Mr. Casanova

Mr. Casanova
Part 9. Pelayan


__ADS_3

Lamunan Eleanor membuyar, setelah mobil yang membawa mereka berhenti di basemen apartemen mewah tersebut.


"Sayang, kita sudah sampai. Mari turun ikut Mom," ucap Eleanor yang membuat rasa penasaran baik Aira maupun Aura semakin membuncah.


"Mom, kenapa kita pulang ke sini?" tanya Aura sembari ikut turun dengan pandangan tak lepas dari apartemen mewah tersebut.


"Iya Mom," tambah Aira, sama halnya dengan pandangan aneh.


Dengan lembut Eleanor membawa mereka, kemudian berbicara langsung pada intinya.


"Sayang, sekarang Mom, sudah dapat pekerjaan. Kita akan tinggal di apartemen majikan Mom. Mom, bekerja sebagai pelayan sayang," ucap Eleanor dengan penjelasan yang dapat di tanggapi oleh ke-dua bocah imut tersebut.


"Jadi rumah kita bagaimana Mom?" tanya Aura seakan mengingat rumah yang selama ini di tinggali bersama mendiang sang Daddy. Padahal itu hanya rumah dinas, kebetulan Albert berprofesi sebagai guru di sekolah SMA. Selama ini ia belum memiliki rumah pribadi.


"Sayang, itu bukan rumah kita lagi. Untuk saat ini kita akan tinggal di sini. Hmm, kalian tenang saja, kita sama sekali tak kekurangan apapun. Apa kalian ingat Oma? Ya, ini adalah apartemen milik putranya Oma," jelas Eleanor dengan berbohong, ia terpaksa menyembunyikan statusnya karena bagaimana pun ke-dua bocah ini belum akan paham.

__ADS_1


Mendengar penjelasan Eleanor, baik Aira maupun Aura saling mengangguk, seakan paham. Hal itu membuat Eleanor bernafas lega karena tidak perlu banyak penjelasan.


Dengan senyuman bahagia dari luar, Eleanor menggandeng lengan Aira dan Aura, sementara barang bawaan mereka dibantu oleh supir pribadi yang memang ditugaskan untuk mengantar maupun menjemput Eleanor dalam berpergian.


Sepanjang langkah menuju unit apartemen mewah itu, baik Aira maupun Aura masing-masing tersenyum, saling mengagumi keistimewaan unit apartemen tersebut.


Klek!


Dengan langkah bebas, mereka masuk begitu saja. Baik Aira maupun Aura sangat terkagum dengan interior ruangan tersebut, sampai pemandangan tak pantas mereka tonton.


"Sayang, lihat kemari!" seru Eleanor dengan tegas, bahkan memaksakan menarik ke-dua bahu putrinya untuk membalikkan badan dengan suara begitu lantang, hingga membuat dua sosok yang sedang bermesraan di atas sofa menghentikan kegiatan manis mereka.


Dengan spontan Alexei mendorong wanita yang sejak tadi berada dalam pangkuannya. Mereka kaget dengan kedatangan Eleanor dan ke-dua putrinya.


Eleanor membawa ke-dua putrinya setelah keadaan berubah. Mereka melewati Alexei dan wanitanya. "Sayang, kalian masuk terlebih dahulu ke kamar, Mom ada pekerjaan sebentar," ucap Eleanor dengan suara lemah lembut, ia berusaha tidak terlihat emosi dihadapan mereka. Tanpa banyak bantahan atau pertanyaan, mereka mengikuti apa yang di titahkan, ya begitulah didikan yang Eleanor terapkan selama mengenali ke-dua bocah imut tersebut.

__ADS_1


Eleanor tersenyum miring, memberanikan diri memandang ke arah Alexei, hingga tanpa sengaja pandangan mereka bertemu.


"Al, inikah wanita yang kau nikahi? Inikah pelayan yang sudah merebut yang seharusnya menjadi gak milikmu?" oceh wanita berpenampilan elegan tersebut, sembari memperhatikan Eleanor dari ujung kaki hingga berakhir di wajahnya.


Wanita itu sangat menganggap remeh kepada dirinya. Seakan dirinya bila dibandingkan dengannya tidak ada apa-apanya.


Melihat Alexei diam saja membuat Eleanor mendapat kesempatan untuk berbicara, sejak tadi umpatan dalam dirinya tidak mampu di tampung olehnya.


"Apakah peringatanku waktu itu sama sekali tak kau hargai? Bukankah sudah aku katakan, jangan pernah membawa seorang wanita pun ke tempat ini selain itu keluargamu!" cecar Eleanor tanpa merasa takut, rasa takut itu hilang begitu saja, jika itu sudah menyangkut ke-dua putrinya. "Dan kau juga, apa urat malumu—"


"Al, dia berani merendahkan ku!" pekiknya sembari menunjuk ke arah Eleanor, wanita itu menampakkan wajah murungnya.


Alexei menatap Eleanor dengan mata elangnya, namun jangan berpikir jika Eleanor takut dengan hal itu. Bahkan Eleanor melanjutkan langkahnya dengan hati tenang.


"Al, aku sangat benci pelayan itu! Segera ceraikan dia!" wanita itu kembali memekik dengan suara lantang dan manja.

__ADS_1


Eleanor tersenyum miring di balik pintu kamar, dia mendengar seruan wanita itu. Namun siapa sangka hatinya seperti di sayat sembilu tepat di ulu hatinya.


__ADS_2