NARRA

NARRA
Eps. 06 -Balas dendam


__ADS_3

Dodi sangat kesal atas apa yang sudah dilakukan oleh Narra terhadapnya. Dodi pun mencari cara untuk membalas perbuatan memalukan itu.


"Perempuan menyebalkan itu membuat ku muak, lihat saja apa yang aku lakukan kepada sepeda miliknya."


"Dodi, kamu mau kemana terburu-buru seperti itu."


"Bukan urusanmu Amara."


"Dodi, sikapmu itu sangat keterlaluan sekali. Bukannya dulu kamu selalu mengejarku dan memintaku untuk menjadi pacarmu."


"Itu hanya kesalahanku karena terlalu percaya dengan semua kata manismu dan terjebak didalam permainan licik mu itu. Untung saja Reyhan masih mempercayaiku dan lebih memilih meninggalkan perempuan seperti mu."


"Dodi, kamu itu sangat keterlaluan sekali. Apa yang aku lakukan juga atas permintaanmu sendiri dan kenapa kamu hanya menyalahkanku secara sepihak seperti ini."


"Dengar baik-baik Amara, untuk sekarang aku sudah tidak perduli dengan apa yang telah terjadi diantara kita berdua. Sebaiknya kamu menjauh dariku karena aku sudah tidak ingin melihat perempuan pembohong seperti."


"Kita lihat saja nanti, apa kamu bisa melupakan ku dengan mudahnya Dodi. Dan satu hal lagi aku juga tidak tertarik denganmu, kamu saja yang mudah sekali untuk dirayu. Hahahaha"


"Dasar perempuan aneh."


Pergi mengabaikan Amara begitu saja dan hal itu membuat Amara semakin kesal atas apa yang dilakukan oleh Dodi terhadapnya.


"Dodi, sekarang kamu bisa bersikap angkuh seperti itu tapi lihat saja nanti apa yang aku lakukan kepada sahabat tersayangmu malam ini, hahahaha."


"Permisi kak, Narra malu lewat."


"Sepertinya aku mengenal suara itu."


"Kak, Narra ingin lewat. Apa kakak bisa beri Narra jalan."


"Ternyata dugaanku itu benar, untuk kedua kalinya aku harus bertemu perempuan perayu ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk membalas perbuatannya." Batin Amara


"Kak, apa Narra boleh..."


"Tentu saja, silahkan jalan saja. Kenapa harus menyuruhku untuk minggir apa ukuran tubuhmu sangat besar sehingga kamu tidak bisa melewati jalan ini."


"Bukan seperti itu kak, hanya saja saat ini Narra."


"Ya ampun, kamu itu telalu manja. Luka seperti ini saja kamu sangat sulit untuk berjalan, apa ingin cuma akting supaya kamu mendapatkan perhatian dari semua orang."


"Kak, Narra tidak seperti itu. Kalau kakak diposisi Narra kakak akan tau bagaimana rasanya."


"Hahahaha, berada diposisi mu saat ini. Tidak sudi, jangan manja deh jadi perempuan."


"Sabar...sabar Narra, kamu bisa melewati hari ini."


"Kenapa hanya diam saja, mau aku bantu."


"Kalau kakak tidak keberatan."


"Tapi sayangnya aku tidak bisa."


"Narra tetap sabar dan abaikan saja kakak menyebalkan ini." Batin Narra


Narra berusaha keras untuk melewati jalan yang cukup kecil karena saat ini Amara menghalangi jalannya.

__ADS_1


"Narra, kamu pasti bisa melakukannya. Pasti bisa, semangat Narra." Batin Narra


"Wah, anak ini cukup tangguh juga. Apa yang harus aku lakukan kepadanya sebagai pembalasan dengan???. Apa aku doang saja dia, sepertinya ide itu sangat bagus. Ayo kita lakukan sekarang Amara." Batin Amara


Setelah Narra cukup dekat kearahnya dengan secepat kilat Amara berpura-pura terpeleset dan tangan nya mendorong Narra hingga Narra jatuh. Melihat usahanya berhasil, Amara berpura-pura merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukannya.


"Aduh!?!!."


"Maaf, aku tidak sengaja. Lantai disini cukup licin, apa kamu baik-baik saja."


