My Handsome Teacher

My Handsome Teacher
BAB 4: Kabur Lagi


__ADS_3

"Siapa yang nyuruh kalian video-in saya?" belum sempat hitungan Aira tamat juga tangan Fiona yang belum membidik. Orang itu dengan angkuh menatap mereka bengis. Detik itu, mereka membatu. Cengengesan saat Pak Arham bersidekap dada.


Sudah tidak ada lagi perempuan yang merengek minta putus, dan menyisakan Pak Arham dengan tampang garang. Aira bergeser mundur seraya merampas cepat ponsel dari tangan Fiona. Mampus! Jangan sampai ponsel kesayangannya akan jadi tumbal kedua Pak Arham. Kemarin udah jatuh sampai layar pecah, kali ini Aira tidak membiarkan merosot pada jurang sama.


"Siniin ponsel gue! Sayang banget ponsel mehong gini jadi tumbal Pak Arham," saat beliau masih menatap lamat nyali Wanda mulai menciut. Badan setiang bendera itu berhasil bersembunyi dibalik tubuh berisi Aira.


"Gue gak mau kena masalah lagi, pokoknya nanti kalau tuh sungut banteng dah keluar. Sasarannya Fiona," decak Wanda tepat disamping telinga.


Aira mencebik kesal sambil mecubit lengan Wanda gemas. Menghindari pelototan dari sahabat satunya. "Jangan salah-salahan nyet! Lo tuh sama aja ngibarin bendera merah ke banteng ngamuk. Pasrah aja lah kita."


"Ogah! Mental lemah lo pada."


"Udah puas bisik-bisikannya? Ikut saya ke ruang piket!" tanpa menunggu jawaban mereka, Arham melengos dengan tubuh kekar. Tak ayal hal demikian membuat urat wajahnya mencuat. Salahnya juga, mengapa harus mengajak Thalita ke sini. Bisa gawat jika para murid itu menyebarkan.


Mereka saling menyenggol saat menyadari gerak-gerik Arham yang semakin mencurigakan. Begitupun sebaliknya, Aira hanya mendesah pelan seraya menendang bekas plastik di lantai. "Dimana sopan santun kalian dengan guru?" pertanyaan itu melayang membuat mereka sontak menegakkan tubuh.


"Ka-kami nggak ngapa ngapain kok pak, beneran. Tadi cuma kebetulan lewat," sanggah Wanda yang menemplok pada lemari jurnal. Ia mengusap lembut ukiran bunga sembari menyembunyikan tubuh.


"Nggak ngapa ngapain tapi sambil bawa ponsel?" tanya beliau curiga.

__ADS_1


"Hak kita dong pak! Emang kalau jalan nggak boleh nenteng ponsel? Ih, jahat banget."


Aira dihujami sentilan jari oleh Fiona, perempuan itu berdesis. "Stt! Diem bego, jangan dilawan."


Sudah cukup, ubun-ubun Arham langsung memanas. Tangannya menggeram kemudian dengan tega menggebrak meja ruang piket. Membelakangi mereka yang bersiap memindik keluar. Agaknya, guru muda itu tengah menetralkan pacu jantungnya yang semakin berdetak kencang. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena sudah muak berurusan dengan komplotan Aira.


Benar-benar menguji kesabaran, saat itu juga langkah kecil Haiba menuju ujung pintu. Berkesiap meraih gagang besi itu kemudian dengan senyum merekah bak bunga matahari. Aira menuntun para sahabatnya ikut keluar. Ketiganya berjalan memindik, terus bersandar pada dinding ruang piket. Sangat berhati-hati supaya tidak menimbulkan sedikitpun efek suara.


Merasa sudah agak jauh dari jangkauan Arham, mereka luruh pada kursi depan jelas sepuluh ips satu. "Anjrit! Hoki banget hidup gue, serasa kek abis ketahuan maling."


"Lo emang maling nyet, diem-diem videoin Pak Arham," tukas Wanda mengusap peluh keringat menggunakan ujung jilbab.


