
Kantin sekolah mulai berdesak desakan, suara nyaring dari bibir mungil Aira juga ikut mewarnai. Ia menyerobot risol mayo yang sudah menjadi incarannya tadi pagi. Sialan, tinggal satu risol dan Aira harus mendapatkannya. "BUK! RISOL SATU!" teriak Aira.
"Woi, risol gue anjir!" belum sempat mengambil, sebuah tangan kekar mencomot. Aira menatap wadah risol mayo itu dengan lesu.
Ia memilih mundur kemudian mengikuti pencuri risolnya. Namun, Aira terkesima saat orang itu ternyata memakai baju dinas guru berwarna coklat muda. Tubuh semampainya membuat alis Aira mengkerut. "Risol mayo gue!"
Tangan Aira meraih lengan guru itu, membuatnya sontak berhenti dan menoleh. "Aira?"
"Pak Haram? Eh, em, maksudnya Pak Arham."
Mulut gak tau diri! Aira menabok pelan lalu tersenyum paksa. Keduanya menyingkir di pojok kantin yang tidak terlalu ramai. Arham dengan wajah datar mengangkat risolnya. "Ada apa?"
"Pak, risolnya buat saya aja ya? Plis banget pak, soalnya saya lagi kepengen," Aira menyatukan kedua tangan. Memandang Arham dengan sangat lekat seolah memang sangat menginginkan jajanan itu.
"Saya juga lagi kepengen makan risol," jawabnya acuh.
Aira menggeleng pelan sambil terus menahan kepergian Arham. Memalukan banget, tapi mau bagaimana lagi. Aira bahkan sedari tadi saat pelajaran harus menahan air liurnya melesat keluar membayangkan betapa pecahnya perpaduan mayonaise dan saos tomat berpadu dalam mulut.
"Pak Arham bisa beli lagi kapan-kapan. Kasih ke saya ya pak, nanti saya yang bayar deh," dasar Aira! Matanya sungguh menggemaskan menurut Arham. Bahkan di dalamnya terdapat kubangan air mata yang sebentar lagi mungkin akan menetes.
"Kamu aja yang beli kapan-kapan. Saya sudah bayar kok," risol yang dipegang oleh Arham diturunkan. Ia mendekatkan jajanan itu di depan bibirnya. Aira sontak membulat, ia mencekal tangan Arham.
Sungguh, air liur Aira menetes sekarang. Ia menyeruput kembali agar tak membuatnya semakin malu. Sudah cukup melas dihadapan Arham. "Bagi dua deh pak!"
Gerakan Arham terhenti membiarkan muridnya masih menggenggam lengan dengan sedikit kasar. "Maksudmu?"
"Siniin pak," Aira meraih risol itu darinya lantas mematahkan menjadi dua bagian yang berbeda. Dua bagian seluruhnya ia berikan kembali pada Arham. Dengan mata masih berair, Aira bersorak gembira dalam hati.
__ADS_1
Arham semakin kebingungan, ia melihat risol itu telah terbagi dua. "Nah, kan udah jadi dua. Yang satu bagi ke saya ya pak. Tapi yang agak besar itu."
Udah minta, request lagi!
"Kamu mau separo?" tukas Arham melihatnya tersenyum lebar. Aira mengangguk gemas, ia menyodorkan kedua tangan.
"Ini," setengah risolnya ia letakkan pada tangan mungil Aira. Dan ketika itu juga, Aira melompat kegirangan seraya menghapus bulir air mata di pipi. Ia mengangkat risol tinggi tinggi, akhirnya setelah drama perisolan Aira berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan.
Aira merogoh sesuatu dari kantong seragam, selepasnya ia membuka kembali tangan kanan Arham yang menganggur. "Gantinya risol pak, hehe."
Gadis itu berlari meninggalkan Arham yang ternganga. Genggaman tangannya berisi pecahan uang seribu rupiah. Tanpa sadar, sudut bibir Arham terangkat. Tapi tidak ada satupun yang menyadarinya. Tak memerdulikan teriakan pujaan dari muridnya yang lain sepanjang kantin. Arham masih teringat jelas saat Aira merengek padanya. "Cengeng."
