MODEL TAMPAN ITU SUAMIKU

MODEL TAMPAN ITU SUAMIKU
Kemarahan Ayah


__ADS_3

Hari aku pulang keindonesia. Ayah memintaku untuk pulang karena ada hal yang sangat penting yang harus dibicarakan. Ayah tidak suka membicarakan sesuatu lewat pesan singkat.Ayah adalah dokter ahli beda dirumah sakit terbaik, ibu dokter spesialis ibu dan anak, dan kedua kakak laki-lakiku mengikuti jejak ayah dan ibu.


Hanya aku yang berbeda fotografer.Kalau ayah tahu mungkin ia akan murka padaku.


"Arti,cepat pulang keindonesia". Pesan singkat dari ayah yang membuatku pusing,aku tahu ada sesuatu yang tidak beres sampai ayah mengirimkan sms singkat.


"Arti...??"


"Hai, Erik". Aku tersadar dari lamunanku setelah Erik memanggilku.


"Ada apa?",tanya Erik padaku.


Aku bersyukur bisa dipertemukan dengan Erik, dia pria yang baik, sehingga aku nyaman bersahabat dengannya.


Aku memperlihatkan pesan singkat dari ayah. "Kapan kau akan pulang?",tanya Erik melihat ekspresi datar Arti.


"Kalau sudah seperti ini, besok aku wajib pulang,Erik. Tugas dan pekerjaanku juga belum selesai",ucap Arti dengan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Erik..?",panggil Arti


"Yah,ada apa?",bicara saja aku siap mendengarkannya,ucap Erik.


"Maukah kau mengedit foto-foto ini?",tanya Arti yang membutuhkan bantuan dari Erik. "Ini untuk tugas akhirku, kalau sampai tidak selesai,aku harus satu tahun lagi tinggal disini",ucap Arti lelah.


"Tenang aku pasti membantumu",ucap Erik.


"Aku berharap setelah lulus kau bisa bekerja denganku",ucap Erik dengan merangkul pundak Arti.


Erik mempunyai studio sendiri, dia adalah pimpinan cabang dari perusahaan keluarganya.Entah mengapa Erik mau bersahabat denganku. Dari pertama kuliah S1 sampai dengan S2, kami selalu bersama. Untuk yang namanya pendidikan aku tidak main-main, karena itu modal utama untuk mencari pekerjaan.


"Erik..??",panggilku lagi.


"Apa..?",yang jelas kalau menginginkan sesuatu,ujar Erik.


Arti hanya bisa nyengir. "Besok maukah kamu mengantarku kebandara",Pinta Arti dengan melirik kearah Erik.


"Tentu saja nona manis",ucap Erik dengan mengacak rambut panjang Arti yang sangat indah.


Aku menarik senyum melihat kelakuan Erik."Jangan lupa bawa Jessica,nanti ia cemburu. Aku tidak mau karena kehadiranku,membuat hubungan kalian merenggang",ucap Arti kepada Erik.


"Oke..?",ucap Erik karena tidak ingin berdebat dengan Arti.


Jessica adalah pacar Erik. Ia sempat curiga padaku, karena melihat kedekatan kami berdua selama ini.


*****


Aku sampai juga dibandara terbesar indonesia,maklumlah aku jarang pulang keindonesia.Lantaran kesibukkanku dibidang fotografer yang banyak menyita waktu. Aku keluar dari pintu kedatangan.


"Non Arti....??",Aku mencari suara yang memangil namaku.


"Mang Rifin..?",ucapku saat melihat beliau yang berdiri digaris kedatangan.


"Maaf, non?", tuan dan nyonya ngak bisa jemput non Arti dibandara.Jelas Mang Rifin padaku. Aku hanya menarik senyum kecewa.Sibuk adalah alasan kilse yang sering mereka lakukan.Memintaku pulang,tapi mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Non Arti kok jarang pulang",tanya Mang Rifin.

__ADS_1


"Sibuk, mang.Kuliah disini sama yang diluar beda, mang",jawabku.


Mang Rifin tidak bertanya lagi saat melihat wajah lelah anak majikannya.


******


Saat memasuki halaman rumah yang luas rasa sepi sudah terasa jelas. Masuk kedalam rumah terasa lebih sunyi lagi,sama saja seperti yang dulu,gumam Arti yang langsung menghempaskan bokongnya disofa.


"Non Arti..?",sapa mbok Yem


"Mbok Yem?",masih betah kerja disini, tanya Arti bercanda.


"Yah, masihlah non",jawab mbok Yem.


"Pada kemana orang-orang dirumah ini,mbok Yem?",sepi ucap Arti.


"Yah, kerjalah non",jawab mbok Yem.


