
"Astaga, setan!"
Pekikan dari Aira justru membuat alis Arham menyatu. Ia menyilangkan kedua tangannya dengan memandang punggung Aira yang bergetar. Perlahan tapi pasti, gadis dengan tinggi 153 cm itu menghadap Arham sambil cekikikan. "Bisa diulangi lagi kalimatmu yang tadi?"
"Ehh, ya ampun! Pak Har-aduh maksud saya Pak Arham. Hehe. Ada apa ya pak ke sini?" benar benar memuakkan. Tampangnya yang terlewat tampan bak dewa athena itu menjadikan bulu kuduk Aira meremang.
"Ke ruangan saya. Sekarang!" nada penuh ketegasan dari Arham mau tak mau Aira laksanakan. Tanpa membalasnya lagi, ia mengekor langkah guru nya dari belakang.
Aira mendongak, memandang tubuh tinggi semampai Arham. Dapat terlihat jelas bahwa perempuan itu sangat pendek di hadapannya. Hanya sebatas bahu Arham. Aira mendengkus, menyesali dirinya dulu yang enggan berolah raga agar bisa tinggi.
Lorong demi lorong mereka lewati tanpa sepatah kata pun. Aira juga sudah lelah menggerecoki Arham. Makan siangnya tak bisa tenang bahkan belum sampai habis lelaki menyebalkan itu menyerobotnya. Kemeja berwarna navy yang di gulung seperempat lengan itu menggaruk dinding kelas ketika para siswa mulai memenuhi lobi.
"Kenapa diam saja?" tanya Arham menyadari tingkah Aira.
"Nanti kalau berisik di kira monyet kelaperan!"
Sudut bibir Arham terangkat samar. Ia membiarkan Aira berbisik tak jelas. "Saya tidak berkata seperti itu lo ya. Kamu yang ngomong sendiri kayak monyet."
"Dasar guru nyebelin. Udah muda, ganteng lagi. Untung gue gak kepincut!"
Gumaman dari Aira menghentikan langkah Arham. Ia berbalik ketika lalu lalang siswa mulai sepi. "Kamu bicara apa?"
Aira tergelak, mengggeleng keras. "Tidak bicara apa apa pak. Itu, ada yang pacaran di pojok."
"Alesan."
Setelahnya mereka berlanjut menapaki setiap lobi sekolah. Arham berdehem sejenak membuka knop pintu kemudian mempersilahkan Aira masuk. Ia tak mungkin mengajak siswanya ke ruang guru. Sebab, tak bisa leluasa untuk berbicara. Aira hati-hati mengikuti Arham ke dalam. "Pak, Ada apa ya pak memanggil saya ke sini?"
"Emm, maaf pak. Kira kira ada apa ya memanggil saya ke sini?" Aira menatap kagum seluruh interior ruangan Arham. Jendela kaca yang berhadapan langsung dengan lapangan membuatnya bisa leluasa melihat kegiatan. Ia beralih memandangi Arham yang menumpuk kertas di atas meja.
__ADS_1
"Kamu tau kesalahanmu, Aira?" kuncian dari tatapan Arham di balas oleh perempuan di depannya. Lagi dan lagi, wajah tampan dengan rahang tegas itu menghipnotis Aira.
"Kalau saya tau, saya tidak akan bertanya pak."
Tubuh Arham luruh, keras kepala sekali muridnya. Ia menggeleng keras serta menepuk dahi kesal. "Khem, siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti ini pada gurumu, Aira?!"
"Eh! Ya Tuhan. Pak Arham tidak tau kah? Kalau saya selama dua tahun sekolah di sini. Satu pun poin kesalahan tidak ada?" bela Aira mendengkus kesal. Ia memainkan kursi putar Arham.
"Oh, kamu mau saya poin atas ketidak sopananmu pada saya?" kerlingan mata tajam Arham membuatnya kelimpungan. Ia seketika senyap memahami kalimat yang terpancar dari Arham.
Sesaat otak kecil Aira menyambung. Ia bersiap berdiri membalas perkataan Arham. "Ehh, bukan pak. Maksud saya bukan gitu. Khem! Maksud nya saya tidak punya poin kesalahan berarti saya anak teladan, rajin, dan sangat mematuhi peraturan pak."
"Lalu, kenapa kamu gosipin saya di belakang?" tanya Arham menyadari salah tingkah Aira.
"Ehh, em itu kebetulan aja pak. Biasanya saya tidak pernah gosipin guru kok. Suerr!"
Sialan! Pak Arham selalu mematikan omongannya. Keringat dingin yang menetes dari balik seragam Aira menjadikannya kalut. Oh Tuhan. Jangan sampai guru nya tahu kalau Aira tengah salah tingkah sekarang. Bibir Arham yang akan membeo kembali tiba tiba di kagetkan oleh deringan hp di sampingnya.
