
Aira beserta antek-anteknya tersenyum bahagia. Mereka bersiap menerima pelajaran Arham dengan sepenuh hati. Kemarin, saat Aira datang ke rumah Wanda semuanya telah siap. Tinggal hari ini menjalankan apa yang telah mereka rencanakan. Para temannya lain sibuk mengukir mendadak bakiak. Berbeda dengan Aira justru sibuk terkikik dengan layar ponsel. "Gue ga sabar buat Pak Haram malu," gumamnya mengabaikan Wanda berteriak di samping telinga.
Lupakan bakiak, bahkan Aira tidak membawa alat apapun untuk remedial. Ia terlalu santai hari ini. Wanda dan Fiona ikut bergerumbul pada sekelompok grub lain untuk mengukur tulisan bakiak.
"Eh! Tulisannya kebesaran, Jamal. Lo gimana sih," tukas Wanda saat melihat Jamal mengeluarkan alat ukir.
"Biarin aja lah, biar Pak Arham kelihatan tulisannya," Jamal lantas segera mengukir bakiak kayunya dengan cepat. Entah rapi atau tidak hasilnya. Ia sudah lelah menuruti kemauan Arham yang sangat sangat menguras energi.
Fiona duduk termenung dengan bangku yang tadi ia seret mendekati barisan temannya. Ia menyerahkan bakiak kayu dengan srampat berwarna pink muda pada Jamal agar diukirkan juga. "Sekalian punya gue, Mal!"
Lelaki berperawakan besar yang selalu dijadikan bahan guyonan teman itu menoleh. "Enak aja lo! Ukir sendiri lah. Emang gue siapa? Bapak lo?" tantangnya.
"Najis gila! Bapak gue lebih ganteng dari pada lo."
"Tapi seksi an gue kan?" alis Jamal naik menggoda Fiona.
Semburan tawa mengudara dari bibir Wanda. Ia menabok lengan Jamal sekuat tenaga. Dasar banci kaleng! Bukan tanpa alasan si Jamal itu berkata demikian. Sudah jadi rahasia umum jika memang body Jamal yang sedikit- berisi itu menjadi cem cem an para temannya.
Tapi jangan salah sangka, modelan Jamal bak gentong air itu pun udah punya pacar yang hubungannya sudah berlangsung dua tahun. Wanda heran, tuh pacarnya liat Jamal dari mana sih. Diintip dari sedotan yang ada malah cuma kelihatan dosa dosanya. "Gak! Seksi dari mana coba. Cepet ukir bakiak gue. Keburu Pak Arham dateng!" tukas Fiona final.
"Iya-iya cewek cabe."
"Apa lo bilang?!" dada Fiona kembang kempis. Ia bersiap melayangkan tamparan pada bibir tebal banci kaleng itu.
"Cewek cabe," ulang Jamal santai. Ia meraih bakiak itu kemudian tanpa mengukur, Jamal langsung menempelkan alat ukirnya.
Fiona masih menatap intens kelakuan lelaki itu. Bersidekap sambil menendang bangku yang tadi ia duduki ke asal semula. "Lo bilang sekali kaya gitu, gue coret nama lo dari kelompok geografi."
__ADS_1
"Sensi amat lo. Cabe, cantik banget."
"Halah alesan aja lo, jangan jangan lo mau godain gue ya Mal? Wahh gila, lo ga tau kala--"
BRAK
"Lo bisa pada diem ga sih anjir! Berisik amat dari tadi," teriakan menggelegar Aira membuat mereka bungkam. Begitupula Wanda yang segera menjauh dari kerumunan kemudian mendekati Aira. Gadis itu menelungsupkan kepala di atas meja.
Dasar mereka itu apa nggak capek ngomong terus. Aira yang denger aja kupingnya kerasa panas. Ia mendesah kesal, menegakkan tubuh berisinya dan melotot tajam. Hendak berdiri tapi masih males. "Apa? Badan segede gaban kok nyalinya ciut banget sama anak perempuan."
"Heh mbak! Nggak ngaca? Kemarin situ juga ketakutan pas di lorong kelas sendirian. Mana pakek nangis lagi," mata Aira membola saat Fiona bakwan itu keceplosan. Sahabatnya itu langsung membekap mulut rapat rapat.
