
Sumpah, ini tuh nggak lucu. Kia semakin gencar memuji ketampanan Arham di depan mata kepala Aira. Rasanya Aira mual mual denger omongan Kia dari tadi. "Silakan duduk pak, makasih banyak loh pak sudah mau repot repot ngantar Aira pulang. Itu anak emang dasarnya ngrepotin orang terus."
"Tidak apa-apa bu, tadi katanya Aira sempat sakit lalu mau pulang," Arham duduk pada kursi makan. Memandang tubuh bersandar di kulkas sambil menenteng tas.
"Nama bapak itu, Pak Haram ya?" tanya Kia tiba-tiba sambil menuangkan air putih ke gelas.
"Ma!" buset dah, itu mulut Kia juga nggak bisa dikendaliin juga. Rasanya Aira mau tenggelem aja deh, malu banget plesetan nama itu disebut Kia.
Arham menaikkan sebelah alisnya, terkekeh sejenak menerima gelas air minum dari Kia. "Nama saya Arham, bu."
"Eh, Ya Allah, Aira! Sini kamu. Jadi anak nggak tau sopan santun. Belajar darimana hah?! Oh, apa gara gara kamu keseringan kumpul sama geng nya Wanda itu?"
Sialan, Aira berdecak kesal saat Kia menuduh persahabatannya. Ia maju dengan tas yang sudah ia jatuhkan ke lantai. Hatinya semakin panas. "Ma! Mama itu kenapa sih? Aira, Aira, Aira aja yang disalahin terus. Kalau mau marah, marah aja sini. Nggak perlu ungkit Wanda sama Fiona. Mereka temen aku ma!"
Beneran ini, Aira mengibarkan bendera perang. Teriakan dari bibir kecilnya itu membuat Arham tersedak air minum. Namun tidak menjadikan Aira berhenti marah marah. Dengan cepat Aira melipat lengannya. "Aira tuh capek ma! Capek banget hari ini. Jadi tolonglah, jangan pancing emosi Aira."
"Aira!" mereka menoleh bersamaan. Seorang pria paruh baya dengan pakaian setelan jas kantor baru saja melihat perdebatan antara ibu dan anak.
"Papa juga sama aja," setelahnya Aira berlalu naik ke kamarnya. Tidak peduli, jika kelakuannya tadi di lihat oleh Arham.
Gulam, papa Aira menghembuskan nafas panjang. Menyopot jam tangan dan meletakkan di atas meja makan. Ia sudah lelah menasehati sikap Aira yang semakin hari justru membuatnya naik pitam.
Melihat keterdiaman Kia, ia segera menuangkan air minum untuk istrinya. "Sabar ma, Aira itu anaknya nggak bisa dipaksa," ujarnya sambil
"Hmm, iya pa."
Kia menoleh pada guru Aira lantas mengenalkan pada sang suami. "Kenalin pa, Pak Arham gurunya Aira. Tadi nganter Aira pulang katanya anak itu alesan sakit."
Anggukan kepala singkat dari Gulam itu membuat senyum Arham kembali terbit. Ia bangkit untuk setidaknya, ya bersalaman dengan beliau. "Saya Arham, gurunya Aira."
"Kamu... Arham anaknya Pak Benri?" tanya Gulam tanpa menyambut uluran tangannya.
"Em, iya, benar pak," Arham menurunkan tangan sangat pelan. Sembari tersenyum kaku.
"Silakan duduk dulu," atmosfer ruangan ini seketika senyap. Berubah menjadi warna monokrom, Arham menyimak pembicaraan beliau dengan hati hati.
Pikirannya bercambuk saat Gulam menekankan suara. Ia lantas menoleh pada Kia yang hanya membisu tanpa gerakan. "Ada apa ya pak?"
Helaan nafas itu terdengar darinya sambil mengusap ujung hidung. "Kamu sudah dengar tentang perjodohanmu dengan anak saya?"
Perjodohan?
__ADS_1
Alis Arham mengkerut dan tubuh yang semula lemas ia tegakkan kembali. Kalimat itu seketika bisa membuat hatinya memanas. Lagi dan lagi, Arham harus membuka bibirnya yang dari kemarin ia tutup rapat.
Ia tahu mengenai perjodohan ini, saat sang mama menyatakan dengan tegas. Dan pada saat itu juga Arham berusaha menekan Thalita agar mau dinikahi olehnya. Tak peduli tentang umurnya, sebab Arham ingin menghindari perjodohan ini.
"Ya, saya tahu pak," jawabnya lunglai.
"Dan kamu setuju?" Kia ikut menimbrung, meraih seonggok pisang goreng kemudian melahapnya.