Sayang is calling.
Aww! Ternyata guru sok kegantengan itu sudah punya tambatan hati. Padahal banyak teman teman Aira yang sangat tergila gila pada Pak Arham. Ia menyeriangai lebar, kesempatan bagus untuk Aira bisa kabur dari ruangan Arham. Diam diam dengan pergerakan lambat. Aira berjalan pelan menatap pintu keluar Arham sesekali melirik guru nya was was.
...***...
"Eh guys, cari skincare di mana sih? Gue cari-cari gak nemu."
Aira menghendikkan bahu tak tahu. Ia mengedarkan pandang di segala penjuru mall ini. Sepulang sekolah, Aira beserta antek antek nya ingin merefresh otak yang terlalu lama mereka gunakan untuk sistem belajar kebut semalam. Salahkan saja, guru paruh baya itu memberitahukan mendadak. Alhasil begini lah jadinya.
"Aira! Lo udah kesemsem belum sama Pak Arham? Ganteng kan?" pertanyaan Fiona menghentikan jalannya. Ia mengeryit tajam, ah sahabatnya itu rupanya belum tahu seluk beluk guru sok itu.
__ADS_1
"Kesemsem, mata lo kecolok ayam!!"
"Heh! Omongan lo. Nanti nelen ludah sendiri. Baru tau rasa lo," Wanda menggeret lengannya menuju rak skincare. Ah! Surga duniawi sekali. Matanya langsung melek serta hatinya terus berbunga bunga. Katakan, apa Wanda harus merogoh ATM nya lagi untuk memborong semuanya.
"Kalau lo mau, embat aja udah. Gue mah lebih milih Kael dari pada dia," tukas Aira tanpa menoleh pada Wanda.
Ia berjalan menuju rak parfum, terlintas ingin mengambil bagian darinya. Selama ini Aira bahkan tidak pernah memakai wewangian. Jadilah, mencoba satu kali saja tidak ada salahnya kan? Lagi pula tidak ada larangan memakai parfum di sekolah. Ah, dengan sekali srobot Aira berhasil menenteng parfum bernilai seratus ribu rupiah itu. "Halah, tampang kayak kail pancing aja lo sukain. Aira, Aira! Gue sih kalau jadi lo, malu banget."
Aira menajamkan mata saat bahunya serasa berat karena tangan Fiona yang kepalang besar. Ia menyingkirkannya kemudian berjalan menuju troli Wanda. "Heh, kalian itu ngapain sih, ngebet banget sama Pak Haram? Lo nggak tau aja gimana aslinya dia."
"Emang dia gimana?"
"Ya-ya, dia--"
Bibir Aira terkatup sempurna ketika bersamaan tubuhnya membeku melihat satu objek di depan sana. Ia menundukkan kepala dalam-dalam serta bergumam. "Bodoh! Untung belum keceplosan gue."
"Dia apa?" tantang mereka tanpa dosa. Menyadari tingkah aneh dari Aira, Wanda menjentikkan jari tepat di dahi sahabatnya. Dan menarik dagu Aira agar kembali bersuara.
"Diem dulu, goblok!" mata Aira terus saja memincing. Tangannya mengepal saat hunusan tajam itu tepat mengarah padanya. Fiona mengikuti arah pandang Aira, namun detik itu pula ditimpuk oleh snack wafer yang Aira peroleh dari troli.
"Jangan liat ke sana! Pura-pura nggak tau aja kalian. Sekali lagi liat ke sana, gue nggak bakal traktir es krim!"
"Emang ada apa, sih," sela Wanda membentuk posisi melingkar pada troli belanjaan. Mereka semua senyap, dengan Aira yang terus melirik pada orang itu. Dan sekali lagi Aira memastikan, bahwa penglihatannya kali ini tepat sasaran.
"Udah guys, huft!"
Fiona dan Wanda masih menapak pada ubin yang sama. Belum beranjak seincipun saat mendengar helaan nafas dari Aira. "Lo liat apa tadi? Kaya liat penagih utang aja lo, udah nunggak berapa bulan gak bayar? Kere banget hidup lo."
Aira tak terima langsung menabok asal lengan temannya. "Sialan, dia tuh yang kalian sebut idaman. Cupet banget pemikiran kalian."
__ADS_1
Mereka sontak mengerling pada sudut pandang Aira. Dan, what the hell! guru yang dipuji-puji seantero sekolahan itu tengah bermesraan sembari menggenggam tangan dengan seorang perempuan.
"Makan tuh, idaman!" ledek Aira sambil menyemburkan tawa.