
Kini Ramadhan mengajak Husna ke rooftop sekolahan mereka.
Ramadhan berkali-kali menarik napasnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Sedangkan Husna tangannya saling menggenggam satu sama lain karena Husna juga merasa gugup baru kali ini dia harus berinteraksi dengan lawan jenis hanya berduaan saja
"Husna, aku mau jujur sama kamu, sejak pertama kali kita satu kelas bareng, aku udah suka sama kamu, aku pikir ini hanya sekedar rasa suka biasa aja, tapi sepertinya ini adalah rasa cinta, ya, aku jatuh cinta sama kamu, jatuh cinta dengan kepribadian kamu, jatuh cinta dengan semua yang ada di diri kamu". ucap Ramadhan yang membuat Husna langsung menatap Ramadhan dengan wajah tak percaya.
"kamu mau nggak jadi pacar aku?" lanjut Ramadhan
Kalimat sederhana itu mampu membuat Husna terdiam dengan wajah yang sangat terkejut.
Bagaimana bisa anak laki-laki yang menjadi incaran para wanita di sekolah ini malah menyukai Husna yang tak memiliki apa-apa, yang sekolah saja hanya mengandalkan beasiswa.
__ADS_1
"kok bisa?" hanya jawaban itu yang mampu terlontar dari bibir Husna
"emm, aku juga nggak tau, karena jatuh cinta itu tak perlu alasan, karena jatuh cinta itu yang menuntukan adalah hati kita, nah hati aku memilih kamu, hati aku selalu deg degan saat melihat kamu, hati aku juga merasa sakit saat melihat kamu nangis, aku merasa ingin selalu menjadi alasan kamu untuk selalu tersenyum, aku ingin menjadi satu-satunya sandaran kamu disaat kamu bersedih". ujar Ramadhan
"hah, kapan aku sedihnya?" heran Husna karena dia merasa tak pernah menangis di depan orang lain
"setiap hari sabtu setelah pulang ekskul kamu selalu beziarah ke makam kedua orang tua mu, disana kamu selalu nangis, dan mencurahkan segala isi hati mu, kini aku ingin menjadi orang yang bisa menjadi alasan buat kamu tersenyum, aku ingin menjadi tempat kamu berkeluh kesah, dan menjadi tempat sandaran kamu di saat kamu merasa lelah dengan semuanya, ijinkan aku untuk bisa membahagiakan kamu ya, Husna". ucap Ramadhan
"ya, maaf ya, karena awalnya aku hanya penasaran kamu mau kemana ternyata kamu ke makam orang tua kamu". ucap Ramadhan
"ya nggak apa-apa, tapi untuk soal pertanyaan kamu soal pacaran, maaf aku nggak bisa, aku sadar diri aku ini bukan siapa-siapa aku hanya anak yatim piatu, yang sekolah saja hanya mengandalkan beasiswa, dan untuk makan harus bekerja dulu agar bisa makan, aku aja untuk memiliki teman di sekolah aja malu karena aku nggak punya apa-apa, hanya Mita yang benar-benar menjadi teman aku itu juga Mita yang memaksa ingin tetap berteman denganku walau aku tak punya apa-apa" ucap Husna
Husna menarik napas untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
" dan sekarang kamu mau jadi pacar aku, aku jujur senang bisa disukai cowok seperti kamu, tapi apa kata teman-teman lain coba kamu yang memiliki segalanya malah memilih cewek yang nggak memiliki apa-apa". ucap Husna
"aku nggak peduli omongan orang, karena yang menjalani ini hubungan kan aku dan kamu, jadi mau ya kamu jadi pacar aku, aku benar-benar cinta sama kamu tulus". ujar Ramadhan
"iya aku mau". akhirnya setelah beberapa menit Husna memikirkan jawaban untuk Ramadhan, akhirnya Husna menerima Ramadhan menjadi kekasihnya.
Hari-hari pun berlalu sampai saat ujian sekolah selesai Ramadhan melamar Husna untuk menjadi istrinya.
Awalnya Husna tak menerima lamaran Ramdhan karena Husna merasa tak sepadan dengan keluarga Ramadhan apalagi Husna merasa ibunya Ramadhan tidak menyukai Husna karena tau Husna anak yatim piatu dan tak memiliki apa-apa.
Namun, Ramadhan terus meyakinkan Husna agar mau menerima lamaran Ramadhan bahkan saat setelah pulang dari pengumuman kelulusan disekolahnya Ramadhan datang bersama kedua orang tuanya untuk melamar Husna.
Dan Husna akhirnya menerima lamaran Ramdhan dan sebulan kemudian Ramdhan dan Husna resmi menjadi suami istri sah secara negara dan agama.
__ADS_1