***
Wanda mengeram kesal saat tak kunjung menemukan Aira. Ia menghentakkan kaki keras, sudah pecah kepalanya hanya untuk mencari bocil satu itu. Akhirnya, Wanda mengajak Fiona duduk pada bangku kantin terlebih dahulu. Ekor matanya mengedar pada segala penjuru kantin. Harap harap Aira bisa ketemu. Ah elah! Padahal tadi Wanda sudah yakin ia menggandeng tangan Aira. Entah dimana genggaman itu terlepas dan menjadikan Aira menghilang seketika.
Di depannya, Fiona hanya pasrah menghadapi tingkah temannya. Ia diam tanpa menanggapi emosi Wanda. Bila ia ikut di dalamnya, pasti yang ada malah semakin ruwet. Jadilah, Fiona mengaduk aduk puding coklat yang tadi sempat ia beli sebelum Wanda koar koar. Gendang telinga Fiona bergetar saat teriakan maut itu mengudara tepat di sampingnya. Sampai sampai pudingnya terpental separuh.
"Hei! Sayang sayangnya akohh. Liat nih, gue bawa apa?"
Dan benar saja, saat Aira berada di hadapan mereka. Wanda bangkit begitu saja dengan membawa tiga buah sendok. Mengetuk pelan pada puncak kepala Aira dengan mulut mencabik kesal. "Dari mana aja lo? Di cariin gak tau diri."
"Malak risol dari Pak Haram," jawab Aira menyengir tanpa dosa.
"Gila lo! Kesambet setan dari mana, bisa bisanya malak Pak Haram."
Fiona yang tadinya hanya diam ikut berkomentar. Memandang tingkah Aira yang sangat bahagia sambil melahap setengah risol itu. "Uhh, enak banget! Akhirnya gue bisa makan risol."
__ADS_1
"Salah sendiri lah, udah gue pesen tuh risol tinggal satu. Eh disrobot sama dia. Ya udah lah, gue samperin terus palak deh. Tapi gue ganti kok," lanjut Aira mendudukkan bokongnya di sebelah Wanda.
"Tapi ngakak anjir, gue gak bisa bayangin muka Pak Arham pas di palak bocil."
Fiona mengangguk cepat kemudian menimpali perkataan itu. "Eh tapi guys, ngomong ngomong soal Pak Haram. Tadi pas pelajarannya kok bisa ya tuh kail pancing selametin Aira."
"Kael, maksud lo?" jelas Aira yang di senyumi Fiona.
"Menurut gue sih, palingan juga kebetulan aja dia bawa bakiak dua."
Rasa penasaran Fiona belum hilang. Ia mengusap dagu sambil berpikir. "Tapi kenapa harus banget buat Aira? Kenapa nggak buat geng sebelah aja. Kan mereka juga gak bawa bakiak."
"Kepo banget sih lo!" sercah Wanda berteriak kencang. Ini nih, yang buat dia sedikit sebal dengan Fiona. Sekalinya penasaran, Fiona pasti mengorek informasi sampai ujung.
"Ya, sans aja dong. Namanya juga penasaran. Jangan jangan, Kael suka sama lo, Ra!"
Aira yang semula mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibirnya seketika menoleh. Menggerakkan tangan ke kanan kiri, tidak menyetujui argumen Fiona. "Ekspetasi lo ketinggian, mana ada ketua geng motor kek dia naksir remahan rengginang."
"Kali aja. Jangan insecure deh, Ra, lo ga liat body gitar spanyol lo kayak gimana."
"Gitar spanyol mata lo!"
Saking gregetnya, Aira mengambil bakwan dari Fiona dan menyumpal ke mulut Wanda yang menganga. Ia terbahak bahak mendapati wajah merah dari sahabatnya. "Sukurin, kualat sama gue tuh!"
Beberapa saat kemudian, mereka bungkam menikmati jajanan masing masing. Sembari melihat riuh siswa yang masih juga berdesakan di dua kantin pada ujung kanan. Aira dan teman temannya itu tidak pernah kembali ke kelas selama jam istirahat berlangsung. Baru setelah selesai, mereka kembali ke ruang kelas.
Fiona menuangkan saos sambal pada tempe goreng. Berbisik pada teman temannya di depan. "Nggak ada niatan buat nglanjutin misi kita, nih? Gue udah siap banget loh."
__ADS_1