
"Aku mohon, izinkan mereka tinggal bersamaku. Aku pastikan tidak akan merepotkan ataupun membe—"
"Jikapun aku menolaknya, kau akan pasti menang! Inilah yang membuatku sangat membencimu! Seorang yang berasal dari pelayan, tiba-tiba menjadi Nyonya besar!" dengan sorot mata tajam Alexei kembali mencecar Eleanor. Kembali melontarkan kata-kata yang merendahkan dirinya.
Sementara Eleanor hanya bisa mengepalkan tangan untuk menahan sesak di dadanya. Ucapan pria itu tentu saja melukai perasaannya, namun kembali lagi kepada kenyataannya.
"Tunggu! Aku belum selesai bicara," ucap Eleanor hingga menghentikan langkah Alexei tepat di ambang pintu. "Aku mohon selama mereka tinggal di sini, jangan pernah bawa wanitamu kemari!"
Mendengar perintah yang di layangkan Eleanor, membuat rahang Alexei mengeras. Tangannya terkepal erat. Pria yang berkuasa selama ini, kini di kendalikan oleh seorang yang awalnya hanya pelayan.
Alexei sangat murka, namun karena suatu hal ia tidak bisa berbuat banyak.
Tanpa ingin menjawab, Alexei melanjutkan langkahnya keluar dari ruang kerja dengan tangan memegang sebuah cek. Sementara Eleanor hanya bisa menghela nafas.
Wanita itu bisa bernafas lega, karena keinginannya tinggal bersama ke-dua putrinya terwujud. Walau sebenarnya belum mendapat kepastian atau keikhlasan dari Alexei.
__ADS_1
Tidak ingin berlama-lama seorang diri, Eleanor juga beranjak dari kursi duduknya, melangkah keluar dengan perasaan penuh salah.
Tiba di kamar miliknya, Eleanor segera membaringkan tubuh lelahnya. Ternyata seharian ini, bahkan hampir satu minggu ini ia menghabiskan waktu di rumah sakit.
Oleh kuasa Tuhan, ke-dua putrinya selamat. Berhasil melewati maut dan dinyatakan sembuh. Dan lusa mereka diperbolehkan pulang, dengan syarat jalan rawat.
Aira maupun Aura adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang ini, oleh karena itu Eleanor berjanji kepada dirinya sendiri untuk bertanggungjawab penuh atas mereka. Apapun yang terjadi, ia siap untuk menghadapinya.
"Albert, aku berjanji akan menjaga dan merawat mereka dengan baik," gumam Eleanor di balik selimut.
*
Klek!
Pintu kamar rawat yang di tempati Aira dan Aura, di buka begitu saja oleh Eleanor. Senyuman bahagia terukir indah di wajahnya.
__ADS_1
Bagaimana tidak, ke-dua bocah cantik itu mengulum senyum manis, menyambut kedatangannya.
"Mom," panggil mereka dengan serempak.
"Iya sayang, hmm kalian cantik sekali," puji Eleanor sembari mengecup pipi Aira maupun Aura silih berganti. Saat ini mereka mengenakan bando bermotif imut. Bando itu adalah pemberian Mommy Luna. "Oma, mana sayang?"
"Oma, barusan pulang Mom," sahut Aura, sementara Aira menanggapi dengan anggukan kepala.
"Oh," Eleanor ber oh ria. "Sayang, apa kalian sudah siap? Hari ini kalian sudah diperbolehkan pulang, jadi bersiap-siaplah sekarang." Dengan raut wajah bahagia, Eleanor berujar, sembari memasukkan beberapa potong pakaian Aira dan Aura.
Sama halnya dengan kembar identik tersebut, mereka juga sangat senang mendengarkannya. Bagi mereka tempat saat ini sangat membosankan, mereka rindu dengan suasana yang sebelumnya.
"Mom, Dad mana? Kok sampai sekarang Dad, belum juga temui kami?" pertanyaan Aura membuat tangan yang tadinya cekatan memasukan kain ke dalam tas membeku. Pertanyaan Aura baginya sangat sulit untuk di jawab dengan jujur saat ini. Selama ini ia berbohong, ketika dia bocah itu menanyai tentang Daddy mereka.
"Mom!" seru Aira karena tak kunjung mendapat jawaban.
__ADS_1
Eleanor mengigit bibir bawahnya, berusaha menyembunyikan sesuatu yang sangat menganggu pikirannya. "Sayang, kita akan menemui Daddy. Pulang dari sini, kita langsung ke tempat Daddy," ucap Eleanor pada akhirnya sembari mengembangkan senyuman seperti biasanya.
"Hore, terima kasih Mom!" seru bahagia mereka sembari memeluk Eleanor dengan girangnya. Sementara Eleanor memejamkan mata, dadanya terasa sangat sesak. Matanya memerah menahan sesuatu.