Mr. Casanova

Mr. Casanova
Part 7. Dad Sudah Di Atas


__ADS_3

Dalam waktu tempuh dua puluh lima belas menit, kini mobil mewah itu terparkir di sebuah makam umum, di pikiran kota.


Aira maupun Aura memandang pemandangan yang aneh, ke-duanya saling memandang dengan menyipitkan mata. Dari sorot mata mereka menggambarkan suatu pertanyaan.


"Sayang, ayo kita turun," ucap Eleanor, seakan pandai mengabaikan gerak-gerik dari ke-dua putrinya. Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Eleanor turun terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, Aira maupun Aura ikut menyusul, walau ada kebingungan bagi mereka.


"Mom, katanya mau ketemu Dad, tapi kok kita mau ketemu Mom Es?" ucap Aura dengan polosnya, ya mereka paham sekarang, dengan situasi yang pada saat ini mereka kunjungi.


"Iya sayang, kita sekalian kunjungi Dad maupun Mom Es. Ayo," jawab Eleanor dengan berat hati, dadanya sesak untuk mengatakan itu. Entah bagaimana caranya nanti ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Dengan hati girang ke-dua bocah cantik itu mengayunkan langkah, sembari masing-masing mengenggam tangan Eleanor menuju tempat peristirahatan yang biasanya mereka kunjungi, jika ada waktu.


Tiba di tempat yang di tuju, tiba-tiba teriakan Aura mengagetkan Eleanor maupun Aira. "Kok ada foto Dad??" teriak lengking Aura sembari tangannya menunjuk ke sebuah makam di samping Mom Es. Di sana terdapat foto pria dengan wajah tersenyum mengenakan kaca mata.


Aira yang awalnya fokus ke makam Mom Es, mengalihkan pandangannya. Tentu saja ia juga di buat kaget dengan wajah yang amat dikenalinya.


"Mom, kok foto Dad ada di sini?" tanya mereka saling bersamaan.

__ADS_1


Dengan sekuat tenaga, Eleanor merangkul ke-duanya. Memejamkan mata sesaat, sebelum melontarkan sebuah kalimat yang tentunya membuat mereka kaget dan tak percaya.


"Sayang, sekarang Dad sudah di atas bersama Tuhan. Dad, sudah bertemu Mom Es di sana," ucap Eleanor tergugu, masih dengan merangkul mereka. "Karena kecelakaan waktu itu, Dad tidak dapat diselamatkan, dan Tuhan lebih sayang kepada Dad." Dengan mata berkaca-kaca Eleanor memberitahukan yang sebenarnya. Sudah cukup baginya untuk menyembunyikan, dan hari ini ia akan mengatakan yang sebenarnya.


"Jadi Dad, sudah tiada ya Mom?" ucap Aira dengan terisak, air mata pun jatuh membasahi pipi halus itu.


"Sama seperti Mom Es ya Mom?" sambung Aura ikut menangis.


Eleanor hanya mampu mengangguk, berusaha mengembangkan senyuman manisnya. Seakan tidak ingin ke-dua putrinya merasakan amat kehilangan atas ke-dua orang tuanya.


"Sayang, Mom akan menjaga dan menyayangi kalian sepenuh hati. Kalian adalah satu-satunya yang Mom miliki. Mari kita mulai dari awal, karena masa depan kalian masih panjang," ucap Eleanor sembari mengangkat ke-dua lengan putrinya. Membawa mereka pergi meninggalkan peristirahatan terakhir orang-orang yang mereka sayangi.


Di dalam mobil, pandangan Eleanor keluar jendela. Kejadian beberapa bulan lalu mengingatkannya.


*


Tiga hari setelah pernikahan Eleanor dengan Albert, mereka berencana pergi liburan. Anggap saja bulan madu. Sesuai keinginan ke-dua putri mereka, mereka memutuskan liburan ke kota A.

__ADS_1


Hari yang di tunggu pun tiba. Dengan hati girang dan bahagia, Aira maupun Aura berpartisipasi mengemas barang-barang bawaan mereka. Ikut membantu Mom Eleanor memasukan pakaian mereka.


Mobil yang mereka sewa sudah siap membawa mereka ke tempat tujuan.


Albert memilih mengemudi, sehingga tidak memerlukan supir. Eleanor duduk di sebelah kemudi, sementara Aira dan Aura duduk di bagian belakang.


Sepanjang jalan ke-dua bocah itu tidak berhenti mengoceh, ada-ada saja yang menjadi bahan pembicaraan. Hal itu membuat suasana menjadi seru, Albert maupun Eleanor merasa terhibur.


Satu jam lamanya perjalanan. Anak-anak sudah tertidur lelap, mungkin karena kelelahan. Sementara Eleanor dan Albert masih bercakap-cakap.


"Ele, kau adalah wanita yang tepat untukku dan ke-dua putri ku. Kau adalah malaikat yang di kirimkan Tuhan untuk menjadi pasangan ku dan untuk anak-anak," ucap Albert yang menjadi pembicaraan di akhir percakapan mereka. "Aku titip anak-anak, sayangilah mereka seperti anak mu sendiri. Ale, aku sangat mencintaimu!" tangan sebelah kiri itu mengenggam tangan Eleanor.


Tiba-tiba, tepat di tikungan tajam ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menerobos. Dan kecelakaan besar pun tak dapat dihindari.


Aaaa.....


Brak!

__ADS_1


__ADS_2