Misteri Kampung Mati

Misteri Kampung Mati
Episode 2 - Kematian Misterius Pak Amir


__ADS_3

Kini Alea sedang berada di kosannya Ali, istirahat sejenak dengan duduk lesehan di lantai dan menyandarkan punggungnya pada dinding.


"Mau minum apa, Dek?" tanya Ali dari arah dapur.


"Air putih saja, Kak." Sahut Alea.


Mata Alea menelusuri setiap sudut ruangan yang terdapat tiga petak, yaitu ruang tv, kamar, serta dapur sekaligus kamar mandi. Lumayan luas dan cukup besar jika hanya ditinggali oleh satu orang. Di depan terdapat rak sepatu juga halaman yang luas untuk lahan parkir dan ada beberapa tanaman hijau.


Sepanjang jalan tadi ia melihat pepohonan yang berjejer rapi. Entah ada alasan apa yang membuat kota Marubhumi itu harus menanam pohon begitu banyak. Mungkin agar terhindar dari polusi, pikirnya.


Cukup bagus dan nyaman. Jika saja di sini sedia kamar kos untuk wanita, mungkin Alea akan menempatinya agar tidak perlu jauh-jauh dengan sang kakak. Sayangnya kawasan itu hanya untuk lelaki.


Mereka memang tak bisa tinggal bersama sebab tidak ada hubungan darah yang melekat diantara keduanya. Walaupun mereka sudah menganggap layaknya kakak dan adik, tetapi keduanya sudah saling memahami bahwa mereka telah sama-sama dewasa, jadi sebisa mungkin harus menjaga batasannya.


"Nih, Kakak buatkan es teh untuk menghilangkan penatmu saat perjalanan tadi." Ucap Ali saat datang membawa dua gelas es teh dan beberapa cemilan yang disukai Alea.


"Wah Kakak tidak pernah berubah ya, masih tetap perhatian pada Lea, ini nih salah satunya masih ingat sama kue kesukaanku, brownies coklat keju." Tangannya baru saja hendak menggapai kue tersebut tetapi Ali menepisnya.


"Cuci tangan dulu Dek, kebiasaan deh." Ujarnya.


Alea terkekeh kecil. "Hehehe iya lupa, udah minta disantap aja tuh brownies." Lantas segera ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dengan sabun.


Ali hanya menggelengkan kepalanya saja, ia sudah hapal betul dengan tingkah Alea yang selalu seperti itu yang justru terlihat manis di mata Ali.


"Beli di mana kuenya, Kak?" tanya Alea ketika sudah kembali dan memakan kue tersebut.


"Bikin." Jawab Ali singkat.


Alea melongo mendengarnya. "Ck, tak bisa dipercaya, kue seenak ini mana mungkin Kak Ali yang bikin."


"Siapa yang bilang kalau Kakak yang bikin?" kata Ali.


"Lalu?"


"Bu Mirna, ibu kos sini semalam mengundang Kakak ke acara tahlilan 14 hari suaminya meninggal. Karena Kakak ingat kamu mau datang ke sini jadi Kakak bawakan pulang saja kuenya. Betapa baiknya Kakak padamu, Dek." Jelas Ali dengan nada percaya diri.


"Hah! jadi ini kue kemarin? ckckck." Alea menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Kenapa? enak kok, masih bisa dimakan nih." Ucap Ali seraya memasukkan kue ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Ya memang enak Kak, dari tadi Lea juga bilang ini kue enak. Maksudnya tuh Kak Ali gak modal banget sih, beliin apa kek gitu untuk adiknya sendiri." Sungut Alea sebal, sedangkan Ali hanya cengengesan saja melihatnya.


"Eh tapi ngomong-ngomong suaminya ibu kos itu meninggal karena apa, Kak?" lanjut Alea penasaran.


"Hm kenapa penasaran?" canda Ali dengan mencolek hidung kecil sang adik.


Alea membalas dengan memukul bahu kanan kakaknya. "Cuma tanya aja sih."


Pukulan yang tak ada apa-apanya bagi Ali, dia tertawa gemas melihat kelakuan gadis itu.


"Tidak akan bertanya jika tidak penasaran, kan?" Ali kembali menggodanya.


"Ya pengen tau aja."


"Berarti penasaran."


"Ish, Kak Ali kok ngeselin!" Alea mencebikkan bibirnya.


"Hahahaha, gitu aja ngambek." Tangannya mengacak-acak di atas kepala Alea.


"Haish kerudungku..stop it!" sungut Alea sambil membenarkan kerudungnya.


"Iya-iya maaf, jangan ngegas gitu dong, PMS kamu ya?" goda Ali.


