
Di lain tempat, khususnya di gedung pencakar langit. Sosok pria tampan berdiri tegap menghadap kaca besar yang membentang luas di dalam ruangan itu.
Ucapan demi ucapan tadi masih sangat terngiang jelas dalam benaknya. Terutama pada pengakuan wanita yang telah ia nikahi beberapa bulan tersebut.
Tok tok
Bunyi ketukan pintu menyadarkan perasaannya yang sempat terbawa ke mana-mana. Spontan saja lantas membuatnya beranjak dan berjalan menuju kursi kebesaran tanpa berniat menyambut ketukan pintu tersebut.
"Maaf Tuan, jika kedatangan saya telah menganggu ketenangan Tuan," ucap Billy dengan raut wajah datar, ia tau saat ini bukanlah hal yang baik untuk menghadap sang atasan.
"Jika kau paham kenapa tetap kemari?" dengan rahang mengeras Alexei menjawab dengan sorot mata yang tajam.
Billy menelan ludah, hal seperti ini bukanlah yang pertama, namun sudah sering ia hadapi.
"Apa yang di katakan Anya?"
"Seperti biasa Nona mengomel Tuan. Saya juga ingin sampaikan bahwa Nona Ele juga berada di sana."
"Aku sudah tau!" tanpa sadar Alexei mengatakan itu. Hal itu membuat Billy berani menatap Alexei dengan tatapan kaget hingga tidak sadar menatap dengan tajam. "Kau berani menatapku seperti itu?"
Ucapan Alexei lantas saja membuat Billy ciut dan kembali menunduk. "Saya minta maaf Tuan,"
__ADS_1
Alexei kembali beranjak dari tempat duduknya, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa panjang.
"Persiapkan tempat untuk pertemuanku dengan Maura malam ini. Kau paham Bil?"
"Iya Tuan," jawab Billy seakan sangat paham. "Tuan, segera bukakan mata Tuan. Lihat mana yang berlian asli dan mana yang berlian tiruan. Nona Ele adalah wanita yang baik, walau masa lalunya_ahh, sudahlah tidak ada gunanya juga aku berperang dalam hati." Batin Billy seakan diam-diam mengagumi sosok Eleanor yang tak banyak ia ketahui seluk-beluk masa lalunya.
Karena tak melihat Billy kunjung beranjak dari tempat berdirinya lantas saja Alexei berdehem seperti memberi peringatan.
"Maaf Tuan, ada yang ingin saya katakan lagi," ucap Billy baru ingat dengan apa yang ingin ia sampaikan. "Besok adalah hari pertama ke-dua putri Nona Ele masuk sekolah," sambungnya.
Dengan mata menyipit Alexei menatap Billy dengan tatapan tidak suka. Ia kira bawahannya itu membawa kabar yang lebih penting, namun kenyataannya hanya sebuah kabar yang sama sekali tidak penting untuk dirinya secara pribadi.
"Apa perlu juga kau laporkan masalah seperti itu? Masalah yang sama sekali tidak penting untukku?" dengan nada tajam seperti tajamnya silet, Alexei melayangkan pertanyaan yang berhasil membuat seorang Billy bungkam dan ciut. "Aku sama sekali tak peduli dengan apa yang mereka lakukan! Bukankah kau tau sendiri bahwa pelayan itu sekarang menguasai bahkan pemilik harta keluarga Brylee!" amarah Alexei semakin memuncak, apalagi mengingat bagaimana ke-dua orang tuanya memindahkan kepemilikan harta atau kekayaan keluarga.
"Kembali ke ruangan mu?" ujar Alexei dengan jentikan jari. Tanpa basa-basi lagi Billy pun mengikuti apa yang diperintahkan.
*
Entah kenapa Anya kembali mengundang sang Kakak ipar untuk makan malam di restoran langganan keluarga.
Kali ini Eleanor datang dengan ke-dua putrinya. Hal ini membuat seorang dokter cantik bernama Anya Brylee itu sangat senang, tak menyangka jika keponakan-keponakannya turut hadir.
__ADS_1
Tepat dengan waktu yang ditentukan Eleanor tiba di restoran. Tanpa menunggu lama, ia memboyong ke-dua putrinya memasuki restoran. Kemudian menuju meja yang telah di pesan oleh Anya. Ya, kali ini mereka sepakat memilih meja bergabung dengan pengunjung lainnya. Biasanya mereka lebih memilih ruang privat, namun kali ini ingin merasakan suasana yang berbeda, apalagi sekarang turut hadir si kembar yang sangat menggemaskan.
"Keponakan Aunty, apa kabar kalian sweety?" sapa Anya dengan antusias, bahkan beranjak bangkit spontan mencubit halus kulit pipi chubby Aira maupun Aura secara bersamaan.
"Sakit Aunty," protes Aura dengan wajah semakin menggemaskan bagi Anya.
"Hmm, maaf sweety, Aunty terlalu semangat habis sudah lama tak bertemu," ucap Anya sembari melepaskan tangannya di pipi chubby tersebut.
"Aunty sih terlalu sibuk," jawab Aura dengan memperlihatkan gigit rapatnya.
"Iya sweety, Aunty sungguh tak punya waktu. Ini saja karena jadwal Aunty kosong makanya Aunty pergunakan untuk makan malam bersama dengan keponakan Aunty yang jelek-jelek ini."
"Aunty.....!" teriak Aira maupun Aura secara bersamaan.
Hahaha.....
Baik Anya maupun Eleanor tertawa lepas.
Tidak lama pesanan mereka sudah tertata rapi di atas meja. Ke empat wanita beda usia itu melahap makanan pesanan masing-masing sembari bergurau canda.
Tiba-tiba pandangan Aura tertuju pada sosok yang sangat di kenalinya yang tiba-tiba menempati meja yang tak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Lihat Mom, itu Tuan majikan Mom!" seru Aura sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah pandangannya.