Misteri Kampung Mati

Misteri Kampung Mati
Episode 9 - Ada Apa dengan Ana?


__ADS_3

Selesai makan, Alea dan Danu kembali ke kosan. Untuk hari ini Alea belum bisa pergi kemanapun, ia akan tetap berada di kos menunggu barang yang dipesan datang hari ini.


Karena bingung ingin melakukan apa, Alea meminta Danu untuk menemaninya mengobrol di teras. Ia ingin menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran sejak pagi tadi.


"Bang, Lea ingin tanya, yang tinggal di kos ini siapa aja ya? aku baru kenal sama Bang Danu, Dewi, dan Lia aja soalnya, sedangkan kamarnya cukup banyak." Tutur Alea penasaran.


"Oh ya ada dua orang lagi, yang satu namanya Ana, kamar dia di atas kamarmu tuh sebelahan dengan Lia, orangnya sangat pendiam dan tertutup, jarang ngobrol dengan kami. Nah di sebelah kamar Abang ada Juna, jarang nongol karena sibuk kerja." Kata Danu sambil menunjuk dua kamar yang dimaksud.


"Lalu kamar tengah ini tidak ada orangnya?" Alea menanyakan kamar di sebelahnya.


"Ya nggak ada, baru kamu aja yang nempatin kamar bawah ini." Jawab Danu.


Alea sedikit mengernyit heran, memang benar kamar itu terlihat kosong dari luar, lalu dalam pikirannya bertanya-tanya siapakah yang bernyanyi pagi tadi dan juga suara yang pernah ia dengar sebelumnya.


"Tadi pagi Alea dengar ada yang nyanyi, suara perempuan lembut sekali, Alea kira itu dari kamar sebelah. Jadi siapa yang nyanyi ya, Bang?" cerita Alea pada Danu.


"Masa sih pagi-pagi ada yang nyanyi? Abang nggak pernah dengar orang nyanyi loh di sini. Suara perempuan lembut ya? hm apa mungkin Ana? dia kan di atasmu nih jadi bisa saja kedengaran sampai ke bawah kamarmu, tapi kalau Abang sih belum pernah dengar dia nyanyi, orangnya pendiam banget soalnya." Ujar Danu sedikit kurang yakin.


"Suaranya bagus banget loh Bang, dia pintar nyinden ya, tadi Alea sedikit nggak rela gitu pas dia berhenti nyanyi, nanti Alea ajak kenalan ah." Alea berseru.


"Nyinden? Abang nggak pernah tahu dia bisa nyinden. Kalaupun memang Ana sering nyanyi pasti terdengar sampai ke kamar Lia dan saat kami sedang kumpul biasanya selalu cerita atau bahas apapun itu, terutama tentang Ana yang sering menyendiri, tapi tentang hal ini Lia nggak pernah cerita sih, apa mungkin baru kali ini dia nyanyi." Jelas Danu yang ikut penasaran dengan suara nyanyian tersebut.


"Orangnya pemalu ya, Bang?" Alea bertanya.


"Entahlah, pokoknya kalau diajak nimbrung dia selalu nolak dan lebih memilih masuk kamar, jika ditanya selalu jawab dengan singkat, nggak pernah senyum juga. Di tempat kerjanya yang Abang tahu pun juga seperti itu, dia kerja di restoran, nggak pernah berbaur dengan karyawan lainnya."


"Tapi Abang pernah liat dia keluar malam-malam banget dengan pakaian seksi dan paginya sudah terlihat rapi dengan pakaian kerja. Saat Abang tanya semalam abis dari mana, dia bilang sih ada di dalam kamarnya dan nggak kemanapun, padahal Abang yakin banget malam itu yang keluar adalah Ana, dengan wajah dan postur tubuh yang mirip persis, nggak mungkin Abang salah lihat." Lanjutnya.

__ADS_1


Obrolan itu mengarah pada Ana, salah satu penghuni kos yang selalu menjadi perbincangan karena tak ingin bersosialisasi dengan yang lainnya. Entah mengapa wanita itu lebih suka menyendiri di dalam kamarnya.


PRANG!!!


Suara pecahan begitu nyaring mengalihkan keduanya, mereka saling pandang juga terkejut akan hal itu.


