
...---...
...Pak Arham, saya pengen jadi sandal bakiak aja, deh. Biar kemana kemana sama Pak Arham terus....
...---...
"Astaga anak-anak! Materi sudah saya jelaskan semua, dan kalian selalu bilang 'paham pak, paham pak'. Tapi lihat sekarang? Satu angkatan hanya beberapa anak saja yang mepet KKM. Apa kalian tidak belajar sebelumnya?"
Suara bariton tegas itu membuat para siswa menundukkan kepala dalam. Mendengarkan sepatah demi patah kata yang menusuk hingga relung jiwa mereka. Aira bergeming meraih gunting kuku kemudian mengguntingnya tanpa memerdulikan ocehan dari gurunya. Bangku Aira sangat strategis. Jadi aman aman saja jika ia bertingkah. Bahkan berulang kali Aira mencontek, tidak ada satupun guru yang tau. Ia mendesah kesal, melihat teman sebrangnya-Dandi. Aira menggerakkan kakinya memanggil. "Stt! Dandi! Woi, jangan pura pura budek lo."
"Ck! Napa panggil gue? Lo perhatiin aja guru kesayangan lo yang kerasukan banteng ngamuk itu," Dandi menaikkan dagu memberi isyarat pada Aira.
"Guru kesayangan, mata lo buta?!"
Aira melengos lalu menghadap tubuhnya ke depan. Melihat sang guru menulis beberapa tugas remedial dipapan tulis dengan tergesa gesa. Bangku disini dibuat satu bangku satu anak. Jadi kemungkinan untuk mereka saling berdiskusi saat ujian sangat minim. Tapi, mereka tidak sadar kalau anak anak milenial jaman sekarang pada canggih. Menyembunyikan ponsel pintar di bawah meja dan menutupi dengan rok atau kalau laki laki dengan pahanya. Dan yak! Mereka lebih ganas dengan mem-browsing jawaban di internet. Hahaha! Ini jadi rahasia kita saja, ya!
Pak Haram-maksudnya Pak Arham tengah menahan kesal pada murid murid nya. Berdehem sejenak untuk menenangkan dirinya yang kalut. "Apa? Kenapa kalian diam saja?"
"Lha terus saya harus gimana pak? Kalau tidak diam memperhatikan di depan. Katanya tadi suruh diam dan memperhatikan dulu," Arham menggeram menarik semua rambutnya gemas. Belum genap satu tahun ia bekerja sebagai guru honorer di sini. Membuatnya pusing tujuh keliling. Jawaban dari Qonita benar benar menjadikan atmosfer di sekitar Arham memanas.
"Ya Tuhan! Tulis apa yang saya tulis di depan. Kalian ini benar benar-AKHH."
Aira berdecih, ia berhasil memotret tugas dari Pak Arham di papan tulis. "Sudah saya foto pak, tugasnya. Nanti saya kirim kan di grup kelas."
"Siapa yang mengijinkan kamu mengoperasikan hp pada jam pelajaran saya, hmm?" tubuh Aira membeku lantas mematung di tempat. Seolah ditusuk ribuan belati ke dalam hatinya. Hp Aira terjatuh hingga terdengar bunyi nyaring. Ingatkan dia untuk menagih ganti rugi kepada Arham jika hp tercintanya lecet.
__ADS_1
"Kampret, mati gue!" batin Aria bergejolak. Cengengesan mengambil hp yang sempat terjatuh. Ia terjingkat mendapati layarnya tergores membentuk lengkungan.
"Ma-maaf pak..."
Hanya itu yang bisa keluar dari bibir tipis Aira. Ia memberanikan diri menatap manik coklat milik Arham. "Anak-anak, saya rasa waktu tiga menit cukup untuk menulis ketentuan remedial dari saya. Minggu depan silakan membawa karung beras satu kelas satu saja untuk mengumpulkan barangnya. Dan perwakilan kelas meletakkannya ke ruang guru di belakang meja saya."
"Apa apa an ini woii!! Sandal bakiak?!" celetukan Damian membuat kepala Aira menoleh empat puluh lima derajat dari bangku. Mengerutkan keningnya seraya memperhatikan gerak gerik Pak Arham, yang sok coolnya itu membenarkan jam tangan.
"Yap! Benar sekali, biar antimaenstream gak monoton. Yang hanya mengerjakan tugas lalu mengumpulkan ke saya. Kita adakan remedial ini lebih meriah lagi. Kalian bisa beli sandal bakiak dari kayu dan mengukirnya. Ditulisi 'SMEDGOL SHODAQOH'," Aira menganga lebar atas penjelasan Pak Arham. Yang sangat-sangat tidak masuk akal sekali remedial kali ini. Dan, apa hubungannya sandal bakiak dan pelajaran PPKN?
