My Possessive Husband "Askara & Allea"

My Possessive Husband "Askara & Allea"
Mengingat masa lalu


__ADS_3

*Askara pov*


Askara memasuki kamar yang berada di lantai dua bangunan mansion megah itu, kamar sedari kecil Ia tempati, meskipun ukuran kamar itu lebih besar dari kamar di apartemennya namun dirinya tidak merasa nyaman di tempat ini, meskipun kamar ini adalah miliknya Ia merasa kamar ini terasa asing bagi dirinya, sama seperti di setiap sudut rumah ini.


Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman, namun sebaliknya, tempat ini seakan menjadi penjara bagi hidupnya. Sejak dulu orang tuanya menganut paham otoriter dalam membesarkannya membuatnya tumbuh menjadi anak yang arogant dan egois.


Askara duduk di kursih putar menghadap meja belajarnya sewaktu masih sekolah, dirinya menarik laci mengambil satu foto yang sudah cukup lama. Sebuah foto berukuran tiga R, ada dirinya dan Allea masih memakai seragam putih abu-abu yang sudah penuh dengan coretan tengah tersenyum lebar, dia ingat foto itu di ambil setelah kelulusan mereka. Sang ketua kelas yang memiliki kamera digital mengambil banyak gambar termasuk gambar dirinya dan Allea.


Hari itu merupakan hari yang sangat membahagian bagi Askara. Dia tidak pernah jatuh cinta kepada wanita lain selain Allea yang masih mengisih relung hati terdalamnya.


*Flashback On*


Kisah cintanya berawal dari kelas satu SMA, dirinya yang datang sebagai murit baru di kelas Allea menjadi pusat perhatian para siswa perempuan karena ketampanan yang Ia miliki, tapi tidak dengan satu gadis yang tak lain adalah Allea yang tengah sibuk membaca buku tapi entah membaca atau tidak, karena buku yang Allea pegang waktu itu terbalik hingga mampu membuat Askara menampilkan senyum tipis di wajah tampannya.


Di situlah pertama kali Askara merasakan debaran di jantungnya saat menatap mata teduh Allea ketika Allea melepas buku yang di pegangnya keatas meja dan menatap ke depan kelas yang di mana terdapat murid baru yang tak lain adalah Askara.

__ADS_1


Di kelas satu SMA Allea sudah mendapat jaminan untuk kuliah di kampus ternama dengan program beasiswa, di inggris. Saat Askara menjadi murit baru di kelas Allea dirinya di tempati satu bangku dengan Allea, karena memang hanya bangku itulah yang kosong berkat bangku kosong itulah mereka berdua semakin dekat satu sama lain.


Askara sang murit baru yang pintar, membuat Allea murit pintar dan teladan di kelas itu harus bersaing sehat merebut juara umum maupun juara kelas di sekolah mereka. Lambat laun benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya.


Cinta Askara tak bertepuk sebelah tangan, karena Allea pun membalas perasaannya. Gadis cantik dengan senyum indah serta tatapan yang teduh mampu menggoyahkan hati Askara.


Hari itu mereka sedang mengadahkan kegiatan liburan setelah ujian kelulusan, pada malam hari. Askara mengajak Allea jalan di sekitar villa, mereka memandang di kejauhan di mana lampu-lampu tampak seperti bintang, mereka berdua berada di ketinggian yang dimana villa tersebut terletak di atas bukit, tampak sadar mereka berdua berjalan sudah cukup jauh dari villa.


Hingga angin kencang bercampur hujan lebat turun menerpa dua insan yang tengah berjalan sambil bergandengan tangan, mereka berdua pun lari menghindari hujan dan angin.


Askara memakai ponsel untuk menerangi pondok itu, ada sebuah tikar yang berada di tempat di ambilnya tikar tersebut dan di letakan di atas tanah. Allea duduk seraya memeluk kedua lututnya yang di tekuk karena merasa kedinginan. Askara yang melihat Allea kedinginan segera mendekat dan duduk di sampingnya seraya memeluk tubuh yang ramping itu, ingin memberikan kehangat dengan sebuah pelukannya seraya mengusap lengan Allea agar tidak semakin kedinginan.


Bibir Allea memucat. Askara sangat takut jika kekasihnya menderita hypotermia, karena udara yang semakin dingin.


"Lepas jaket kamu All, basah lohh jaketnya, nanti bisa tambah dingin" ucap Askara. Allea terpaksa melepas jaketnya. Begitu pula Askara. Askara kembali memeluknya. Allea mendonggak.

__ADS_1


"Aku nggak kuat Ka, dingin banget" ucap Allea dengan suara bergetar karena kedinginan. Askara mengecup bibinya, bibir itu terasa kaku dan dingin. Entah setan dari mana yang merasuki Askara hingga kecupan itu berubah menjadi ******* yang lembut dan mendalam. Allea pun menyambutnya, rasa dingin membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih. Mereka yang saat itu masih kelas tiga SMA, di malam itu melakukan hubungan yang tidak seharusnya mereka lakukan.


Tubuh Allea menghangat setelahnya, meski matanya menitihkan setetes air bening dari kedua sudut matanya, air mata penyesalan. Askara kembali memeluk dan mengecup keningnya dengan begitu lembut, dan merapatkan kepala Allea kedalam dekapannya.


"Maafin aku All, aku janji aku akan tanggung jawab dan menikahimu" ucap Askara dengan lembut serta kesungguhan yang terlihat dari kedua matanya.


"Bagaimana dengan orang tua kamu? Aku yakin mereka nggak akan merestui hubungan ini, kita dari dunia yang berbeda Askara. Kamu bagaikan langit dan aku adalah kerak buminya. Jika aku ingin mencapai langit itu aku harus mati agar tidak akan kembali ke kerak bumi lagi" ucap Allea pilu.


Jika kamu buminya dan aku langitnya, aku akan meminta kepada Tuhan untuk menurunkan aku ke bumi.


Aku akan berusah meminta restu mereka, bagaimanapun caranya. "Karena itu apapun yang terjadi kamu harus menunggu aku All" ucap Askara tulus. Allea hanya mengangguk.


Tak lama hujan serta angin pun redah. Askara mengajak Allea kembali ke villa. Allea kesulitan melangkah, tubuh bagian bawahnya terasa perih. Askara pun menggndong Allea di belakang punggungnya, sepanjang perjalanan menuju villa dirinya terus meminta maaf kepada Allea. Melihat kekasihnya seperti menderita dia tahu dia sudah melakukan kesalahan, dirinya khilaf. Seharusnya dia tidak menghancurkan masa depan Allea. Namun Askara sangat mencintainya Ia berharap dengan kejadian ini bisa mengikat Allea untuk selalu ada di sampingnya sampai maut memisahkan.


Esok harinya. Askara di panggil sang Ayah menghadap di ruang kerja.

__ADS_1


__ADS_2