
12 : 30
Suasana perpustakaan hening dan sepi akan pengunjung, Tetapi selalu ada satu orang yang selalu setia pergi ke perpustakaan itu, Dia bernama Rivains seorang mahasiswa yang pintar dan jenius, Tetapi kejeniusannya itu tidak didapatkan dari ia lahir melainkan dia mendapatkannya karena usahanya selama ini.
Rivains dikenal sebagai sosok yang tidak mudah bergaul dan seorang pendiam, Banyak sekali orang yang membencinya karena sifatnya terkesan sombong.
Itu hanya menurut pandangan orang-orang sekitarnya saja, Sebenarnya dia ingin bergaul dan bermain layaknya pemuda seumurannya, Tetapi keadaannya tak memungkinkan karena kedua orang tuanya selalu memaksakan kehendak terhadapnya, Sehingga dia tidak bisa menjadi seperti layaknya pemuda seumuranya.
*
Srrrkkk....!
Lembaran demi lembaran buku terbuka, Matanya fokus dengan yang ia baca, Dan terlihat binaran cahaya yang ada dimatanya seolah-olah dia menikmatinya.
Wajahnya yang tampan kulitnya yang putih dan halus, Memiliki postur tubuh yang tinggi, Dan sangat pantas jika disebut seorang pangeran, Namun ceritanya berbanding terbalik dengan keadaanya sekarang, Dia tidak populer dikalangan gadis, Dia tak mudah bergaul dengan teman sebayanya, Dan juga dia memiliki orang tua yang terlalu memaksa akan kehendaknya, Yang dia lakukan sekarang hanyalah belajar dan belajar tidak ada yang namanya kebahagiaan duniawi baginya, Kehidupannya begitu hampa menurutnya, Sampai-sampai ia tak sanggup lagi untuk bertahan, Namun jika ingin kematian bunuh diri bukanlah jawaban baginya, Menurutnya kematian bunuh diri hanyalah kebodohan, Jika ingin mati maka kita tunggu dan kematian pasti tiba waktunya jika sudah saatnya, Menurut pemikirannya.
*
"Huh..,buku ini sepertinya belum pernah kubaca,"Rivains mengambil buku yang sepertinya ia belum pernah membacanya.
[The book of readery]
Tertulis disampul buku itu, Rivains merasa aneh dengan nama buku itu, Karena buku itu bukan buku novel, Bukan pula buku sejarah ataupun pelajaran, Rivains pun membuka lembaran lembaran buku itu lalu dia membacanya.
*
"Novel?,"Rivains bergumam setelah melihat isi buku itu.
Dibuku itu dijelaskan sebuah peradaban dimana sihir dan beladiri masih ada, dan ras dalam buku itu tak seperti dibumi, Bahkan menurut rivains sangat mustahil jika bumi seperti itu dulunya, Ras dalam buku itu berjenis-jenis layaknya god,demigod,elf,iblis,manusia,dwarf,peri bahkan masih banyak lagi, Rivains pun terus membacanya sampai dia tidak ingat bahwa dia membaca buku itu hampir sampai pada akhir.
*
Srrrrrkkkk....!
Rivains membuka lembaran terakhir buku itu, Dan disitu terlihat ada sebuah kunci dan dikunci itu tertulis, Readery system.
*
"Apa ini?,"Rivain mengambil kunci berwarna emas itu.
Setelah rivains mengambil kunci emas itu tiba-tiba buku itu bercahaya, Namun rivains tak terlihat kaget sedikitpun, Hanya saja dia menutupi matanya karena cahaya itu terlalu menyilaukan matanya.
*
"..............."
__ADS_1
Setelah itu rivains tak mengingat apa-apa lagi seolah-olah itu hanyalah mimpi.
*
Rivains pun membuka matanya tanpa ada rasa kebingungan ataupun penasaran apa yang sebenarnya yang terjadi.
Setelah rivains membuka matanya dia tersadar bahwa dia sedang duduk disebuah singgasana dan ruangannya pun kosong tidak ada seorangpun disitu namun hanya saja ada sebuah tulisan didepannya.
**Readery system
______________________________________________
Name : Rivains leone
Status : Lonely king
Job : -
______________________________________________
Skill :
______________________________________________
Int : 50
Vit : 50
Agi : 50
Def : 50
Poin yang dapat dimasukan : 0
______________________________________________
Library**
______________________________________________
"Apakah ini yang disebut game?,"Ucapan rivains saat pertama kali ia tersadar berada ditempat yang tidak ia ketahui.
__ADS_1
Rivains yang sedang terduduk menyilangkan kakinya dan menopang dagunya dengan tangan, Dia pun beranjak dari singgasananya, Berjalan menuju pintu keluar istana.
Syuuuuuuuuuuushhh...........!
