
Lelaki dengan postur jangkung itu meremas rambut kasar. Kepalanya serasa mau pecah saat melihat setumpuk lembar jawaban penilaian harian yang harus ia koreksi satu persatu. Ia bukan tipe guru mengajar dengan berbasis online. Jika ada pilihan untuk mengerjakan tugas offline berbasis lembar kertas, ia akan lebih memilih itu. Baginya, dengan begitu para siswa tertantang untuk mengerjakan.
Sudah banyak bermunculan kasus di tempat mengajarnya saat ini. Bilamana ia berikan penilaian harian dengan online, atau bahkan menggunakan google form, maka dengan sangat cerdik mereka membuka tab baru kemudian tinggal copy-paste jawaban.
Arham Hadrafat Yasnuar, seorang guru honorer yang baru saja wisuda sarjana pendidikan PKN di universitas luar kota. Ia memilih untuk kembali ke kota asalnya lantas mengabdi pada salah satu sekolah di sekitar tempat tinggal. Kepribadian introved Arham harus ia musnahkan sedikit demi sedikit. Rupanya, mengajar beberapa anak dengan karakter berbeda beda menjadi tantangan Arham.
Apalagi saat ia bertemu dengan murid agak sengklek itu. Arham frustasi menghadapi tingkah absurdnya. Sedikit membuatnya bingung, namun kadang membuatnya bisa menikmati warna dunia. Arham dibuat percaya bahwa ternyata, hidup di dunia tidak melulu soal ambisiusnya.
"Mas Arham, lagi nganggur?"
Ia mengedipkan mata agar lamunan itu terbuyar, melihat Pak Hamdan-guru penjasorkes menepuk bahunya pelan. Ingin juga Arham mengangguk agar setidaknya, Hamdan tidak menyuruhnya bermacam macam. Namun yang terjadi ia hanya bisa menunjukkan anggukan kepala. "Tidak mas, ada apa?"
"Gini, ada murid yang mau izin pulang di ruang piket. Kan Mas Arham salah satu guru piketnya, toh? Kasian mereka, temannya ada yang sakit minta pulang. Udah ada sepuluh menit nunggu guru piket," jelas Hamdan melirik pada ruang piket yang terdapat siluet muridnya. Mata Arham juga ikut mengedar lantas terpaku pada punggung ringkih itu.
"Em, Bu Tiar nya nggak ada ya mas?"
"Nah, saya juga udah cari Bu Tiar kemana mana. Tapi ya nggak ketemu. Terus saya bilang ke mereka suruh tunggu sebentar mas," Hamdan mengetuk meja kaca, berpikir keras agar masalah ini cepat teratasi. Umur Hamdan memang lebih di atas Arham, namun ia memanggilnya mas ya agar lebih sopan aja.
"Kelas berapa lo mas?" tanya Arham lagi. Ia menata ulang seluruh lembaran kertas yang tadi sempat Arham buka.
"Dua belas ips satu katanya, itu lo si Aira. Asam lambungnya naik."
__ADS_1
Jawaban Hamdan sontak menjadikan kegiatan Arham terhenti mendadak. Ia menoleh memandang wajah Hamdan yang sedikitpun tidak terdapat sorot kebohongan. "Kok bisa? Tadi dia baik-baik aja loh mas."
"Ya nggak tau juga saya. Coba samperin aja mas."
Entah mengapa hatinya bergetar, ia mengangguk cepat kemudian sedikit berlari keluar dari ruang guru. Mendekati mereka dengan nafas tersengal sengal. Ia melihat Aira bersama teman temannya satu kelompok itu membulatkan mata terkejut. Wajahnya semakin pias saat tatapan Arham tak tersentuh.
Terlebih Aira terus menyenggol lengan teman sampingnya. Ia melirik sedikit dengan bergumam cepat. Sesekali menarik sudut bibir saat memandang Arham dari bawah sampai atas. "Sumpah, ide lo gila! Kok bisa Pak Haram sih yang ke sini?"
"Ya mana gue tau dodol! Lo bilangnya kita harus bolos. Gue nggak tau kalau nih hari yang jaga laki lo," tukas Wanda sangat pelan. Detik itu juga, Wanda menerima pelototan tajam dari Aira.
