
Aira asyik menyisir rambut tebalnya yang menjuntai sebahu. Bermain sebentar dengan ponsel sampai terbahak-bahak. Bukan tanpa alasan, si Fiona itu cerita kalau ingin balas dendam sama Arham. Ah! Belum tau aja mereka kalau kemarin Aira barusan mengibarkan bendera perang. Mengingat wajah penuh kecewa dari Arham sewaktu mereka berhasil kabur.
Dari tangga, Aira bisa mendengar suara gaduh dari dapur. Ia duduk bersandar pada pengangan tangga berwarna hitam polos. Dengan cekatan, Aira melengok ke bawah. "Ma! Ngapain sih, kok berisik banget? Ngalahin ayam Pak Nur," gerundelan Aira membuat mama Kia berdecak keras. Ia mengangkat sothel yang tadi digunakan untuk menumis kangkung.
"Gini nih, punya anak perawan nggak pernah bantuin mamanya. Kerjaannya cuma makan, tidur, makan, tidur. Mama jadi pengen anak baru lagi."
"Ya udah, bikin aja sama Papa!" Aira tak mengindahkan gerutuan Kia yang dari dulu hingga sekarang seperti tidak ada ancaman lain saja. Pengen anak baru, tinggal bilang sama Papa lah. Gitu kok repot banget sih, Aira kan jadi sebal.
"Berani jawab ya kamu! Sini, turun!"
Kia mengangkat daster bermotif bunga sampai lutut, menatap garang polah anaknya memeluk tiang penyangga tangga. "Bentar, Ma! Ini Aira lagi bikin strategi."
"Alasan aja kamu! Bangun dari situ, terus ikut mama ke dapur," mau tak mau, Aira mengangkat alis memandangi Kia yang berangsur pergi. Namun, mata elangnya masih memindai gerak-gerik Aira sambil berdehem.
"Iya-iya, mama cantik. Aira turun nih! Masih seru-serunya bahas guru nyebelin itu. Ihh, Mama kok juga nyebelin sih!"
Dengan langkah gontai Aira menapak turun satu persatu tangga. Mengekor malas bersama Kia yang bersiap memberikan pisau beserta bumbu bumbu lain. "Daripada kamu bengong kaya setan pojokan, mending bantuin mama motong wortel."
"Aira nggak bengong, Ma! Eh, mama punya sandal bakiak nggak?" sercah Aira kemudian menyeret kursi dan duduk di samping Kia. Ia menumpukan dagu menunggu jawaban. Aira sudah sangat sangat lelah mencari sandal bakiak itu namun tak kunjung ketemu. Masa iya, dia harus nrobos pasar tradisional.
"Bakiak? Buat apa lagi?"
"Ck! Ga tau tuh ma, Pak Haram ngasih tugas remedial suruh beli sandal bakiak terus diukir smedgol shodaqoh," cebiknya menendang keramik kompor.
Tidak butuh waktu lama, Kia pun terbahak sampai memegang perutnya yang kesakitan. "Ya Tuhan! Kreatif banget gurumu, Aira. Mama nggak habis pikir beliau bisa nemu ide kaya gitu."
"Aira aja juga nggak habis pikir, bisa-bisanya dia nyusahin orang. Kan kata Papa kalau menyusahkan orang lain itu nggak boleh ya ma?" Aira menatap wajah hampir keriput Kia dari samping. Ia butuh pembelaan, setidaknya ada yang mau membantunya.
"Kata siapa guru kamu nyusahin? Enggak sayang, beliau menyuruh untuk kalian cari bakiak secara tidak langsung juga mengajari kalian sedekah," papar Kia memberikan peralatan pisau tadi pada Aira. Dan dengan sudut bibir melengkung, ia berikan kode padanya agar mengerti.
__ADS_1
"Sedekah sih sedekah, tapi nggak gitu juga," gumam Aira.
Dan sekarang, harus dimana lagi Aira mencari bakiak kuno itu. Kepalanya sudah hampir meledak seharian hanya karena memikirkan bakiak. Ini beneran Aira harus ke pasar dulu buat bisa dapetinnya? Ck! Tergesa-gesa Aira memotong asal wortel, bahkan tidak simetris. Padahal tadi Kia sempat menyuruhnya untuk dibentuk bunga-bunga.
"Besok Aira mau bolos aja lah ma."
Kegiatan Kia berhenti, melayangkan pandang pada anaknya yang berdesis. "Mau jadi berandalan kamu?"