"Yak! Sekelas Aira nangis? Waduh, bakal jadi trending topic nih."
Mulut Jamal itu... perlu diberi pelajaran! Aira langsung berdiri menemuinya dari jarak dua bangku dari sini. Ia menatap garang dengan kepalanya mengembulkan lahar panas. "Sialan! Banci banget jadi bocah. Perlu gue gaplok tuh wajah jele--"
Dari sini, Aira melihat bibir Arham yang bergerak tanpa suara. Masih bersidekap, Aira mengepalkan tangan saat mengerti maksud Arham. "Dua-satu."
"Sialan!"
Langkah sepatu Arham memekakkan telinga seluruh muridnya. Tanpa duduk terlebih dahulu, ia memandang mereka yang terus menunduk takut. Ada yang memainkan bakiak di depannya, ada juga yang asyik membolak-balikkan buku. Arham sudah mengetahui penyebab dari mereka bertingkah seperti ini. Ia terus mengintari bangku para muridnya dengan raut tak tersentuh.
"Sok cool banget anjir," gumam Aira sembari mengeluarkan buku catatan.
Namun hal itu membuat telinga Arham berdengung. Ia melayangkan pandang pada Aira, tepat di samping kanan Arham berdiri. "Kumpulkan sandal bakiaknya sekarang!" perintahnya menyodorkan tangan pada Aira.
Aira terkesiap, ia melotot kaget saat tangan itu terulur. "Lupa pak," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Kenapa bisa lupa?"
"Ya namanya juga lupa, ya mana saya tau pak."
Tidak ada yang berani membela Aira saat ini. Temannya sedang menyelamatkan dirinya sendiri. Sungguh, sungut banteng itu mulai keluar. Wanda menyenggol lengannya hati hati. Anak setan, dia ngajak war nggak tau tempat ya ujung ujungnya begini. Belum saatnya jurus itu dikeluarkan.
Ini masih pagi loh ya, otak masih fresh nggak usah dikasih pematik api. Fiona ikut berdecak kesal dengan pemikiran Aira. "Ya, namanya juga masih bocah," lirihnya menenangkan diri.
"Satu minggu anak-anak. Satu minggu!" Arham menjauh dari jangkauannya dan mulai bergerak maju. Ia mengambil penghapus papan tulis di atas meja guru dengan masih berdiri. Penghapus itu ia jatuhkan berkali kali di meja sehingga menimbulkan suara nyaring.
"Mulai lagi," sungut Jamal sambil membenarkan posisi duduk.
"Kalian itu di rumah ngapain aja? Hmm? Saya rasa waktu minggu itu sudah cukup untuk cari bakiak. Kalau nggak sanggup beli, kalian coba tanya kakek atau nenek, pasti mereka punya. Kebiasaan kalian itu menyepelekan tugas. Kalian kira, walaupun remedialnya saya suruh kumpulin bakiak, nggak bakal di nilai?" Arham terus mengetuk mejanya sambil mengamati wajah para murid yang kelimpungan.
Aira tetap santai di antara mereka, sempat sempatnya ia memotret wajah kesal Arham. Tapi dengan diam diam. Tingkah itu ternyata tidak lepas dari pandangan Fiona yang gregetan. "Cil! Jangan maen maen lo."
"Sekarang, terserah. Terserah kalian mau ngumpulin atau tidak. Yang jelas, saya cuma ngasih nilai pada siswa yang mau usaha. Saya tidak butuh kalian yang kerjaannya cuma alesan aja."
Arham lelah terus terusan mengurusi mereka yang bandel itu. Duduk diam tanpa suara menunggu jawaban mereka. Di sudut kanan kelas, seorang laki laki memanggil sambil mengangkat tangannya. "Pak Arham."
"Ya?"
Lelaki berwajah putih dengan rahang tegas itu bangkit menuju meja Arham. Tentu saja, Arham tersenyum bangga karena di tangannya terdapat dua pasang bakiak yang sudah di ukir. "Bakiak saya sama Aira, pak."
Detik itu juga, Aira membeku saat merasanya namanya terpanggil. Begitupun dengan Fiona dan Wanda. Mulutnya menganga lebar diiringi gebrakan meja dari Jamaludin.
Kael Gilbraltal Atmaja...
__ADS_1