My Handsome Teacher

My Handsome Teacher
BAB 3: Dor! Ketahuan!


__ADS_3

Kuncir kudanya menari disebalik kerudung biru dongker Aira. Sepanjang perjalanan ia tidak henti-hentinya memamerkan senyumnya. Sangat cantik, terlebih Aira sudah menyemprotkan sepuluh semprotan parfum mehong yang kemarin barusan ia beli. Rasanya tuh, tingkat kepercayaan dirinya melonjak drastis.


Sepatu pantofel yang ia kenakan ikut menimbulkan bunyi. Aira berlenggak lenggok bak model fashion show, kembaran Ariel Tatum ini harus tampil memukau di lobby kelas. Yah, meskipun tidak ada seorang pun yang memandangnya. Tak biasanya Aira datang pagi-pagi buta seperti ini. Kalau saja bukan karena Fiona yang menggemparkan kolom chat grup tadi.


"Fiona agak miring kali ya, masa gue sendiri yang dateng duluan. Pak Muh si satpam depan aja belum dateng," gerutunya menendang asal kerikil menghalangi jalan.


...Isinya cuma ghibahin org!...


Fiona tukang bakwan,


Ada berita hot nih guys, lebih hot drpd liat kucing gue kawin lari!


Wawan,


Kalau g pntng, g ush crt.


Fiona tukang bakwan,


Lo meragukan gue, wan? Gila. Parah ente.


^^^Aira cantik,^^^


^^^Ini masih pagi bego! Ayam Pak Samsul aja belum berkokok, udh koar2 aja lo^^^


Fiona tukang bakwan,


Cil! Kali ini lo hrs prcy bgt sm gue. Hari ini lo dateng ke sekolah pagi- pagi dah pokoknya. Tunggu gue di sana, gue tunjukin sesuatu yang bikin mulut lo ga bisa ber word-rowd


Fiona tukang bakwan,

__ADS_1


Srry typo, ber word-word. Td tgn gue gatel pengen nabok kucing gue yg mau kawin lagi ma si kucing pak rt


^^^Aira cantik,^^^


^^^Hm, awas aje lu kalau boong!^^^


Desisan panjang Aira kian terdengar parau, ia gregetan saat melihat seisi lorong kelas sangat sepi. Apalagi cerita-cerita horor yang merebak seantero sekolah, itu sedikit membuat Aira bergidik ngeri. Ingin sekali menimpuk Fiona tukang kibul itu dengan sepatu pantofel lancip miliknya. Biar dahinya benjol terus malu tujuh turunan. Aira melirik arloji warna pink di tangannya, meremat rok panjangnya sebab ia terlampau kesal.


"Ini gue kesampet apa sih, gue tau kalau gue itu pinter banget. Sampe di kelas aja bisa dapetin rangking satu-dari bawah. Ck! Tapi nggak kaya gini juga, dateng ke sekolah jam setengah enam."


Sudah berkali-kali Aira menghubungi ketua geng abal abalnya yang menjadikan perempuan itu menyumpah serapahi. Dan lima belas kali panggilan itu tidak ada satupun yang menyahutnya dari sana. Hingga pada akhirnya, dengan kepasrahan tingkat Dewa, Haiba melemaskan kedua kaki guna mengesot pada ubin lorong.


Sudah, tidak ada lagi model semriwing Aira.


Kembaran Ariel Tatum dalam dirinya udah terperosok jatuh.


"Mama! Aira mau pulang aja, huaaaa."


Aira lagi-lagi meringis, ia sudah tidak sanggup untuk datang pagi di sekolah. Lebih baik terlambat dan menuntun motor keliling lapangan. "Ra," panggilan itu mendayu pada telinga Aira.


"Ampun, ampun! Gue gak ngapa-ngapain kok, tan. Beneran deh. Gue cuma numpang nangis aja kok. Kalau bisa jangan culik gue dulu deh, gue cengeng banget soalnya. Ya, ya?" sampai kini Aira masih saja menelungkupkan kepala pada tekukan kaki. Ia mengangkat tangannya menyerah. Sumpah, Aira menyesal menyetujui suruhan Fiona sialan itu.


