
Drrrtt
Getaran ponsel di saku celana Billy menjadi pria itu tidak merespon pertanyaan Eleanor. Ia langsung menjawab panggilan itu karena panggilan itu ternyata dari Mommy Luna.
Karena paham Eleanor pun menunggu hingga Billy usai menerima panggilan. Dengan hati gelisah dan penuh teka-teki wanita berparas cantik itu mengerak bola matanya.
Hingga perkataan Billy membuatnya tersadar. "Nona, saya harus segera pulang," kata Billy setelah menutup panggilan telepon.
Dengan kening berkedut Eleanor menatap Billy. "Ada apa dengan Mommy?"
"Nyonya, hanya sekedar menanyakan keadaan Tuan. Seperti beliau mengetahui apa yang terjadi dengan Tuan," jelas Billy sesuai yang memang terjadi. Pria itu pun bergegas melangkah menuju pintu apartemen, sementara Eleanor masih duduk dengan penuh tanya.
"Siapa Maura Timothy?" gumam Eleanor masih penasaran.
*
Siang ini Eleanor punya janji temu di rumah sakit dengan Adik iparnya, yang tak lain adalah dokter Anya Brylee.
Eleanor berjalan menyusuri koridor rumah sakit milik keluarga, yang tak lain adalah atas namanya. Karena Anya memilih ditemui di ruangan kerjanya, membuat Eleanor sedikit berjalan melalui ruangan yang lainnya.
Wanita cantik itu berjalan dengan anggunnya. Senyuman yang manis itu tak luput dari bibirnya. Setiap dokter maupun suster yang kebetulan berpapasan dengannya menyapa dengan hormat, mereka tau siapa sosok wanita tersebut.
Tok tok
Eleanor mengetuk pintu ruang kerja Adik iparnya, bagaimanapun ia harus menghargai dan tidak masuk begitu saja.
Namun sudah dua kali ia mengetuk tidak mendapat jawaban. Hingga membuatnya kembali mengetuk.
__ADS_1
"Nona, dokter Anya sedang di ruang dokter Jimmy, sebentar lagi akan kembali. Sebaiknya Nona masuk saja dan menunggu beliau di dalam," ucap suster yang kebetulan lewat.
Eleanor mengangguk. "Terima kasih Sus," balas Eleanor dan tak lama bergegas membukakan pintu yang memang tak terkunci.
Setelah masuk wanita itu menarik nafas dan menghembuskan secara perlahan. Ruangan berukuran sedang itu membuatnya sedikit nyaman.
Eleanor menyunggingkan senyuman lebarnya mendapati bingkai foto yang memang terpajang di sisi lemari. Itu adalah foto keluarga, di mana terdapat ke-dua mertua, Adik iparnya dan suaminya pada saat mereka masih kecil.
Ketampanan Alexei tidak memudar hingga tumbuh dewasa sampai saat ini.
"Kau memang sangat tampan. Lihatlah kau memang pelit senyum," gumam Eleanor mengoreksi ekspresi Alexei yang dianggap pelit menebarkan senyuman.
Hmm,
Deheman di ambang pintu membuat senyuman Eleanor memudar, ia sedikit merasa kaget atas kedatangan Adik iparnya yang sama sekali tak ia sadari karena tengah asik memperhatikan suaminya dalam foto tersebut.
"Kau nya saja yang sangat fokus dengan foto tersebut hingga sama sekali tak menyadari kedatangan ku." Ternyata Anya menyadari apa yang tengah di pandangi Kakak iparnya.
"Dia memang mahal senyum, tapi itu sangat mengagumkan bagiku," ucap Eleanor tanpa malu mengakui sosok pria yang tengah memporak-porandakan isi hatinya.
Mendengar hal tersebut dahi dokter cantik itu mengerut dan menjadi tanda tanya yang besar. Ia pun segera menyusul, ikut duduk di sebelah Eleanor.
"Jangan katakan jika kau sekarang jatuh cinta padanya?"
Dengan raut waja serius, bahkan tangan itu merengkuh ke-dua sisi bahu Eleanor. Anya menanyakan soal itu.
Dengan spontan ia menggelengkan kepala berkali-kali, ingin menyangkal atas pertanyaannya sendiri.
__ADS_1
"Tidak, tidak mungkin!" gumamnya dengan tatapan serius. Sementara Eleanor menelan ludah, belum bisa memberi jawaban.
"Hmm, bisa kau lepaskan dulu tanganmu? Soalnya sedikit terasa sakit,"
"Maaf, Kakak ipar. Hmm, aku sedikit bersemangat. Sekali lagi maaf." Anya pun langsung melepaskan ke-dua tangannya, ia memang sedikit meremas bahu itu saking semangatnya.
Eleanor mengangguk sebagai jawabannya.
"Jawab aku!"
Sebelah alis Eleanor tertarik karena tidak paham dengan apa yang di katakan oleh Adik iparnya.
"Ingin bicarakan apa? Hingga mengundangku untuk ke mari?" bukannya menjawab, malah wanita dengan senyuman manis itu melayangkan pertanyaan.
"Jawab pertanyaan ku dulu!"
"Pertanyaan yang mana?"
Huh..... Anya memejamkan mata sembari menghembusian nafas jengah. Ternyata Kakak iparnya itu melupakan pertanyaannya atau memang pura-pura melupakan. Karena penasaran membuatnya kembali mengulangi.
"Apa kau jatuh cinta atau sudah memiliki perasaan sama pria brengsek itu?"
Mendengar pertanyaan itu spontan saja Eleanor mengigit bibir bawahnya.
"Kakak ipar!" seru Anya menekankan.
"Iya, aku mencintainya. Aku mencintai Kakak mu!"
__ADS_1
Deg