pasalnya jembatan itu benar-benar gelap dan diapit oleh dua pohon beringin besar di sisi kiri dan kanannya.
Ketika sudah memasukinya, gadis itu sempat melihat sebuah papan tua yang usang dan cukup besar yang menempel di bagian kanan sisi jalan dengan bertuliskan:
...kalós írthes sto...
...Nekró Chorió...
"Selamat Datang di Kampung Mati ?"
Bahasa yang dimengerti oleh Alea itu mampu membuatnya mengeryit heran dan bingung dengan nama dusun yang tertulis di papan tersebut. Kenapa harus dinamai kampung mati? pikirnya. Ditambah lagi tulisan itu berwarna merah kental seperti darah yang sudah mengering dan juga penulisannya yang tidak rapi.
Hawa dingin menerjang tubuhnya, entah mengapa tiba-tiba Alea merasa amat sangat merinding. Ia memeluk pinggang sang kakak dengan erat.
Jembatan itu tidak mulus, penuh dengan kubangan dan banyak kerikil hasil dari jalan yang rusak. Menengok ke bawah terdapat kali yang airnya sangat kotor. Jika diukur sepertinya kali itu cukup dalam, terlebih arus air itu sangat deras.
__ADS_1
Tiba saat berada di antara dua pohon beringin, ia merasa telinganya berdenging, angin kencang menyapu wajahnya, daun-daun kering yang berjatuhan beterbangan tak tentu arah. Kedua mata ditutup, Alea semakin merasakan di sekitarnya sangat ramai seakan banyak orang yang berlalu lalang, dan juga suara-suara yang tak terdengar jelas di telinganya, seperti bisikan-bisikan halus yang ia rasa itu tertuju pada dirinya.
Sekujur tubuhnya meremang, sontak ia segera membuka matanya kembali. Alea tersadar bahwa di sini hanya ada dirinya dan Ali, sang kakak yang terus mengendarai sepeda motornya dengan tenang seakan tak merasakan apa-apa. Ia mengamati keadaan sekitar yang baik-baik saja. Tak ada angin kencang ataupun daun-daun yang beterbangan. Semua nampak tenang, hanya saja udara yang masih terasa dingin.
Apa tadi hanya perasannya saja?
"Apa tempatnya masih jauh, Kak?" tanya Alea memecahkan keheningan juga mencoba tenang melawan rasa takutnya.
Ali hanya mengangguk pelan membuat Alea tak puas dengan jawabannya. Ia merasa ketika melewati jembatan ini tiba-tiba sang kakak menjadi mode silent. Tak ada lagi perbincangan antara mereka, karena Ali tetap dalam diamnya yang fokus menatap arah jalan.
Akhirnya setelah beberapa saat tadi merasakan ketegangan, Alea dapat bernapas lega ketika sudah berada jauh dari jembatan yang menyeramkan itu. Bagaimana tidak? Adanya dua pohon beringin besar itulah yang membuat jembatan tersebut menjadi agak seram. Pohon yang dimitoskan berpenunggu atau dihuni oleh makhluk-makhluk gaib, ditambah lagi akar gantungnya yang menjulur dari cabang-cabangnya ke bawah hingga menyentuh dasar. Dan karena saat ini siang hari jadilah tak begitu menyeramkan, tidak tahu bagaimana kondisi ketika malam hari.
Hingga sekitar 300 meter dari jembatan terdapat sebuah rumah besar berlantai dua. Rumah tersebut memiliki halaman luas yang dipenuhi tanaman-tanaman bunga di depannya.
Ali mematikan mesin motor di halaman rumah itu karena memang tidak terdapat pagar, jadi memudahkan dirinya untuk masuk dan memarkirkannya di depan teras.
"Mari turun, Dek." Ajaknya sembari membuka helm.
"Apa ini rumah pemilik kos?" tanya Alea sambil melihat-lihat sekitar.
"Iya, ayo ikuti kakak." Ali berjalan terlebih dahulu menuju pintu rumah tersebut yang tertutup rapat.
Alea sendiri begitu mengagumi sosok di hadapannya, sudah pasti banyak lelaki yang mendambakan wanita ini. Jika dapat Alea tebak umurnya kira-kira kisaran 30 tahun. Begitulah pikiran Alea.
"Permisi, Nyai Gendis." Sapa Ali kepada wanita yang bernama Gendis itu.
Masih muda dipanggil Nyai kah? gumam Alea dalam hati ketika mendengar kakaknya menyapa wanita itu.
"Iya ada apa?" jawab Nyai Gendis dengan senyum ramah dan matanya terus melirik ke arah Alea.
