NARRA

NARRA
Eps. 01 - Hidup seperti ini


__ADS_3

Seperti biasanya setiap pagi aku selalu berharap bahwa apa yang aku lakukan hari ini akan baik-baik saja. Sebelum melanjutkan kisahku ini terlebih dahulu perkenalkan namaku Narra khanita, perempuan malang yang selalu tidak beruntung. Entah kenapa nasib hidupku menyedihkan seperti ini, waktu kecil aku selalu mengalami berbagai macam ketidakberuntungan salah satunya terjatuh ke selokan, terpeleset kulit pisang, terjebak dikamar mandi, diserang lebah dan masih banyak lagi ketidakberuntungan yang aku alami sejak aku masih kecil dan sampai sekarang pun ketidakberuntungan itu tidak pernah pergi dari kehidupanku. Kehidupan ku ini seperti cerita didalam sebuah dongeng hanya saja lebih buruk dari itu. Pagi ini adalah hari pertamaku bersekolah disekolah baru ku, aku berharap semuanya berjalan dengan baik. Aku tidak ingin kesan pertamaku buruk disekolah baru ku ini.


"Narra sayang, sarapannya sudah siap. Makan dulu sebelum pergi kesekolah"


"Iya ma"


"Pa, semoga saja tidak terjadi apa-apa sama Narra"


"Maksud mama apa???"


"Anak kita itu selalu saja tidak beruntung dimana pun dia berada Pa, mama khawatir kalau terjadi sesuatu sama Narra disekolah barunya"


"Ma, anak kita itu seperti kebanyakan anak lainnya. Narra akan baik-baik saja disekolah barunya, mama jangan berpikiran yang macam-macam tentang Narra. Mungkin saja hal yang selalu dialami Narra hanya kebetulan saja dan tidak ada maksud lain, kenapa Narra bisa mengalami hal itu"


"Tapi Pa, dari kecil Narra selalu mengalami hal buruk. Sebagai orang tua wajar dong Pa, mama khawatir sama Narra. Dia itu anak satu-satunya dikeluarga ini, jadi mama tidak mau terjadi apa-apa sama Narra"


"Kita bahas ini nanti saja, Narra sudah menghampiri kita ma"


"Pagi ma, pagi Pa. Sedang membicarakan apa???, sepertinya menarik sekali. Apa Narra boleh ikut???"


"Bukan apa-apa sayang, sebaiknya sarapan dulu. Oh iya hari ini pergi kesekolahnya anterin papa ya"


"Tidak perlu ma, Narra bisa pergi sendiri kok"


"Tapi sayang, diluar sana..."


"Mama, Narra sudah besar sekarang. Narra bisa jaga diri. Sekolahnya juga tidak begitu jauh kan, jadi Narra bisa pergi sendiri ma. Mama tenang saja tidak akan terjadi apa-apa sama Narra"


"Benar apa kata Narra ma, semuanya akan baik-baik saja. Papa percaya sepenuhnya sama Narra"


"Sebelum berangkat kesekolah berdoa dulu, semoga selamat sampai tujuan"


"Iya ma, selalu Narra lakukan"


"Kalau begitu sarapan dulu"


Narra menikmati sarapan paginya, entah kesialan apa lagi yang akan terjadi padanya hari ini.


"Ma"


"Iya Pa"


"Papa pergi kekantor sekarang"


"Tapi sarapan papa belum habis"


"Narra, papa sudah terlambat sekarang"


"Pulang nanti jam berapa Pa???"


"Sepertinya papa akan lembur ma, banyak proyek yang harus papa kerjakan jadi malam ini papa makan diluar"


"Pa, jangan terlalu lelah ya. Kalau papa sakit Narra yang akan sedih"


"Narra sayang, papa lemburnya hanya hari ini saja. Besok-besok papa akan pulang lebih awal supaya kita bisa makan malam seperti biasanya"


"Baiklah, papa harus tepati janji papa kalau besok papa tidak kerja lembur lagi"


"Iya sayangku, papa janji. Semoga harimu menyenangkan disekolah sayang"


"Selama ada papa, Narra sudah sangat sangat menyenangkan pa"


"Papa beruntung sekali punya Narra dan mama"

__ADS_1


"Narra sayang papa"


"Papa juga sayang Narra, baik-baik disekolah ya sayang. Papa percaya bahwa kamu bisa melalui setiap kesulitan ini dengan mudah. Kalau begitu papa pergi kekantor dulu. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Setelah kepergian papanya, Narra juga berpamitan kepada mamanya.


"Sarapannya sudah selesai sayang???"


"Sudah ma, kalau begitu Narra langsung pergi ma"


"Tapi sayang, kamu baru selesai makan. Duduk dulu sebentar"


"Narra sudah telat ma, Narra pergi sekarang. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam, hati-hati dijalan sayang"


"Iya ma, pasti"


Dengan suasana hati yang sangat gembira, Narra mengayuh sepedanya dengan penuh semangat.