"Suara apa itu, Bang Danu?" tanya Alea dengan perasaan yang mendadak tak enak.


"Nggak tahu, Neng, sepertinya dari atas, coba kita cek." Seru Danu langsung berjalan menaiki tangga disusul Alea.


Di atas terlihat Lia dan Dewi juga nampak baru keluar dari kamarnya, libur kuliah membuat mereka malas-malasan di kamar. Suaranya begitu keras dan mengagetkan membuat keduanya terganggu dan itu berhasil memancingnya keluar mencari asal suara tersebut.


"Bang Danu, ada apa?" tanya Lia yang masih setengah sadar.


"Lah Abang ke sini karena dengar suara seperti barang pecah, apa itu dari kamar kalian?" ucap Danu pada Lia dan Dewi, mereka terlihat kebingungan sebab baru saja bangun tidur dan tak tahu apa yang terjadi.


"Ana kali, Bang." Kata Dewi diikuti Lia yang mengangguk.


Danu pikir juga begitu, ia langsung menuju kamar Ana, ketiga gadis itu pun penasaran, mereka mengekor di belakang. Diketuk pintu itu dengan pelan tidak ada sahutan, lalu lebih kencang lagi masih sunyi, dan ketiga kalinya Danu mengetuk lebih keras sambil memanggil namanya.


"Ana! apa kamu ada di dalam? buka pintunya!" seru Danu sedikit berteriak.


Ceklek


Pintu terbuka sedikit, Ana hanya sekadar menongolkan kepalanya di balik pintu. Terlihat matanya masih sayup, rambutnya sedikit berantakan tapi masih terlihat cantik dan manis.


"Apa? aku sedang tidur, mengganggu saja!" ucap Ana bernada kesal sambil mendelik, ia menatap tajam semuanya.

__ADS_1


"Tidur? kami dengar suara barang pecah, Abang pikir dari kamarmu." Kata Danu dengan sabar walaupun sebenarnya sedikit keki.


"Nggak ada barang yang pecah di sini, udah ya pergi sana!" ucapnya dan mengusir lalu menutup pintu agak kencang.


Alea tergugu melihatnya, wanita itu cantik tapi sikapnya sedikit keterlaluan, niat hati hanya ingin bertanya dan jika memang ada apa-apa pasti akan dibantu, tetapi apakah dia hidup tidak membutuhkan orang lain di sekitarnya? bukankah kita ini makhluk sosial?


Sedangkan yang lainnya sedikit tercengang, sebab sikap Ana hari ini sangat berbeda dengan biasanya. Yang biasanya wanita itu selalu menjawab ketika ditanya walaupun singkat dan bernada datar, tapi kali ini sangat ketus dan penuh kekesalan bahkan hingga mengusir.


"Kenapa tuh, Bang? tumben-tumbenan seperti itu." Ucap Dewi bersungut sebal.


"Sudahlah, mungkin karena tidurnya kita ganggu, jadi kesal begitu. Sekarang Abang bingung, suara tadi dari mana ya?" tutur Danu terlihat bingung.


"Tapi Lia dengar jelas dari kamar Ana, Bang Danu. Suaranya tuh seperti sengaja dibanting ke tembok, tapi kenapa Ana bilang lagi tidur ya." Ujar Lia.


"Kamu yakin, Li?" ragu Dewi.


"Ya yakinlah, kamar sebelahan gini, aku ngerasa banget, Wi, bahkan sampai kaget tadi." Kata Lia meyakinkan.


"Berisik!! pergilah dari depan kamarku!" Ana berteriak dari dalam dan itu membuat semuanya semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada Ana.


"Sudah, mari bubar." Danu tidak ingin membuat Ana lebih marah lagi akhirnya meninggalkan kamar itu.


Dewi dan Lia masuk kamar masing-masing ingin mandi, sedangkan Alea mungkin hanya berdiam diri di dalam kamarnya, niatnya yang ingin berkenalan dengan Ana diurungkan, rasanya tak enak hati, takut tidak direspon dengan baik.


Bersambung...


Jangan lupa besok senin, VOTEnya kesini ya👌🏼😆

__ADS_1


__ADS_2