
Dalam sekejap mobil yang membawa mereka terseret beberapa meter, hingga berakhir di tepi pembatas jalan dengan kondisi terbalik.
Pada saat itu hanya Eleanor yang masih sadar dengan beberapa luka yang terdapat di dahi, tangannya.
"To-tolong....." jerit Eleanor dengan lemah dan tak berdaya, berusaha menggapai Aira maupun Aura dalam keadaan bersimbah darah, dalam kondisi tidak sadarkan diri. Sementara Albert, tidak terdapat dalam mobil tersebut.
Seruan orang-orang ramai di luaran sana terdengar samar-samar oleh Eleanor. Berusaha membantu, mendekati mobil yang tak berbentuk utuh lagi. Dan pada detik kemudian, kesadarannya pun hilang.
Di rumah sakit
Eleanor sadar dari pingsannya, usai mendapatkan perawatan dari para tim medis. Eleanor langsung bangun dengan kepala begitu berat, dan sekujur tubuhnya terasa amat sakit.
"Mana suami dan anak-anakku?" tanya Eleanor kepada dokter yang kebetulan sedang berdiri memperhatikannya.
"Kau sudah siuman? Jangan banyak bergerak dulu, lukamu belum kering," ucap dokter berparas cantik itu, jika tidak salah usianya hanya selisih tiga tahunan.
Sementara Eleanor tidak menggubris apa yang dikatakan dokter tersebut, malah ia melepaskan jarum infus yang masih melekat di punggung tangan bagian kiri.
"Mana suami dan anak-anakku?" sekali lagi pertanyaan itu keluar dari mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Ingatan kecelakaan itu terlintas begitu saja.
"Tenanglah, kau masih perlu di rawat."
"Albert, Aira, Aura.....kalian baik-baik saja bukan?" tangis itu seketika pecah, memenuhi isi ruangan tersebut. Eleanor berusaha ingin keluar, namun di cegah oleh dokter dan juga perawat.
"Nona Eleanor, tenang dulu. Akan aku beritahu, tapi kembalilah duduk dengan tenang," ucap dokter itu sembari menenangkan Eleanor yang masih berusaha keluar dengan kaki terbirit-birit.
__ADS_1
Ya, dokter Anya mengenali nama Eleanor lewat kartu identitasnya yang diserahkan oleh Polisi.
Karena tenaganya lemah, hingga membuat Eleanor menurut, wanita dengan luka di bagian kaki, tangan dan dahinya, membuatnya kembali menempati brankar.
Dokter berparas cantik dan lembut itu mendekati Eleanor, duduk di sebuah kursi yang ada di sisi brankar.
"Kenalkan aku dokter Anya. Dan aku yang sedang menangani korban yang mengalami kecelakaan, ya salah satunya adalah kau." Ternyata nama dokter cantik itu adalah Anya.
"Terima kasih dok. Dok, di mana suami dan anak-anakku? Mereka baik-baik saja bukan? Mereka ada di sini kan dok?" cecar Eleanor di sertai tangisan, wanita lemah itu tidak sanggup menahan rasa takutnya. Bayangan kondisi ke-dua putrinya waktu itu sangat membuatnya takut.
Dokter Anya terdiam, mencoba mengalihkan pandangannya sesaat. Pertanyaan pasiennya itu tentu saja sangat sulit di jelaskan. Namun apapun yang terjadi ia harus memberitahukannya, karena Eleanor adalah keluarga dari korban kecelakaan itu.
Sebelum mengatakan sesuatu yang tentunya berat hati. Dokter Anya menghela napas kasar. "Kami beberapa tim medis sudah berusaha dalam hal ini, namun kehendak Yang Maha Kuasa tidak dapat kita cegah," ucap dokter Anya. Kemudian kembali menarik nafas. "Dengan berat hati kami menyampaikan dan turut berdukacita atas meninggalnya suami Anda. Suami Anda pada saat itu meninggal di tempat."
Ucapan dokter Anya bagai petir menyambar di siang bolong. Berita dukacita itu sangat melukai hati dan perasaan Eleanor. Kabar yang tidak ingin ia dengar, akhirnya terjadi saat ini.
"Albert.....!" gumam Eleanor berurai air mata. Dadanya begitu sesak. Kemudian wanita rapuh itu teringat kepada ke-dua putrinya, dan rasa ketakutan itu semakin besar. "Putri-putriku? Mereka selamat kan dok? Mereka selamat kan?" tangis Eleanor semakin pecah sembari mengguncang ke-dua bahu dokter Anya.
"Ke-dua putri Anda berhasil melewati masa kritisnya, namun mereka koma akibat benturan keras di bagian kepala." Jelas dokter Anya dengan berat hati.
"Ya Tuhan," seru Eleanor sembari memejamkan mata, tangannya mendekap dadanya yang begitu sesak. Sungguh dua kabar sekaligus itu membuatnya ingin berhenti bernafas.
"Dok, jenazah atas nama Albert sudah bisa dibawa oleh pihak keluarga," ucapan salah satu perawat yang baru datang membuat Eleanor tersadar. Kemudian tangisnya kembali terdengar.
*
__ADS_1
Satu minggu berlalu, namun kondisi Aira maupun Aura tidak ada perubahan. Sedangkan biaya untuk pengobatan, terutama menjalankan operasi tidak dapat Eleanor penuhi.
Selama itu ia mengandalkan dari santunan atas meninggalnya suaminya, dan juga dari pihak tersangka tabrakan. Namun biaya itu sudah habis dari batas yang di tentukan, sementara Eleanor sendiri sudah tidak bekerja lagi.
Biaya operasi Aira maupun Aura memakan angka nominal yang besar, seorang Eleanor sangat mustahil mampu mendapatkan uang dalam jumlah tersebut.
Puk!
Tepukan di salah punggungnya membuat Eleanor sadar dari lamunannya. Dengan segera ia mengusap air mata yang sejak tadi membasahi pipinya.
"Ada apa?" tanya seseorang itu.
"Dok," seru Eleanor, ternyata orang itu adalah dokter Anya.
"Apa kau butuh pekerjaan? Hmm, kebetulan orang tuaku kekurangan asisten rumah tangga. Apa kau berminat?"
Spontan saja Eleanor mengangguk dengan cepat, selama ini ia memeng sedang mencari pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar, namun keinginannya itu tentu saja tidak mudah, apa lagi dia hanya tamatan SMA.
"Aku mau sungguh sangat mau," sahut Eleanor.
"Baiklah, kau bisa bekerja sekarang juga. Aku sendiri yang akan mengantar ke rumah orang tuaku. Tapi gajinya—"
"Berapapun akan aku sanggupi," jawabnya dengan cepat. Hal itu membuat dokter Anya mengangguk.
*
__ADS_1
Satu minggu bekerja sebagai pelayan. Tiba-tiba Eleanor mendapat tawaran yang tentu saja membuat semua orang kaget dan tak percaya. Karena sangat memerlukan uang dalam jumlah banyak dalam minggu tersebut membuat Eleanor menerima tawaran itu.
"Mulai sekarang panggil Mommy dan Daddy. Sayang, mungkin ini sangat berat untuk kau jalani, namun Mom sangat menginginkan kau menjadi menantu kami. Putra kami memang pria yang pribadinya buruk, namun Mom percaya suatu saat kau dapat mengubah keburukannya. Maaf jika Mom sangat memaksakan diri dan egois." Begitulah perkataan Nyonya tempatnya bekerja, dan tak lain adalah calon mertuanya sendiri.