
Eleanor masuk ke dalam kamar, di sana ia mendapati ke-dua putrinya sedang bengong. Memperhatikan jendela yang terbentang lebar, di sana dapat memandangi keindahan kota tersebut.
"Mom, kamar Mom sangat bagus," ucap Aura mengagumi interior kamar milik sang Mommy tanpa melepaskan pandangannya ke arah luar.
Dengan langkah sesak, Eleanor mendekati ke-dua putrinya. "Sayang, kamar kalian juga tak kalah indahnya. Malahan Oma sendiri yang mendesain warna kesukaan kalian, ya kamar kalian berada di sebelah kamar Mom," ucap Eleanor sembari tersenyum, mengusap wajah mereka silih berganti. "Jika begitu, mari Mom antar ke kamar milik kalian." Eleanor pun membawa Aira maupun Aura kembali keluar kamar. Dalam hati ia berharap Alexei dan wanita yang belum dikenalinya itu telah pergi dari ruang televisi.
Tiba di luar pintu, Eleanor bernafas lega karena apa yang di harapkan telah terjadi. Ia pun tak banyak berpikir di mana sosok suaminya itu.
Tanpa membuang waktu lagi, Eleanor langsung membawa ke-dua putrinya masuk ke dalam kamar.
"Sayang, sebentar lagi akan ada suster yang akan memandikan kalian. Mom, belum berani karena kalian belum sembuh total. Mereka juga yang akan merawat kalian untuk sementara waktu, hingga kalian benar-benar sembuh total."
Sementara baik Aira maupun Aura menganggukkan kepala, tanpa ingin bertanya hal banyak. Mereka masih kecil, tentu saja belum dapat memahami segala sesuatunya. Mereka adalah bocah polos dan tidak begitu peduli dengan keadaan di sekitarnya.
Tidak lama dua orang suster yang memang di tugaskan langsung oleh Mommy mertuanya datang juga. Mereka langsung melakukan tugas mereka, sementara Eleanor bergegas menuju dapur. Ia akan membuatkan makan malam untuk ke-dua putrinya. Untuk satu hal ini ia tidak mau menyerahkan kepada orang lain, ia akan tau makanan apa yang sudah di anjurkan oleh dokter untuk Aira dan Aura.
Usai menyiapkan makan malam dan menata masakannya di atas meja makan, Eleanor beranjak dari meja makan. Saatnya untuk ia membersihkan diri.
*
Sesuai keinginan Aira dan Aura, akhirnya mereka menyantap makan malam di meja makan. Seharusnya sesuai keinginan Eleanor, mereka akan makan di dalam kamar.
"Sayang, habiskan makanan kalian. Kalian harus banyak makan, agar cepat sembuh," ucap Eleanor di sela mengunyah.
__ADS_1
"Iya Mom," sahut mereka secara bersamaan. Mereka masing-masing di suap oleh suster.
"Anak pintar," gumam Eleanor sembari tersenyum, silih berganti menatap ke-dua putrinya.
Makan malam pun telah usai. Baik Aira maupun Aura memaksa ingin nonton sebentar di ruang televisi. Mau tidak mau Eleanor mengizinkannya, seharusnya mereka lebih memilih beristirahat karena sesuai anjuran dokter.
Sembari memasukan potongan buah-buahan ke mulut masing-masing, mereka saling mengobrol. Yang pastinya di yang menjadi bahan obrolan adalah cerita dalam siaran televisi yang sedang saat itu mereka tonton. Hingga tiba-tiba Aura menanyakan tentang sekolah mereka.
"Mom, apakah kami sudah diperbolehkan untuk sekolah?" tanya Aura.
Eleanor menggeleng lembut. "Belum boleh sayang, tunggu kalian benar-benar sudah sembuh total. Dan kalian akan pindah sekolah," ucap Eleanor sembari tersenyum manis.
"Pindah sekolah?" seru mereka serempak dengan raut wajah terkejut, bahkan menghentikan mengunyah.
Brak!
Tiba-tiba bunyi dentuman keras yang berasal dari pintu membuat mereka saling memandang yang awalnya sedang bercanda.
Buk!
Tanpa di sangka sosok itu spontan menjatuhkan dirinya di atas sofa, tepat berasa di sebelah Eleanor. Hingga tak sengaja tangan kekar itu mengenai bahunya, membuat Eleanor mendesis.
"Ambilkan aku air!" suara parau dan aroma alkohol itu sangat tercium oleh Eleanor hingga membuatnya menahan nafas, jujur saja wanita itu sangat tidak menyukai minuman seperti itu. "Cepat!" bentaknya dengan suara lantang dengan mata terpejam. Suara lantang dan sangat memerintah itu berhasil membuat Aira maupun Aura ketakutan.
__ADS_1
Dengan cekatan Eleanor meraih segelas air minum yang memang ada di atas meja sofa, kebetulan tadi memang ia letakan untuk dirinya.
Tanpa mengatakan sepatah kata Eleanor menyodorkan gelas itu, namun tak membuat Alexei meraihnya, malahan pria tampan itu masih memejamkan mata dengan tangan memegang kepalanya.
"Mom, ini siapa?" tanya Aira karena mereka memang belum mengenali pria itu, tadi memang sudah sempat melihatnya, namun sayangnya mereka melupakan hingga tidak menanyakannya.
Pertanyaan Aira berhasil membuat Alexei membuka matanya dengan lebar, hingga tatapan mereka saling bertemu. Sembari menelan ludah Eleanor dengan cepat membuang pandangannya.
"Tuan, silakan di minum," ucap Eleanor dengan nada begitu sopan. Hal itu tentu saja membuat Alexei mengernyitkan kening. "Aira, Aura ini adalah majikan Mom. Panggil saja Tuan, ayo beri salam!" perintah Eleanor, yang semakin membuat seorang Alexei Brylee bingung.
"Selamat malam Tuan," sapa Aira dan Aura secara bersamaan sembari memperlihatkan gigi rapat mereka.
Alexei terdiam tanpa ingin membalas sapaan tersebut, itu membuat ke-dua bocah itu bingung dan langsung berpikiran negatif, ada raut ketakutan di wajah masing-masing.
"Sayang, sebaiknya kalian segera ke kamar. Dan waktunya untuk minum obat, sebentar lagi Mom akan menyusul." Eleanor segera memerintahkan ke-dua putrinya segera pergi ke kamar, seakan ia memahami raut dari wajah masing-masing.
"Iya Mom. Tuan, kami permisi!" untuk mewakili, Aura yang menjawab, sementara Aira mengangguk.
Sekali lagi mereka tidak mendapatkan respon, hal itu membuat ke-duanya mempercepat langkahnya.
"Tuan, mabuk!" gumam Aura setelah menutup pintu kamar.
"Sepertinya begitu." Aira menanggapi, seolah perkataan sang Adik benar.
__ADS_1