Arham tidak berani bersuara lagi. Sebenarnya ia bingung, harus bagaimana menjawabnya. Satu sisi, ia sudah mempunyai kekasih. Tapi disisi lain, rasanya tak sanggup bilamana Arham mengecewakan kedua orang tuanya.
Belum terdengar jawaban darinya. Gulam tiba tiba terkekeh geli melihat kebingungannya. "Saya tau kalau kamu masih bimbang, Arham."
"Ma-maaf pak, bukan seperti itu. Namun saya juga perlu sedikit waktu untuk menjawab ini."
"Dengan waktu yang hampir setengah tahun?"
"Arham, tolong dengarkan ini. Saya sebagai orang tua Aira memohon padamu. Jangan anggap hal ini sebagai candaan semata. Kami merencanakan perjodohan ini dengan sungguh sungguh. Jawab, iya atau tidak. Dan selanjutkan biar kami yang atur semua," lanjut Gulam menatap dalam kerlingan matanya.
Lima bulan lalu tepatnya, saat Ranti mengumumkan perjodohannya dengan seorang gadis. Awalnya Arham hanya mengangguk setuju, karena saat itu ia tengah bertengkar hebat dengan Thalita dan pikirannya sedang awut awutan. Arham juga tidak tahu sama siapa ia akan dijodohkan.
Lantas lama kelamaan, ia menemukannya. Seorang gadis yang hanya sekisar bahunya, menatap dengan garang. Dan detik itu juga ia tahu bahwa nama yang disebut sebut Thalita adalah Aira. Dan sekarang, Arham harus menjawab apa?
***
Menggeledah laci samping kasur, Aira mengambil sebuah teropong kecil yang sudah ia persiapkan bersama para temannya. Besok, harus besok! Tidak ada hari lain lagi. Aira meraih benda itu kemudian menjajalnya.
"Udah gregetan gue sama kanebo kering itu!" gerutunya sambil menerawang jauh.
Hatinya meringis kesal, bagaimana kalau si Arham itu ngumbar tingkahnya tadi. Dan Aira akan di cap sebagai anak durhaka pada orang tuanya. Ah, sial. Bisa bisanya ia tidak bisa jaga mulutnya. Laptop Aira masih menyala menampilkan album lagu. Kemudian gorden jendela ia buka lebar lebar agar aura negatif ini bisa keluar dari kamar.
Mentang mentang Aira pengen pulang langsung dianterin. Dan sekarang, lihat! Rencana Aira gagal sudah. Ia meraup ponselnya kemudian membuka room chat.
CAPER NUMBER ONE
Fiona tukang bakwan,
anjas, ni kita ga jd beli teropong lg?
Wawan,
lo ga inget si Aira? kasian gue sm dia
__ADS_1
Fiona tukang bakwan,
iya anjir, dia lg berduaan sm doi
Wawan,
EH BOCIL! JGN KEPEDEAN BUAT PDKT AMA PAK GARAM LO YE. INGET MISI KITA!
Fiona tukang bakwan,
panggln dr mn lgi tuh, garam garam. HARAM!
Wawan,
iya, itu maksd gue. td typo
Aira cantik,
kalian tuh berisik bgt anjir! tenang aja, ga bakal gue kepincut sm muka pas pas an dia.
Fiona tukang bakwan,
gue catet omongan lo.
Aira cantik,
gue ga mau tau, pokoknya besok kita harus jalanin misi. sayang bgt nilai gue gk diurusin mulu.
Wawan,
y.
Aira mendengkus kesal, ia telungkupkan seluruh wajahnya ke meja belajar. Ya kali Aira bakal kepincut, ogah begete. Minimal itu ya sekelas sama Pangeran Songnam di drama Korea kesukaannya.
Tunggu, Aira mendengar sebuah suara. Bibirnya meringis gemas. Bagaimana tidak, suara itu bukan lain adalah dari perut imutnya. Kerasa juga nih laper yang Aira tahan karena malu. Turun sekarang nggak masalah lah ya, sudah satu jam Aira di kamar. Dan mungkin juga Arham sudah pulang.
Namun, saat kakinya menempel pada ubin dapur. Aira berdecak kesal saat ekspetasinya runtuh. Ternyata Arham masih diam menikmati beberapa kue dari Kia sambil tersenyum manis.
"Idih, gumoh gue liatnya," lirih Aira yang ternyata di dengar oleh Kia. Beliau menoleh menemukan Aira berdiri seraya memakai piyama motif hello kitty.
Kia menutup oven kemudian mengambil choco chips. "Laper juga kan? Ck, begayaan nggak mau makan sih," sindir Kia yang membuat Aira menghentakkan kaki keras.
__ADS_1
Ia menggeser kursi sebelah Arham sambil mendelik. "Kenapa liat liat pak? Terpesona ama saya, huh?"
"Iya," singkat Arham tanpa ekspresi.