
Ya, seperti dugaan kalian. Aira tersungut sambil menenteng tas kecil berwarna cream. Berjalan beriringan dengan Arham yang sedari tadi sibuk mengotak atik ponselnya. Kaki jenjang Arham sulit untuk bisa diimbangi oleh Aira. Alhasil, dari pada Aira mengeluarkan banyak tenaga, ia memilih berjalan tenang tanpa memerdulikan Arham. Pupus sudah semua harapan Aira hari ini. Apalagi Fiona dan Wanda hanya bisa gigit jari di kelas.
Niatnya, tadi mereka akan bolos beralasan Aira tengah sakit. Bukan sepenuhnya bohong. Aira sendiri juga punya asam lambung. Mereka akan membeli sebuah alat menjalankan misi besok lusa. Sebenarnya, mereka sudah menyiapkan semua, tetapi hanya kurang alat itu saja. Mereka memilih untuk bolos sambil mencarinya.
Ekspetasi tak seindah realita.
Aira baru merasakan sakitnya pengharapan itu. Ia menghentakkan kaki sebal tanpa menyadari Arham tengah menatapnya dari ujung lorong. Langkah kecil Aira tertinggal cukup jauh dari sang guru. "Pak Arham, saya bisa pulang sendiri kok pak. Beneran deh. Bapak balik aja ke kantor, pasti kerjaan Pak Arham lagi banyak," ucap Aira sesaat setelah ia dekat dengannya.
"Kerjaan saya memang banyak, tapi gampang kok. Kan ada kamu yang mau bantu saya," Arham melirik sekilas kemudian mengkode lewat kerlingan mata agar mengikutinya.
"Loh, saya nggak bilang kalau mau bantu lo pak!"
Arham berdehem sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Gantinya saya nganterin kamu," jawabnya singkat.
"Ya sudah, nggak usah anterin saya pulang pak," Aira berhenti, meraih ujung baju Arham yang lelaki itu langsung ikut berhenti.
"Saya sudah berjanji sama teman kamu. Dan janji itu harus saya laksanakan."
Ketegasan yang nampak dari raut wajah Arham mendadak membuat nyali Aira menciut. Perlahan ia melepaskan genggaman itu kemudian tanpa berkomentar lagi mengikuti jalan Arham untuk ke parkiran depan. Masa bodoh tentang presentasi tugas sosiologi. Tenggorokan Aira tercekat saat lelaki jangkung itu membukakan mobilnya supaya Aira lekas masuk.
Bentar, otak Aira nge bug dulu. Di bukain pintu mobil sama Arham itu rasanya kaya nano-nano gitu. Apalagi pemikiran Aira yang sangat cupet, tingkah Arham seperti cerita di setumpuk novel romance miliknya. Ah, ternyata begini, pipi Aira aja bisa bersemu merah. "Kenapa malah bengong? Ayo masuk, tangan saya pegel."
Tatapan Aira kembali tajam, sialan, sabar kek. Ini Aira lagi menghayati hidup yang agak bisa bergenre romance. Enak juga ternyata, kayak di treat a queen oleh seseorang. "Iya pak."
__ADS_1
Ia langsung masuk dalam mobil putih yang dikendarai Arham. Lelaki itu memasang saltbeat dan tanpa banyak bicara menghidupkan gas, mobil ini melesat menuju gerbang sekolah. Aira menikmati hembusan angin segar dari jendela yang ia buka. Memandang jajaran rumah beserta sedikit pepohonan luar.
"Pak, kenapa kita tidak pakai mobil sekolah?" tanya Aira tiba tiba. Ia ingat banget, biasanya kalau guru ngantar muridnya pulang karena sakit itu pakai mobil yang ada watermarknya. Ini Aira liat, bersih bersih aja.
"Mobilnya di pakai buat jemput anak lomba," datar banget tuh muka triplek! Kan Aira tanya juga baik baik. Setidaknya senyum lah biar dikira ramah. Ini nggak, Aira heran, bener sih Arham itu nggak sejutek tokoh di novel yang dinginnya minta ampun. Tapi, Arham itu kayak nggak ada ekspresi. Paham nggak sih?
"Ooh," gadis itu mengangguk pelan. Lebih baik diem aja deh, daripada ngobrol sama Arham bikin ati panas.