"Gini nih, kalau mental cuma dicecokin sama es krim. Lo kira kita apaan hah? Setan lo kata?!"


"Babi!" kelopak mata Aira berbinar. Ia menggeser tubuh pada kedua temannya yang bersidekap dada.


"Lo tuh yang babi, hih liat wajah lo. Masih pagi udah buluk kek knalpot. Cuci muka sono!" perintah Fiona diangguki patuh kemudian bangkit mencari wastafel yang ada di ujung lorong kelas.


"Sialan lo! Mesem banget liat temennya menderita," ujar Aira mendapati mereka terkikik saling bertatapan satu sama lain. Beneran ya, ini tuh nggak lucu sumpah. Aira seperti disantap habis-habis oleh para setan, jin, tuyul di sini.

__ADS_1


"Sayang, aku bisa jelasin semuanya!"


Pekikan itu membuat tiga perempuan tertoleh. Suara cempreng selanjutnya, Aira menaikkan alis. Bagus! Ini bisa jadi tambahan bahan ghibah hari ini. Mengendap-endap tanpa menimbulkan suara hak sepatu. Ia mengajak Fiona dan Wanda saling mendekat. "Stt! Pelan Wan, lo tuh berisik banget."


"Ya, kan gue juga kepo. Ga usah sewot juga sih," Aira tak membalasnya. Sampai pada pertigaan lorong mereka seakan bermain petak umpet.


"Mas, kenapa sih terus maksa buat nikah? Aku masih kuliah."


Terlihat punggung tegap itu menengang, tangannya mengepal sempurna pada sisi tubuh. "Kuliah sambil nikah bisa, Thalita!"


"Aku belum mau nikah, mas! Terserah lah. Aku udah capek juga sama kamu. Putus aja lah kita!"


Benar apa kata Fiona, dirinya sungguh membeo tanpa berkedip. Begitupula dengan Wanda sampai menutup mulutnya yang menganga. Fiona sih udah nggak kaget lagi, sebab ia lah yang mengetahui lebih dulu. Dengan segera Fiona menggeplak pundak mereka. Berdesis saat tokoh di depan sana belum juga mau memberhentikan percakapan.


"Videoin anjir! Bisa jadi anceman buat dia," ide konyol Aira melengking. Dan hal itu membuatnya mengeluarkan ponsel kemudian segera membuka aplikasi kamera.


Perdebatan mereka terus berlanjut sampai adegan tarik ulur tangan. Aira bisa langsung tahu siapa orang itu dalam sekali kedipan mata. Anjir! Bisa-bisa nya berantem diparkiran sekolah. Emang nggak ada tempat lebih estetik lagi, ya setidaknya ada tambahan guguran bunga kering disekeliling mereka. Belum ada yang datang pagi ini, selain dua orang itu serta komplotan Aira.


"Atas dasar apa kamu minta putus kaya gitu?" suaranya makin tegas saja, giginya gemelatuk menggeram.


Nice! Suasana sekitar mendadak panas. Kaki Aira bahkan tidak bisa berkutik lagi. Tangannya masih menggantung ponsel seraya mulut Aira masih belum bisa menutup. Mungkin sebentar lagi, air liur nya akan menetes. Beneran, ini bener-bener berita terhot selama Aira bersekolah di sini. Dan tentunya ia akan sangat berterima kasih pada sahabat uculnya, Fiona.


"Ra, kalau lo nggak bisa njepret mereka. Biar gue aja! Lemot banget lo ditungguin dari tadi juga," sela Fiona yang memutar kedua bola mata malas. Ia mengeryit dan masih mendapati Wanda termenung. Dengan paksa Fiona menutup mulut Wanda.


"Keselek lalat mampus lo!"


Fiona menyuruhnya untuk sedikit mundur. Tentu saja berusaha tidak menimbulkan suara apapun. "Sekarang, Fi!" pekik Aira yang mulai sadar. Namun saat itu juga Fiona menabok bibir monyong Aira.


"Jangan teriak dulu cil!"

__ADS_1


Aira terkekeh, "Wagilaseh! Gue beneran gak bisa ber word-word lagi. Santepan mantep nih, ahay! Satu... dua... ti--"


__ADS_2