"Ma! Aira belum bisa nemu sandal bakiaknya, gimana kalau besok Aira dihukum? Mama nggak kasihan sama anaknya yang cantik ini. Nanti kulit Aira melepuh ma, gosong, ihh enggak banget deh," cerocosan Aira bagaikan angin lalu bagi Kia. Perempuan paruh baya itu membiarkan potongan wortelnya berantakan.
"Terus, mama harus bilang wow gitu? Aduh Aira sayang. Mama sampe udah capek nasehatin kamu terus. Udahlah, mama nggak mau tau. Bakiaknya ada kek, enggak kek. Kamu harus tetep sekolah. Kamu kira mama bayar pake daon apa!"
Setelahnya, pembicaraan mereka tidak berlanjut. Diam sambil menangani aktivitas masing-masing. Aira mencebik kesal bahkan bibirnya sengaja ia monyongkan agar Kia paham maksud pembolosannya besok. Ia menarik kembali kursi beraksen kayu jati pada tempat semula. Berdiri menatap Kia yang masih sibuk menggoreng ikan bandeng.
Andai saja, tidak ada tugas membawa bakiak. Andai saja, Pak Haram itu nggak lolos tes ngajar di SMA Edygeols. Mungkin Aira nggak akan uring uringan kaya gini. Ia menatap ponsel diatas meja makan, mendapati notifikasi grupnya.
Wawan,
Fiona tukang bakwan,
Gila lo! Punya dendam kesumat sama Pak Haram nggak kaya gini juga kaless
^^^Aira cantik,^^^
^^^Bct lo Fi! Nggk ush sok peduli^^^
Wawan,
Tau tuh, gmn Ra? Bhnnya udh siap smua?
__ADS_1
^^^Aira cantik,^^^
^^^Aman🤙^^^
Fiona tukang bakwan,
Kalau ada mslh, gue ga tanggung.
Gigi Aira gemelatuk, dan senyumnya tertarik simpul. Tidak perlulah susah susah cari bakiak sialan itu lagi. Dia bakal melaksanakan tugasnya besok. Sekalian sama Pak Haram juga. Kalau sudah begini, Aira tidak akan membolos.
Sekarang yang perlu Aira lakukan adalah pergi ke rumah Wanda buat ngatur ulang strategi. Nggak enak kalau dikolom chat kaya gini terus. Lebih baik, ia meluangkan sedikit tenaga untuk hasil terbaik besok. Hasil tidak akan mengkhianati perjuangan. Eh kebalik, maksudnya-perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Dan hari ini, Aira akan berjuang sekuatnya.
"Aira, boleh mama bicara sebentar?" tanya Kia duduk di hadapannya. Ia mengetuk beberapa kali meja makan berlapis kaca transparan.
"Hm."
Ngomong, tidak, ngomong, tidak, ngomong.
Aduh! Kia membenarkan posisi duduk yang sedari tadi tidak juga mendapatkan kenyamanan. Perlahan, bibirnya terbuka. "Sebenarnya mama mau ngomong sama kamu, Aira. Kalau mama sama papa udah memutuskan bu--"
Kia masih ingin mengambil nafas dalam. Sungguh, bukan perkara mudah untuk membicarakan hal ini pada Aira. Bahkan untuk membuka bibirnya saja, Kia sampai panas dingin. Akan tetapi, orang yang diajak ngomong justru mengeryit heran. Dengan cepat, tangan Aira mengetik sesuatu sambil memencet telpon grub.
"Gue otw! Tungguin gue, anak setan. Selangkah kalian ninggalin gue buat beli seblak. Jangan harap rencana kita bakal berjalan mulus," pekik Aira menghiraukan keseriusan Kia. Dengan masih memakai baju piyama tidur, Aira bangkit lantas menyalami Kia.
"Ma! Aira keluar bentar ke rumah Wanda. Bye ma!"
"Eh, anak! Kamu belum sarapan," Kia mengejarnya sampai ujung pintu. Namun ia tak berhasil mencegah Aira.
Aira menoleh pada Kia yang bersidekap dada, bibirnya terus merapalkan entah apa itu. "Nanti Aira numpang sarapan ke Wanda, ma!" lanjutnya kemudian memasang helm. Aira melajukan motor meninggalkan pekarangan rumah.
__ADS_1
"Buat jodohin kamu sama anaknya rekan kerja papa..." Kia menghela nafas panjang, kembali berkutat melanjutkan masak.