Setelah itu, mereka sama sekali tidak membuka suara. Begitupula dengan Aira yang merasa lebih baik ia main ponsel saja. Biarin disangka tidak sopan, tapi jujur, Aira sedikit risih semobil bersamanya. Mana ditengah mereka, Aira lirik ada tiga toples snack ringan lagi. Tangan Aira jadi gatel buat ngambil. Tidak tidak, gengsi dong kalau ambil duluan. Ini juga Arham, nggak ada niatan buat nawarin Aira makan.
Tapi ngomong ngomong soal Aira kepergok pas jepretin Arham sama pacarnya, semoga saja dia udah lupa.
Mobil Arham masuk dalam perkarangan rumah Aira. Sebelum mereka berangkat tadi, Arham sempat bertanya alamatnya. Aira heran, ngapain tuh guru repot repot nganterin pulang. Ya, selain karena beliau lagi tugas piket. Kan banyak juga kok yang mau ngantar pulang Aira, termasuk Wanda sama Fiona.
Kaki Aira menapak pada halaman rumah, menghiraukan Arham yang sedikit berteriak. Ah elah tuh guru apa nggak capek ngoceh terus. Sampai di depan pintu, Aira memencet bel. "MAMA! AIRA PULANG!" teriaknya kesal sebab tak kunjung di bukakan pintu.
"Ck! Mama kemana sih, apa jangan-jangan masih kelon sama Papa," gumam Aira lirih sambil cekikikan. Ia menabok kepala gemas, bisa bisanya ia berpikir begituan.
"Astagfirullah, ini biasanya kalau mama denger bisa di timpuk bibir seksi gue sampe monyong."
Aira masih setia berdiri sembari terus memencet bel brutal. Tanpa menyadari seulas senyum terbit dari seseorang di belakang. Tubuhnya bergerak gelisah, sambil menggigit bibir bawah. "Astaga, Aira! Kamu itu ya, nggak bisa sabaran dikit apa, hah?!"
Pintu itu terbuka menampilkan Kia berwajah garang dengan daster yang sengaja ia jinjing. Sapu ijuk warna hijau itu siap melayang pada Aira yang terkekeh geli. "Aduh mama sayang, jangan marah-marah dong. Nanti cepet tua loh. Tambah banyak tuh keriput di muka mama."
__ADS_1
"Apa kamu bilang?! Kenapa pulang jam segini? Bolos lagi?"
"No no no, tapi awalnya gitu sih ma. Tapi gara gara guru nyebelin itu, Aira gak jadi bolos."
"Eh ya ampun, terima kasih banyak ya pak, udah mengantar anak saya. Aduh, maklum pak. Anak saya ini memang bandel dari dulu," Aira menyatukan kedua alisnya. Menatap Kia yang membukakan pintu lebih lebar. Dan tubuhnya menyingkir seolah mempersilahkan seseorang untuk masuk.
"Apa apa an sih ma, Aira bisa masuk sendiri!"
"Kamu itu yang apa apaan, Aira! Nggak sopan banget sama guru kamu. Tuh liat ke belakang. Mama nggak pernah ya ngajarin kamu acuh sama tamu. Ayo masuk dulu, pak," eits, Aira perlahan melengok ke belakang mendapati Arham yang menunduk patuh tanpa ekspresi.
"Terima kasih sebelumnya atas tawarannya, bu. Tapi sebaiknya saya langsung pamit saja," senyum Arham lebar sampai menunjukkan ujung gigi taringnya. Hal itu sontak membuat Aira bergidik ngeri. Sama mama aja sok sok an ramah, kalau sama dia tuh muka jadi mlempem. Ya, emang dasar laki laki.
"Yah, padahal saya tadi udah masak banyak. Sayang banget kalau nggak ada yang makan. Mampir makan dulu pak, sekali kali. Ini juga udah jam makan siang."
"Aira bisa abisin semuanya kok ma," sela Aira jengah.
"Diem aja kamu, Ra. Gimana pak? Ada sayur asem, ikan bandeng, tempe goreng, pokoknya mantep semua masakan saya pak. Dijamin nagih," Aira semakin melongo karena Kia. Ini mamanya kesambet setan darimana dah.
Arham masih tersenyum, tidak enak menolak tawaran mama Aira. Lumayan juga bisa mengisi perut kosongnya, karena tadi pagi ia belum sempat sarapan di rumah. "Emm, ya sudah bu, saya mau."
Kia semakin bersemangat, ia mempersilahkan Arham untuk masuk terlebih dahulu. Sebelum ikut masuk Kia memandang anaknya. "Kamu pinter juga cariin mama calon mantu."
Dan saat itu mendadak tubuh Aira merosot.
__ADS_1