
Alea terbangun di jam 7 pagi, itu pun karena mendengar nada dering telepon, sang kakak menelponnya.
"Assalamualaikum, Dek, udah bangun?" suara Ali di seberang sana.
"Wa'alaikumsallam, masih tidur." Lelucon Alea.
Ali terkekeh kecil mendengar sahutan Alea. "Yaudah bangun dulu gih." Candanya.
"Hm, sudah." Balas Alea sembari bangkit dari tidurnya menjadi duduk bersandar di dinding.
"Keadaan kamu gimana sekarang?" tanya Ali yang masih mengkhawatirkan Alea. Jika boleh Ali tak akan membiarkan Alea tinggal sendiri sebab sedari kecil mereka tinggal beramai-ramai, tak mungkin adiknya bisa tinggal sendirian begitu saja.
"Alhamdulillah udah baikan, panasnya udah turun dari semalam." Jawab Alea membuat Ali bernapas lega.
"Alhamdulillah syukurlah, udah sarapan?" tanya Ali lagi.
Tiba-tiba Ali berpikir jika Alea pasti belum makan, pasalnya tak ada bahan makanan yang bisa dimasak, alat memasak saja belum ada, bagaimana Alea mau makan.
"Belum." Alea menjawab singkat, memang benar ia belum makan karena baru saja bangun, dan sebenarnya Alea membawa beberapa makanan ringan dari kota asalnya yang masih tersimpan di dalam kopernya.
"Sarapan sekarang, Dek! jangan ditunda-tunda nanti kamu sakit lagi, apa mau Kakak belikan makanan?" ujar Ali penuh perhatian.
"Iya Kak Aliiii.. tidak perlu, nanti aku beli sarapan di luar." Ucap Alea gemas dengan sang kakak yang sangat posesif padanya.
"Hm, ingat jaga kesehatannya, Kakak nggak suka lihat kamu sakit, kalau ada apa-apa langsung telpon Kakak!" titahnya yang harus diingat Alea.
"Iya, Kakakku bawel." Seloroh Alea sebal mendengar ujaran sang kakak.
"Bawel gini karena Kakak sayang sama kamu, ya sudah sekarang Kakak mau berangkat kerja dulu, nanti siang baru ke kosan kamu." Kata Ali.
"Kakak kan kerja sampai sore." Tutur Alea.
"Ya izin setengah hari, kamu masih butuh bantuan Kakak untuk angkut-angkut barang nanti." Ali berucap, ia tidak akan membiarkan Alea capek sendirian nanti.
"Hehe, Lea banyak ngerepotin Kak Ali, maaf ya." Alea sedikit merasa bersalah pada kakaknya.
"Itu tanggung jawab Kakak, Dek, nggak perlu minta maaf." Kata Ali, ia tak merasa direpotkan sama sekali, apalagi kehadiran Alea di sini justru membuatnya senang bisa berdekatan langsung dengan adiknya.
__ADS_1
"Iya-iya terima kasih kakakku yang baik dan penyayang. Ya sudah kerja gih, bye." Ujar Alea agar telpon itu segera berakhir.
"Sama-sama Tuan Putri, Assalamualaikum." Pamit Ali.
"Wa'alaikumsallam."
Setelah panggilan itu terputus, Alea melipat selimutnya dan bergegas membersihkan diri.
Di dalam kamar mandi, selama Alea membersihkan dirinya ia mendengar senandung lagu, suara wanita yang begitu lembut dan lirih. Senandung nada itu seperti nyanyian sinden, pikirnya mungkin tetangga sebelah kamarnya. Lantunannya begitu ciamik bagaikan pesinden profesional.
Alea menikmati nyanyian tersebut, ia mengakui suara itu begitu indah. Hingga saat sudah selesai dan keluar dari kamar mandi tiba-tiba suara itu berhenti, Alea diam sejenak merasa tak ingin jika wanita itu berhenti bernyanyi. Mungkin nanti Alea harus kenal sama tetangga sebelah karena ia pun belum mengenali semua penghuni kos itu.
Alea mengenakan hijabnya dan tak lupa mengambil dompet, ketika sudah rapi ia keluar kamar dan mengunci pintunya sambil melirik kamar sebelah yang gelap dan tertutup rapat.
"Alea!" panggil Danu yang tengah mencuci motor.
"Eh, iya Bang Danu?" sahut Alea menengok lalu menghampiri Danu.
"Kamu udah sehat? mau ke mana?" tanya Danu berhenti sejenak mengurusi motornya.
