Mr. Casanova

Mr. Casanova
Part 14. Cinta Memang Buta


__ADS_3

Mata Anya terpejam usai mendengar jawaban dari Kakak iparnya. Jawaban yang tak pernah terduga, bagaimana mungkin wanita yang pernah di tolong itu memiliki perasaan kepada Kakaknya. Mungkin ini bukan masalah besar untuknya, justru ia sebagai Adik sangat bersyukur karena wanita sebaik dan selembut seperti Eleanor mencintai Kakaknya dengan tulus, namun nyatanya ia menentang karena pria itu memiliki kepribadian buruk dan sangat buruk.


Dengan wajah tertunduk Eleanor menghela nafas, dari raut wajah Anya ia sudah dapat menyimpulkan jika dokter cantik itu kaget dan tidak suka dengan pengakuannya.


"Maaf, tapi itulah kenyataannya. Aku sudah berusaha kuat untuk tidak memiliki perasaan, dan bahkan sangat berusaha, tapi_"


"Tapi kau kalah!" Anya spontan memotong perkataan Eleanor dengan raut wajah cemberut. "Kau tidak salah, tapi hatimu yang salah. Hmm, karisma Kakak memang begitu kuat, wanita manapun tidak dapat menolaknya, termasuk kau Kakak ipar!" masih dengan wajah cemberut Anya meneruskan perkataannya yang membuat Eleanor malu dan sulit bernafas.


Sementara sosok yang sedari tadi berdiri tegak di ambang pintu yang sedikit terbuka menegang tanpa suara. Begitu kaget dan tak percaya dengan apa yang sedang di dengarnya barusan.


Dengan detak jantung berdebar sosok itu lantas melangkah meninggalkan tempat itu sebelum ada orang yang menyadari kehadirannya seperti seorang menguping. Bahkan lebih bahaya lagi jika ke-dua sosok yang di dalam sana menyadari kehadirannya.


Suasana yang tadinya hening kini menjadi lebih berwarna ketika Anya beranjak bangkit dan memberikan sebuah gelas berisi jus kepada Eleanor.


"Minumlah Kakak ipar, mungkin ini bisa sedikit menyegarkan tenggorokanmu. Ku lihat kau sedikit tegang," ucap Anya seakan paham dengan kondisi yang sedang dirasakan oleh Eleanor.


Dengan mengigit bibir bawahnya Eleanor meraih gelas berisi jus tersebut dari tangan Anya dan langsung menyesapnya hingga tersisa setengah gelas. Benar saja usai menyesap jus tersebut sedikit menyegarkan tenggorokannya.

__ADS_1


Hahah.....


Anya tiba-tiba terkekeh seperti seorang kesurupan, hal itu membuat dahi Eleanor mengernyit karena heran.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Eleanor dengan mata menyelidiki.


"Apakah aku terlihat lucu?" bukannya menjawab Anya malah melayangkan pertanyaan yang tak kalah lucunya. "Tentu saja aku baik-baik saja Kakak ipar, yang sedang tidak baik-baik saja itulah kau Kakak ipar!" Anya kembali terkekeh lepas hingga matanya mengeluarkan air mata saking lucunya menurut dirinya.


Sementara Eleanor sedikit menarik bibirnya, ia juga ikut tertawa, namun hanya sekedar tertawa ringan.


"Cinta memang buta, tak memandang." Dengan raut wajah serius Anya berucap sembari duduk kembali tapi kali ini duduk saling berhadapan. Aku sama sekali tak menyalahkan perasaanmu, kau berhak untuk mencintai siapapun."


Dengan sudut mata menyipit Anya pun bertanya. "Apa maksud dari ucapanmu?"


Eleanor tak lantas menjawab, wanita itu terdiam sesaat sembari melebarkan pandangannya ke seluruh arah isi ruangan tak begitu luas tersebut.


"Ya, baru kali ini aku jatuh cinta. Baru kali ini aku mencintai seseorang," jawab Eleanor dengan spontan tanpa merasa kaku.

__ADS_1


Karena sudah paham Anya pun hanya bisa mengangguk-angguk.


Tok tok


Ketukan pintu lantas membuat ke-duanya saling menoleh ke sumber suara. Pintu yang setengah terbuka membuat mereka dapat melihat siapa yang datang.


"Selamat siang Nona, maaf jika kedatangan saya menganggu." Dengan canggung Billy menyapa dan sedikit kaget atas kehadiran Eleanor di sana.


"Tidak masalah Bil, silakan masuk." Anya menyambut kedatangan Billy, asisten pribadi sang Kakak. Billy pun masuk sesuai yang diperintahkan.


"Nona, kedatangan saya ke sini untuk menyerahkan berkas," ucap Billy dan lantas menyerahkan sebuah map.


"Seharusnya Kak Al yang datang, kenapa dia memerintahkan kamu?" dengan bibir mengerucut Anya menyambut sebuah map tersebut.


"Kebetulan Tuan sedang ada pertemuan yang tak bisa di tinggalkan Nona, maka dari itu saya di utuskan," jelas Billy yang juga tidak paham dengan apa yang diperintahkan. Bahkan ia sudah tau jika Alexei sebelumnya memberitahukan jika ia sendiri yang akan datang ke rumah sakit dan sesuai jadwal tidak ada pertemuan, namun entah kenapa semuanya jadi berubah seperti ini. Jujur Billy tidak paham.


"Jadi maksudnya menemui ku tidak penting begitu?" masih dengan wajah cemberut Anya menggerutu kepada sang Kakak.

__ADS_1


Baik Billy maupun Eleanor tak menjawab pertanyaan Anya yang di tujukan kepada Alexei.


__ADS_2