"Non Arti mau minum apa, simbok buatin?",tanya mbok yem.


"Sirup aja, mbok.Bawa keatas aja mbok, saya mau istirahat",ucap Arti yang berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamar yang sudah lama ia tinggalkan.


Sebelum itu Arti meminta mang Rifin membawa kopernya keatas.


"Mang Rifin..?",panggil Arti.


"Iya, non".


"Barang-barang saya,tolong dibawakan keatas",ucap Arti. Arti merebahkan tubuhnya keatas tempat tidur, ia bukan hanya lelah fisik tapi juga pikiran.


Tok.. Tok... Tok..


"Non Arti sirupnya mau diletakkan dimana?",tanya mbok yem.


"Bawa sini mbok Yem",ujar Arti yang langsung duduk dipinggir tempat tidur.


"Iya,non".


"Makasih mbok",ucap Arti.


"Non kopernya mau Mang Rifin letakan dimana?",tanya Mang Rifin.


"Letakan saja disamping lemari Mang Rifin",tunjuk Arti kearah lemari.


"Makasih",mang.


"Selamat beristirahat,non?".


"Iya..?"


******


Karena letih aku pun tertidur.Entah berapa lama aku tertidur.Sampai suara adzan dikumandangkan,aku baru terbangun. Mandi lalu shalat.Aku turun karena,cacing-cacing diperutku sudah bernyanyi.


"Hai,sayang?".

__ADS_1


"Ibu sudah pulang",tanyaku saat melihat ibu yang sudah sibuk didapur.


"Iya, sayang".


"Laper... yah".


"Banget",jawabku singkat.


"Bagaimana dengan kuliahmu?",tanya ibu kepadaku.


"Baik,ngak lama lagi selesai",jawabku lagi


"Mau kerja dimana?",tanya sang ibu lagi.


"Kalau sudah punya gelar pekerjaan mudah didapat,bu?',ucapku dengan memasukan tempe goreng kemulutku.


"Ibu boleh bertanya, sayang?".


"Boleh,ngak ada yang melarang,karena tidak ada yang melarang ibu untuk mengajukkan pertanyaan padaku",ucapku lagi


"Kamu kuliah dimana?",tanya sang ibu.


"Mengapa ibu bertanya?",ucapku kepada ibu.


"Nanti kita bicarakan setelah ayah dan kakak-kakakmu datang",ucap sang ibu.


"Itu sepertinya mereka sudah datang",ibu berjalan menuju pintu depan menyambut kedatangan ayah dan juga kakak.


"Ayah,apa kabar?",tanyaku saat melihat ekspresi datar yang tercetak jelas diwajahnya.


"Kamu sudah datang",ucap sang ayah. Aku hanya menganggukkan kepalaku saat ayah bertanya padaku.


"Sebelum kita berbicara sebaiknya kita makan malam terlebih dahulu",ucap Ayah yang dipatuhi semua anggota keluarga.Aku hanya menuruti saja keinginan kepala keluarga.


*******


Sekarang, kita semua sudah berkumpul,ucapku."Mengapa tiba-tiba ayah meminta Arti pulang?",tanyaku.


"Apakah kamu tidak merasa bersalah kepada keluargamu sendiri?,ayah tidak menduga selama hampir enam tahun ini kau membodohi kami",ucap ayah dengan wajah memerah menahan amarah.


"Bukankah ayah sudah  tahu aku tidak menyukai dunia medis?",jawabku membela diri.


"Ayah hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak, ayah.Apakah itu salah?",ujar sang ayah.


"Tetapi tidak dengan cara sepert ini ayah.Memaksa kehendak ayah sendiri, tanpa memikirkan keinginan anak-anak ayah",ujarku.


"Arti...??",bentak ibu kepadaku.


Ibu.


"Arti tahu kalau masalah ini terdengar oleh ayah,Arti harus tanggung resikonya",jawab Arti tanpa rasa takut kepada ayahnya.


"Arti?,kami menyayangimu karena itu turutilah keinginan ayah", ucap kak Aryan.


"Sudah terlanjur,kakak.Arti sekarang sudah menyusun tugas akhir untuk gelar S2. Aku tidak mau seperti kalian, takut miskin",ucapku.

__ADS_1


"Baiklah,ayah mengambil semua fasilitas yang ayah berikan padamu.Ayah ingin lihat kemampuanmu tanpa bantuan ayah".


"Mulai besok ia harus keluar dari rumah ini.Pesankan tiket dan beri uang saku terakhir untuknya",ucap yang langsung beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga. Ibu tidak bergeming untuk membelaku. Aku tidak akan putus asa,gumamku. Hari ini terakhir aku bersama mereka setelah ayah mengusirku dari rumah dan juga keluarga.


__ADS_2