Angin kencang pun masuk kedalam istana yang rivains tinggali, Seolah-olah istana itu belum pernah terbuka setelah bertahun-tahun.
*
Namun setelah rivain terbuka dan melihat keluar istananya terlihat sebuah bebatuan yang nampak seperti reruntuhan dari sebuah perkotaan, dan terlihatlah wajah rivains yang telah berubah, Matanya yang berwarna merah rambutnya yang putih, Wajahnya yang tampan dibaluti dengan pakaian formal berwana putih membuat kesan kesendiriannya pun terlihat dari raut wajahnya, Namun perasaan rivains sungguh berbeda perasaannya yang sekarang seolah-olah dia bebas dari penjara orang tuanya, Terlihat jelas dimatanya yang berkilau dan meneteskan air matanya atas semua yang ia lihat saat ini.
'Sungguh pemandangan yang indah aku tak tahu bahwa akan ada dunia seperti ini,'Pikir Rivains yang sedang meresapi dan menikmati keindahan yang ia lihat saat ini karena pemandangannya benar-benar seperti dalam dongeng yang sering ibunya baca waktu dia kecil.
*
Tap.....tap....tap...!
Rivains yang sedang menikmati pemandangan yang sangat indah itu tiba-tiba ada seseorang berlari dari arah belakang rivains.
"Yang mulia!!, Akhirnya kamu bangun,"Seorang pria tua namun masih terlihat gagah menundukan kepalannya kepada rivains,seraya memanggil rivains dengan sebutan yang mulia.
Rivains pun membalikan badannya dan melihat seorang pria tua yang berpakaian seperti seorang pelayan.
"Ya..aku sudah bangun, Tetapi kakek ini siapa?,"Dengan nada lembut dan sopan rivains menjawab kepada pelayan tua yang ada dihadapannya, Karena dia berpikir tak layak seseorang berbicara pada yang lebih tua jika tidak sopan.
"Syukurlah anda baik-baik saja yang mulia.., Hamba adalah seorang pelayan setia anda nama hamba adalah tron, Yang mulia tak perlu sopan terhadap hamba karena hamba hanyalah seorang pelayan,"Pelayan tron menjawab dangan nada bahagia dan menangis dihadapan rivains seolah-olah dia telah menunggu rivains terbangun.
"Baiklah, Kakek tron bangunlah aku merasa tidak enak melihatmu menundukan kepalamu padaku,"Rivains berjalan menghampiri tron dan membantunya berdiri.
"Yang mulia maafkan hamba karena telah melihat hamba bertingkah menjijikan, hamba tidak akan mengulanginya lagi."Tron salah mengira bahwa rivains tidak suka melihat dia menangis dan menunduk pada rivains.
"Ahh, Baiklah-baiklah kakek tron berdirilah,"Rivains pun berdiri lagi karena dia merasa bahwa kakek tua tron salah mengira tentangnya.
"Baik yang mulia."
*
Rivains pun tersenyum,dan membalikan lagi badannya untuk melihat pemandangan indahnya lagi, Meskipun rivains tak terlihat kaget ataupun keheranan, Namun menurutnya hal seperti ini tak harus ia kagetkan lagi, karena baginya ada suatu mahluk yang maha kuasa telah mengaturnya untuk berpindah kedunia yang baru dia lihat saat ini.
"Ahh, kakek tron boleh aku tanyakan sesuatu padamu,"Tiba-tiba rivain membalikan badannya lagi kearah tron dan bertanya.
"Tentu yang mulia apa yang anda ingin tanyakan kepada hamba?,"Jawab tron.
"Baguslah, Karena aku sungguh penasaran, Kenapa kakek memanggilku yang mulia?, Dan juga mengapa kakek menangis saat melihatku sudah bangun dari tidurku?,"Rivains memberikan pertanyaan dengan tenang kepada tron.
"Maaf hamba lancang yang mulia, Apakah yang mulia tidak ingat bahwa yang mulia adalah raja?, untuk lebih jelasnya yang mulia adalah raja dari sebuah kerajaan bernama kroasis yang subur dan makmur, namun tiba-tiba ada sebuah kejadian dimana hamba tidak tahu apa yang terjadi pada yang mulia, Karena yang mulia tiba-tiba terduduk memejamkan mata dan menjadi patung disinggasana itu, Dan ratusan tahun pun telah berlalu para warga yang berada dikerajaan satu-persatu mulai menghilang setelah kejadian itu, Namun hamba telah berjanji pada yang mulia bahwa akan setia dan percaya bahwa yang mulia akan bangkit lagi."
__ADS_1
Tron pun menjelaskan panjang lebar kepada rivains, Dan rivains pun terdiam mendengarkan karena dia sebenarnya hanya perlu informasi tentangnya didunia barunya itu.