"Amit amit dah, jangan sampe tuh kanebo kering jadi laki gue."
Gadis yang terus menggerakan bibir itu menempel pada lemari kaca berisikan piala. Menjauhkan diri sendiri dari segala hal yang mungkin akan membahayakan keselamatan. Seperti mata tajam Arham misalnya, Aira kira ini akan menjadi hari bolos termudah untuknya. Eh ya ternyata sama saja, harus melalui Arham terlebih dahulu. Aira harap, guru itu tidak akan mempersulit mendapatkan golden ticket izin keluar sekolah.
"Sudah selesai ngobrolnya?" suara bariton Arham menghentakkan percakapan mereka.
Ketiga murid itu sontak mengangguk cepat dan bergeser membiarkan Arham duduk sambil mengambil surat dipen. Oh ayolah, ayolah! Aira sangat butuh tanda tangan dari Arham. Ini satu satunya kesempatan agar bisa kabur. "Saya dengar Aira sakit, tapi kok kelihatannya sehat sehat aja ya?"
Aira terkesima, ia langsung memegang perut sambil merematnya kuat agar menimbulkan efek kesakitan. "Aduh pak, em saya emang sakit dari tadi. Ini kami juga dari UKS. Saya udah nggak kuat pak," bohongnya.
"Sudah minum obat?" bukannya tidak percaya, tapi mereka sudah banyak melakukan kecerobohan. Arham masih teringat jelas dulu saat Aira beralasan ke kamar mandi ketika ujian berlangsung. Tapi justru dengan alasan seperti itu Aira gunakan untuk membrowsing jawaban ujian di kamar mandi.
__ADS_1
"Sudah pak, tapi kata Aira obatnya nggak mempan. Perutnya masih aja sakit kayak dililit uler pak," Fiona yang sedari tadi diam kali ini ikut buka suara. Ck! Tinggal tanda tangani, lalu berikan pada mereka. Udah selesai! Nggak perlu ribet bertanya seperti ini.
"Reaksi obat itu juga memerlukan waktu, tidak bisa sekali teguk langsung sembuh."
Tangan Aira mengepal kuat disebalik senyum lebarnya. Sialan, bener bener buat tensi darah Aira naik drastis. Bisa tidak kalau proses ini tanpa dipersulit gitu. Toh, nggak ngrugiin Arham juga. Aira menghembuskan nafas panjang. "Iya Pak Arham, tapi saya butuh istirahat di rumah. Tolong ya pak, segera di tanda tangani. Saya sudah capek berdiri terus."
"Em, duduk aja samping komputer. Kursi itu ngganggur."
Fiona dan Wanda mengaga lebar saat jawaban tidak sesuai ekspetasinya itu keluar. Ia kira, Arham akan menjawab, iya bentar ya tahan dulu, atau kalau tidak, iya saya tanda tangani langsung, atau atau yang lebih perhatian lagi, iya sudah saya tanda tangani kamu sekarang pulang terus istirahat biar besok ikut pembelajaran.
"Pak, sumpah ini mah. Daripada sibuk basa basi mulu. Mending langsung coret aja kolom tanda tangannya. Ini kaki saya udah pegel semua," Wanda sarkas! Ia mengangkat alis menantang.
"Ini cuma alasan kalian biar bolos sekolah, hmm?"
Tubuh mereka bergetar, kaki Aira bahkan tak bisa digerakkan saat mendengar tebakan Arham. Tidak, tidak salah jawaban itu. "Bu-bukan pak, kami itu sebenernya mau ngantar pulang Aira. Kasihan pak, udah badannya kecil, gemuk, suruh pulang sendirian "
Asem! Wanda minus akhlak. Sempat sempatnya ia mencibir fisik Aira di depan Arham pula. Mrosot sudah kepercayaan dirinya. Ia menunduk malu seraya meremas ujung jilbab. Menunggu entah respon apa yang diberikan oleh Arham.
"Kalian kembali ke kelas, biar saya yang antar Aira pulang."
What the fu--
__ADS_1