"Merepotkan banget guru tampan itu! Memangnya nilai kalian pada berapa sih?" Wahyu meregangkan tubuhnya yang kaku. Tersenyum simpul disertai ringisan.
"Nilai ukuran sepatu kalau gue."
Alis Aria mengerut. "Maksudnya?"
"Yak! Cepetan pergi, wahai guru ter-aneh! Merepotkan sekali pake suruh beli bakiak lah, apa lah. Jangan jangan bakiaknya nanti dijual lagi biar bisa dapet duit tambahan," masih terdengar sangat jelas masuk dalam gendang telinga Arham. Ia mendelik, menatap dengan tatapan tajam bak elang yang telah menyiapkan mangsa. Tatapan itu tak lepas dari seorang siswi berpakaian longgar dan jilbab lilit di lehernya.
"Baiklah, jam pelajaran saya sudah selesai. Yang mau istirahat silakan istirahat."
Lelaki itu menyampirkan tas ke pundak kemudian diam melihat beberapa siswa sudah keluar satu. Tapi netranya memandang lamat gadis yang mengatainya tadi. Ia sibuk mengeluarkan sebuah kotak bekal kecil dari tas. "Hei! Kamu, nanti setelah jam pelajaran selesai temui saya di ruang guru!"
Merasa di perhatikan, mata Aira mengekor mengikuti arah pandangnya. "Saya, pak?"
"Bukan. Setan yang ada di samping kamu."
__ADS_1
"Ohh, ya sudah kalau begitu," putus Aira acuh dan melanjutkan kegiatan makan siangnya yang tertunda.
"Huftt! Aira Qiana Gandini, nanti setelah jam pelajaran selesai temui saya di ruang guru!" nada tegas terpancar dari pita suara Arham. Dengan tenang, dia memandangi sekeliling yang lenggang. Serta segera pergi dari hadapan gadis itu. Gila! Sungguh gila berdekatan dengan gadis dungu yang ber IQ sangat minim itu!
...***...
Di tengah tengah jam istirahat sholat, Aira memakai sepatu dengan cepat. Menarik mukenanya tergopoh gopoh. Sial, ia baru saja bertemu Pak Arham. Bahkan kejadian tadi masih teringat jelas pada otak kecil Aira. Ia masih punya malu untuk bertemu. Kania, mengusap gusar keringat yang terus mengalir menghiasi wajah cantiknya.
"Goblok! Napa lo tinggal gue anjir," Kania mengambil kasar mukenanya. Beroman tak enak dipandang. Aira pun menghentak hentakkan kaki kesal.
"Gue ketemu sama guru PPKN, yang kata lo sangat-sangat-sangat rupawan itu!" jelasnya malas. Raut Kania seketika memancarkan kehangatan. Ia merangkul tangan Aira.
Aira yang di perlakukan demikian hanya mendengkus kesal. "Ehh, masa? Dimana? Bagus dong kalau lo ketemu sama Pak Arham. Sekalian cuci mata. Ya, kan?"
Lihat ini! Aira ingin sekali menangkup wajah Kania dan membenamkannya ke karung goni. Membawa karung itu pada pengepul di kapal dan memberikannya pada penjual organ manusia. Biar saja! Ia sungguh geram atas tingkah Kania. "Amit-amit! Cuci mata, mbahmu. Gue malah berharap kagak ketemu Pak Arham."
"Wee! Aira! Lo di panggil Pak Arham sekarang. Katanya, kalau nanti abis pulsek beliau ada acara."
Teriakan menggelegar dari ujung kanan, tepatnya di depan pos satpam membuat Aira tergugu. Tubuhnya seperti di guyur sepuluh dayung air es dalam sekejab. Sudah bisa di pastikan, sahabatnya ini-Kania. Akan mengejeknya.
"Tuh kan, si doi udah kangen aja. Cepetan gih temui Pak Arham. Kalau gue jadi lo mungkin gak akan sia sia in kesempatan emas ini!"
Mata Aira semakin menyipit. Meninggalkan Kania di belakangnya sambil menggeru kasar. "Gue yakin, Pak Haram itu gak mungkin manggil gue kalau bukan karena sesuatu yang merugikan. Pasti gara gara gue sering gosipin dia kali ya, ata--"
"Oh, jadi yang sering bikin rumor itu kamu?" Aira membeku terdengar merembet dari pikirannya menuju sebongkah daging kecil di dada kiri.
__ADS_1
Suara itu....