"Semoga tidak ada hari sial untuk ku"


Baru saja Narra mengharapkan hal baik dari arah belakang tampak sebuah motor yang melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya. Narra terjatuh begitu juga orang yang mengemudikan sepeda motor itu, seluruh tangan dan kaki Narra dipenuhi goresan-goresan yang cukup banyak. Seragamnya yang putih bersih seketika berubah menjadi sangat kotor. Narra berusaha bangkit dan mengambil sepedanya yang terjatuh diselokan.


"Belum sampai sekolah sudah kena sial, Narra...Narra"


"Apa kamu baik-baik saja???" Tanya pengemudi motor itu"


Narra terdiam sejenak menatap orang yang sedang berada dihadapannya saat ini.


"Wajahnya tidak terlalu buruk, hanya saja penampilannya sedikit tidak rapi. Apa anak ini seorang preman???. Tapi dilihat dari seragamnya masih sekolah, apa mungkin anak ini..." Batin Narra


"Iya, ada apa???"


"Kamu melamun dari tadi"


"Tidak"


"Jangan berbohong kamu"


"Kenapa nada bicara mu seperti itu, seharusnya kamu minta maaf. Bukannya marah-marah seperti itu"


"Aku sama sekali tidak marah, hanya saja nada bicaraku memang seperti ini. Kalau kamu ingin minta ganti rugi katakan saja berapa biayanya akan aku bayar semua kerugiannya"


"Tidak perlu, Narra tidak membutuhkannya sama sekali. Simpan saja uang itu untuk memperbaiki motor milikmu"


"Perempuan ini berani juga ya, ok kita lihat saja nanti apa kamu bisa menyombongkan diri seperti ini lagi dihadapanku" batin pengemudi motor itu


"Bisa minggir sekarang, Narra sudah sangat terlambat"


Narra pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun kearah pengemudi motor yang sudah menabraknya.


"Hei Dodi, sedang apa kamu disini???. Apa terjadi sesuatu denganmu???"


"Tidak terjadi apa-apa Rendi"


"Kalau tidak terjadi apa-apa, kenapa motormu tergeletak seperti itu"


"Aku hanya menabrak seekor kucing keras kepala dan sekarang kucing itu pergi begitu saja tanpa meminta biaya ganti rugi"


"Menabrak seekor kucing???, kucing seperti apa yang kamu maksudkan itu Dodi???. Aku benar-benar tidak mengerti"

__ADS_1


"Mau dijelaskan seperti apa pun kamu tidak akan bisa mengerti Rendi"


"Jangan bicara mu ya Irwan, begini-begini aku sangat pintar disekolah"


"Maksudmu pintar menyontek ya, hahahaha"


"Tepat sekali"


"Sudah-sudah bahas hal yang tidak penting itu buang-buang waktu saja bukannya hari ini ada penerimaan murid baru. Pasti murid-muridnya cantik-cantik"


"Iya juga, kamu benar sekali Nelson. Hari ini kita bisa cuci-cuci mata"


"Cuci mata gundul mu, kalau Maharin tau habislah aku"


"Maharin itu pacarmu Rendi bukan pacar kami berdua jadi itu urusanmu bukan urusan kami berdua"


"Benar sekali Nelson, hahahaha"


"Dasar teman tidak tau diri temannya lagi susah ditertawakan"


"Jelas dong, tertawa lah disaat temanmu mengalami kesusahan"


"Kalian berdua keterlaluan sekali, pantas saja sampai sekarang kalian berdua tidak punya pacar. Tampang kalian bedua saja seperti ini"


"Jangan salah Rendi, tampang seperti ini penggemarnya banyak"


"Benar sekali Nelson, Rendi itu hanya iri saja melihat kita berdua lebih populer dibandingkan dirinya"


"Apa kalian masih ingin tetap disini???"


"Tentu saja tidak Dodi"


"Kalau begitu kita pergi sekarang"


"Tapi bagiamana dengan motormu itu???"


"Biarkan saja, nanti aku suruh supir untuk mengantarkannya kebengkel"


"Ya sudah, ikut denganku saja"


"Mau gimana lagi Rendi, berikan kuncinya"


"Ini"


"Aku jadi penasaran siapa yang Dodi maksud dengan kucing keras kepala itu"


"Wah ternyata pemikiran mu sama denganku Nelson, aku juga pensaran siapa kucing keras kepala itu"


"Apa yang sedang kalian berdua bicarakan berbisik-bisik seperti itu???"


"Hanya tentang game saja Dodi"


"Apa benar begitu Nelson???"


"Iya, hanya membicarakan tentang game saja"


"Pasti mereka berdua berbohong Dodi"


"Rendi jangan memancing masalah, sebaiknya kamu diam saja"


"Ok..ok"


Rendi tampak curiga dengan apa yang sedang disembunyikan oleh Irwan dan Nelson.

__ADS_1


__ADS_2