"Oke, Kakak ceritain nih.. Sebenarnya Kakak juga kurang tahu sih, Dek. Tapi yang Kakak dengar pas meninggalnya tuh matanya melotot terus mulutnya terbuka lebar dan mengeluarkan darah. Sampai saat Kakak melayat hingga jenazahnya sudah mau dikuburkan pun kondisinya masih tetap sama, mata dan mulutnya tak mau tertutup, hanya darahnya saja yang berhenti keluar setelah dibersihkan. Kakak ikut sedih melihat Pak Amir seperti itu, padahal satu hari sebelum dia meninggal masih terlihat baik-baik saja bahkan sangat sehat." Ali menjelaskan.


"Kak Ali tahu dari mana kalau Pak Amir baik-baik saja? siapa tahu memang dia sedang sakit kali, Kak." Celetuk Alea.


"Ya jelas Kakak tahu Dek, karena pada saat itu Kakak sedang duduk di teras dan melihat Pak Amir yang baru saja pulang dengan mengendarai sepeda motornya." Jedanya meneguk es teh.


"Kami sempat ngobrol bersama dan dia cerita katanya abis disuruh istrinya untuk nganter pesanan kue ke kampung seberang. Nah, pada saat perjalanan pulang motornya kehabisan bensin, alhasil terpaksa harus didorong. Sampailah saat melewati jembatan, Pak Amir melihat wanita muda cantik sedang jalan sendirian dengan membawa sebotol bensin. Kebetulan banget kan dia lagi butuh, disapa lah si wanita itu berniat untuk meminta sedikit bensinnya, eh yang disapa malah ketawa cekikikan aja dan ngasih semua bensinnya lalu langsung pergi." Lanjutnya.


"Aneh." Sahut Alea yang fokus mendengarkan.


Tiba-tiba mereka menyadari seperti ada bayangan hitam di balik jendela yang sedang memperhatikannya seakan mendengar obrolan mereka.


"Ada orang di depan ya, Kak?" Alea bertanya.


Ali mengangkat bahunya tanda tidak tahu. "Coba Kakak lihat dulu." Kemudian beranjak keluar.

__ADS_1


Ia tak melihat ada seorang pun di sana, tetapi merasakan hawa dingin yang melewatinya, lantas dengan segera ia kembali duduk.


"Siapa, Kak?" tanya Alea pada Ali yang sudah duduk.


"Tidak ada siapapun, Dek. Mungkin perasaan kita saja." Jawab Ali dengan sedikit merinding pada tubuhnya.


Sepertinya aku melihat sangat jelas bayangan hitam itu, berwujud manusia tapi sedikit lebih besar. Batin Alea.


"Tetangga kos sebelah kali ya?" kata Alea.


"Sepi Dek, semua pada kerja dan kuliah, ini saja Kakak izin sama Pak Bos sehari." Jawab Ali.


"Lalu siapa dong?" ucap Alea sedikit takut.


"Sudah tidak usah dipikirkan." Ali tak ingin membuat sang adik cemas.


"Oh iya Dek, apa kamu mau langsung melihat kosannya? Kakak sudah mendapatkan kosan seperti yang kamu inginkan. Kemarin Kakak sudah bertemu dengan pemiliknya, menanyakan harga sekaligus melihat-lihat isi kamarnya. Murah tapi lumayan bagus kok." Ali dapat mengalihkan pikiran Alea.


"Benarkah? lokasinya di mana, Kak?" sahut Alea dengan antusias.


"Di kampung seberang, seperti yang Kakak ceritakan tentang Pak Amir tadi, perjalanan menuju ke sana harus melewati jembatan yang cukup panjang. Dan jarak antara kosan menuju kampusmu tidak begitu jauh kok, hanya sekitar 3 kilometer." Jelas Ali.


"Bagaimana? Kalo kamu mau, Kakak bisa mengantarmu sekarang. Cukup lihat-lihat saja dulu, barangkali cocok dan nyaman untukmu." Tambahnya.


Alea mengangguk setuju. "Ya sebaiknya sekarang saja, lebih cepat lebih baik."


"Oke sebentar, Kakak bereskan gelas dan piring ini dulu."


Dengan cekatan Ali merapikan semuanya dan membawanya ke dapur, tak langsung dicuci, biarlah nanti saja, urusan adiknya lebih penting kan daripada cucian piring?


"Koper Lea simpan di sini dulu atau bawa saja ya?" tanya Alea meminta saran pada Ali.


"Terserah kamu, Dek. Tapi apa tidak sebaiknya dibawa saja? siapa tahu kamu langsung cocok dengan tempatnya, jadi tidak perlu bolak-balik untuk mengambil kopermu." Saran Ali.


"Hm, ya sudah dibawa saja kalau begitu. Cuss berangkat." Alea begitu semangat.


Koper telah diambil oleh Ali dan diselipkan di bagian depan motor yang kemudian akan dijaga antara kedua kakinya. koper aja dijaga, masa kamu enggak? otor cuma bcanda:v


"Kunci pintunya, Dek." Titahnya.

__ADS_1


"Sip! Sudah, mari berangkat.."


TO BE CONTINUED


__ADS_2