"Saya yang kemarin bertanya perihal kamar kos dan ini adik saya yang berniat menempati kosan tersebut. Jika boleh adik saya akan melihat-lihat terlebih dahulu, apabila cocok mungkin akan langsung ditempatinya." Jelas Ali kepada pemilik kos tersebut.
Nyai Gendis mengangguk. "Tentu saja boleh." Ujarnya.
Ketika Ali sedang menjelaskan maksud dan tujuannya, Alea fokus kepada jendela di lantai atas rumah tersebut. Entah mengapa matanya seperti tertarik untuk melihat ke arah sana, ada sesosok bayangan yang memperhatikannya di balik jendela itu.
Dan semakin jelas kala sosok itu menampakkan diri yang ternyata seorang anak perempuan sedang tersenyum padanya. Tapi sepertinya aneh, senyuman yang tak biasa itu justru membuat Alea takut. Lingkar mata berwarna hitam, bibirnya pucat dan rambutnya pirang. Kepalanya sedikit mendongak ke atas tetapi matanya mengarah ke bawah dan melotot pada Alea.
__ADS_1
Sontak saja tubuh Alea bergetar dan buru-buru ia mengalihkan pandangannya ke bawah.
Nyai Gendis yang sedari tadi memperhatikan Alea langsung saja bertanya, "Kamu kenapa, Nak?" sembari memegang bahu Alea sejenak lalu langsung dilepaskan.
"Emm tidak apa-apa, Nyai." Jawab Alea sedikit gugup.
"Kamu pasti melihat anak saya di atas?" tanya Nyai Gendis lagi memastikan.
"Anak?" Alea balik bertanya seakan ingin tahu lebih.
"Iya, dia anak saya berumur 10 tahun namanya Nina, memang dia selalu mengurung dirinya di dalam kamar dan senang sekali bersandar di balik jendela sambil memperhatikan orang-orang yang berada di depan rumahnya." Kata Nyai Gendis.
Tapi Alea masih penasaran, memangnya apa yang membuat ia selalu mengurung diri? wajah anak itu tidak seperti manusia normal. Ingin menengok kembali ke atas tapi ditahan oleh Nyai Gendis.
"Sudah tidak perlu diperhatikan lagi." Cegah Nyai Gendis.
"Maaf, tapi bukankah seharusnya anak seusianya lebih banyak bermain di luar, kenapa Nina malah mengurung diri, Nyai?" tanya Alea dengan hati-hati, takut akan menyinggung wanita di depannya.
"Nina sangat bahagia walau hanya bermain di kamarnya, karena dia memiliki banyak teman di dalam sana." Tutur Nyai Gendis menjawab pertanyaan Alea dengan santai.
Perkataan Nyai Gendis terlalu ambigu bagi Alea. Banyak teman? kenapa kamar itu terlihat seperti tidak ada kehidupan di dalamnya, dari luar jendela terlihat jelas kamar itu gelap. Lagi pula wilayah ini sangat sepi, maka jika mereka sedang bermain pasti akan terdengar suaranya. Ingin rasanya bertanya lagi, tetapi ia tidak memiliki hak untuk mengetahui kehidupan orang lain, dan juga tidak berniat untuk mengorek atau mencari tahu tentang diri Nyai Gendis maupun anaknya, karena mungkin akan membuat wanita itu merasa tidak nyaman. Alea hanya mengangguk pura-pura paham.
Sedangkan sedari tadi Ali hanya diam saja mendengarkan obrolan kedua wanita di dekatnya itu, dirinya pun dibuat penasaran dan ketika melihat ke arah jendela kamar itu ia tak menemukan siapapun di sana, jendela dan gorden pun tertutup rapat.
"Oh iya, namamu siapa?" Nyai Gendis bertanya sambil terus memamerkan senyum cantiknya.
"Alea, Nyai." Jawab Alea seadanya.
"Jadi kamu yang ingin menyewa kamar kos ya?" Tanyanya lagi.
"Iya betul, Nyai. Bisakah saya melihatnya sekarang?" sejujurnya Alea bingung dengan wanita di hadapannya ini yang terus menelisik dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, apa ada yang salah dengan diriku? pikirnya dalam hati.
"Oh ya sebentar, saya akan mengunci pintu rumah dahulu. Setelah itu kita langsung ke sana, berjalan kaki saja karena kosannya dekat dan berada di belakang rumah saya."
Alea mengangguk setuju, dengan sabar menunggu Nyai Gendis mengunci pintu rumahnya.
"Mari ikuti saya." Ajak Nyai Gendis, dan mereka berjalan menuju tempat kost di belakang rumah besar itu.
__ADS_1
Bersambung...