"Ohh syukurlah, selagi bisa bantu pasti Abang bantu, Neng." Balas Danu ikut tersenyum. "Di depan ada warung nasi uduk, mau makan di sana nggak?" tanyanya menawarkan.
"Wah boleh tuh, Bang Danu mau makan juga?" ucap Alea.
"Iya sama belum sarapan, bareng aja yuk." Ajak Danu lalu membereskan cucian motornya.
"Motornya udah selesai mandi belum nih?" celetuk Alea bercanda.
"Bentar, tinggal dilap aja nih." Danu mengelap motornya dengan kain kering.
Alea menunggu Danu hingga selesai, posisinya berdiri menghadap kamar Danu. Dari jendela kamar itu Alea melihat ada seseorang di belakangnya, kemudian ia menoleh ke belakang tak ada siapapun, lalu memandang kembali kaca jendela tersebut dan masih terlihat jelas bayangan hitam yang berdiri di belakangnya.
"Mari, Neng." Seru Danu ketika sudah selesai dan berjalan lebih dulu.
Alea mengikuti langkah Danu, ingin rasanya menanyakan sesuatu yang ia lihat tadi tapi seakan bibirnya tercekat tak mau bicara. Akhirnya Alea diam saja, jalan beriringan dengan Danu menuju warung nasi yang berada tidak jauh dari kos-kosan itu. Ketika keluar gang, sudah terlihat sebuah warung di seberang jalan agak serong kanan dan nampaknya sudah terisi beberapa orang yang makan di sana.
"Pagi Mpok Tati, nasi uduknya dua ya." Ucap Danu pada seorang wanita di balik etalase kaca.
__ADS_1
"Eh si Abang Danu, pagi juga." Balas Mpok Tati sambil menyiapkan piring. "Tumben 2 porsi, lapar atau gimana nih?" selorohnya.
"Satunya untuk Alea, Mpok." Kata Danu sembari melirik Alea.
"Widih udah bawa cewek nih, pacar atau calon istri?" sahut Mpok Tati udah kayak emak-emak julid yang mau mulai gosip, tapi tangannya cekatan memasukkan nasi serta lauk ke dalam piring.
"Ah dia anak rantau, baru aja kemarin ngekos di sini. Bukan pacar ataupun calon istri, kami baru kenal, Mpok." Sangkal Danu sedikit malu lantaran Mpok Tati suka ceplas-ceplos jika bicara.
"Ya ya, mungkin nanti kalau udah kenal lama ya." Balas Mpok Tati dengan terkekeh.
Danu tak mengindahkan lagi ucapan Mpok Tati, ia segera mencari tempat duduk yang masih tersisa banyak. Alea diam saja, tak merasa risih dengan ucapan wanita itu, toh dia hanya bercanda.
"Sini duduk, Neng." Seru Danu menarik kursi di bawah meja untuk Alea duduki.
"Iya Bang, makasih." Alea duduk bersebelahan dengan Danu menunggu makanannya datang.
"Tuh kan udah perhatian." Celetuk Mpok Tati menyengir, iseng sekali meledek Danu.
Danu jadi tak enak hati takut membuat Alea tidak nyaman, padahal terlihat sikap Alea yang santai-santai saja.
"Maaf ya, Neng Lea, Mpok Tati emang begitu orangnya, suka jahil kalau ngomong." Ucap Danu memandang Alea.
Alea tersenyum dan mengangguk. "Nggak masalah kok, Bang, santai saja." Katanya.
"Ini nasi uduknya, Neng." Mpok Tati menghentikan obrolan mereka lalu meletakkan dua piring nasi di mejanya. "Sok dicoba, takaran nasi ini cukup bikin perut kenyang, lauknya komplit, dan rasanya dijamin enak poll, Danu aja sering makan di mari." Ujarnya pada Alea sambil tertawa kecil.
"Iya, Mpok terima kasih, Alea coba ya."
Bersambung...
Maaf baru bisa Up sekarang🙏🏼 kemarin-kemarin Vi sibuk dengan tugas yang numpuk dan ditambah dengan rasa malas, capek, lelah, letih, lesuh, loyo😣🤧 rasanya pingin leha-leha aja rebahan di kasur, gak bisa fokus juga kalau nulis jika banyak kerjaan.
Rencananya tadi malam pengen Up tapi tetiba mataku gak bisa diajak kompromi, sepertinya karena terlalu sering melihat layar handphone jadi agak sakit, dan Vi memilih istirahat dulu.
Dukung terus ya agar diriku tidak dilanda rasa malas dan pengen banget bisa Up tiap hari😔
Terima kasih
__ADS_1