"Siapa yang nyuruh video in? Toh, ujung ujungnya gak kena juga. Apes banget gue," Fiona menyejajarkan kedua kakinya yang terasa kebas. Ia menoleh pada Aira tengah sibuk membuka ponselnya. Untung saja, tuh ponsel nggak ikut kebawa sama guru kutub. Bisa-bisa Aira bakal jejeritan lagi di depan mereka.


"Anak setan! Pinter banget sih lo!"


Fiona merebut ponsel itu dan memandanginya lamat. Penglihatannya tidak salah, dalam diam ia bersorak bahagia. "Aira! Gue bangga sama lo. Ih, lo belajar dari mana sih cil. Kok bisa lo punya jepretan mereka?"


"Gampang, pas tadi gue cek aplikasi kamera, nggak sengaja kepencet. Ehh malah kena target. Pinter, kan gue? Foto ini bisa buat ngancam keberadaannya. Apalagi, kalian udah cari tuh sandal bakiak?" tanya Aira membanggakan diri, ia menatap lurus pemandangan di depannya.

__ADS_1


"Eh! Sialan, gue belum cari sandal bakiak!" pekik Wanda yang membuat telinga Aira berdengung. Namun beberapa saat kemudian, Aira tersenyum lebar menampilkan ulang foto yang telah dia jepret tadi. Adegannya persis saat Arham dan perempuan itu saling bergandeng tangan yang jaraknya hanya sekitar tiga centi.


"Ya nggak usah pake nimpuk pala gue lah, santai. Gue juga belum, tenang aja soalnya kita udah punya foto ini. Kita bisa bolos remedial guys, tinggal kasihin ini ke Pak Arham. Nanti kita bakal lolos."


"Lo yakin?" gumam Fiona tak percaya. Ia mengembalikan ponsel pada Aira yang tengah sibuk merangkai imajinasinya.


Kibasan tangan Aira bahkan mengenai bulu mata lentik milik Wanda yang sudah ditimpa maskara empat lapis. "Yakin pake banget, seratus persen top cer dah. Apa sih yang nggak bisa dari kita?"


"Maskara gue luntur, Aira!"


Tawa mereka mengangkasa, tenggelam bersama suara langkah kaki dari siswa yang berdatangan. "Makanya, pake yang waterproff dong! Kismin benget."


Namun, dibalik dinding itu, ada amarah Arham yang tertahan. Tadi ia berbalik guna mempersiapkan ganjaran tepat untuk ketiga muridnya yang durhaka itu. Menyatukan kedua alis sambil menimang keputusan. Tidak apa-apa, ia rasa menghukum dengan cara mohon maaf, tidak akan menimbulkan efek samping apapun.


Saat pemikiran sudah bulat dan terangkai, barulah Arham menoleh pada komplotan Aira. Akan tetapi, matanya membola, ketika mengetahui tidak ada satupun batang hidung mereka dihadapannya. Arham berdecak kesal. "Ck! Tunggu saja, saya bakal cari kamu sampai dapat. Dan ketika kamu sudah berada pada genggaman saya, sekalipun kamu minta dilepaskan. Sampai berdarahpun, saya tidak akan melepas genggaman ini."


Arham mengusap dada bidang agar setidaknya bisa melancarkan kembali peredaran darah yang tadi tersumbat gara gara Aira. Murid angkatan lama itu seharusnya sudah tobat dari segala hal tentang kenakalan, tapi, bukannya tobat malah semakin menjadi jadi.


Aira mengintip dari balik jendela besar, ia dapat melihat dengan sempurna Arham yang meremas kertas. Sampai menjadi bola bola kecil dan melemparkan pada tong sampah dekat komputer. Ahay! Aira kembali terkikik, rasakan pak, ini belum seberapa. Aira kepalang kesal dengan guru muda itu!

__ADS_1


"Rasain tuh pak! Emang enak, ponsel gue jadi korban, pantat gue ngilu gara gara jatuh dari tangga kemarin pas kabur, ini lagi. Mental gue breakdown liat bapak nonyor gue pake tatapan maut," sebenarnya Aira merasa bersalah pada guru honorer itu, belum ada satu tahun. Hidupnya langsung digerecoki oleh Aira. Ya, tapi salah sendiri lah.


"Satu sama pak!" teriak Aira berlari kencang saat mata hitam itu menusuk jiwanya.


__ADS_2