"Tentu saja, Narra baik-baik saja kak. Apa kakak baik-baik saja??."


"Seperti yang kamu lihat aku baik-baik saja, apa kamu yakin bisa berdiri???."


"Narra bisa kak."


"Ya sudah, kalau begitu aku pulang dulu. Semoga harimu menyenangkan."


Amara cukup puas melihat Narra menderita dan Amara pulang dengan suasana hati yang gembira karena dirinya sudah memberi pelajaran yang menyakitkan untuknya.


"Hahaha, rasakan itu makanya Jangan suka merayu pacar orang. Lihat sendiri bagaimana rasanya, lain kali aku harus mencari cara yang lebih bagus lagi untuk membuat perempuan perayu itu menderita dan keluar dari sekolah ini. Hahahaha."


"Non Amara ternyata disini, dari tadi saya mencari nona ditempat biasanya nona tidak berada disana. Makanya saya mencari nona sampai kesini dan kebetulan saya bertemu nona disini, bisa kita pulang sekarang non."


"Berapa kali aku katakan jangan mencariku dan tetaplah menunggu ditempat biasanya dan kenapa sekarang kamu melanggar perintah itu dasar supir tidak berguna, merusak suasana hatiku saja."


"Maafkan saya non, tapi ini perintah dari tuan besar untuk segera menjemput non."


"Kamu itu bisanya mencari alasan kalau sudah ketahuan berbuat kesalah. Dasar supir tidak berguna, minggir jangan menghalangi Jalanku."


"Masih berdiri disitu saja atau ingin pulang."


"Iya non, kita pulang sekarang."


"Sudah tidak berguna, lemah pula. Entah darimana papa menemukan supir seperti ini." Batin Amara


Setelah kepergian Mutiara, Narra menghampiri parkiran untuk mengambil sepeda kesayangan dan setelah itu bergegas pulang kerumah.


"Narra, kamu harus mencari alasan kenapa kamu bisa seperti ini. Kalau aku berkata jujur pasti mama akan sangat kesal dan hal itu akan berakibat buruk dengan pekerjaan papa. Mama akan melaporkan kejadian ini kepada papa dan hal itu membuat pekerjaan papa terganggu.Tuhan maafkan Narra kalau harus berbohong tentang hal ini."


"Hai imut, sedang apa disini???. Kenapa belum pulang???."


"Dokter Reno."


"Panggil kak Reno saja, biar lebih akrab imut."


"Tapi dok."


"Imut, tidak apa-apa. Panggil kak Reno saja, ok imut."


"Iya kak, tapi nama Narra bukan imut panggil Narra saja kak."


"Apa imut terganggu kalau kakak memanggilmu seperti itu???."


"Bukannya terganggu kak, hanya saja Narra tidak mau ada yang salah paham."

__ADS_1


"Kalau ada yang salah paham itu lebih bagus kan."


"Kenapa bisa seperti itu kak???, kalau kakak merasa terganggu bagaimana???."


"Kak Reno sama sekali tidak terganggu selama ada imut disini."


"Tapi kak..."


"Imut, jangan terlalu dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja, kalau terjadi sesuatu hubungi kak Reno saja."


"Narra tidak punya nomor kak Reno."


"Oh iya, imut benar juga. Apa imut membawa ponsel???."


"Ada kak, Narra ambil dulu didalam tas."


"Ok"


Narra menyerahkan ponsel miliknya kepada dokter Reno.


"Ini kak."


"Iya"


"Kak, mau sampai kapan kamu disana. Aku sudah kepanasan didalam mobil ini."


"Sabar tuan muda, setelah itu kita akan pulang. Tunggu saja dulu, ada urusan penting yang harus kakak selesaikan tuan muda."


"Kak Reno."


"Iya imut, ada apa???."


"Apa yang berbicara itu adiknya kak Reno???."


"Begitulah, sikapnya memang seperti itu tetapi sebenarnya anak itu baik hati walaupun sedikit manja."


"Oh begitu."


"Apa kamu mau kakak kenalkan denganya???."


"Lain kali saja kak, Narra juga akan segera pulang setelah ini."


"Baiklah, oh iya Narra ini kakak kembalikan ponselnya. Kak Reno sudah memasukan nomor ponsel Narra jadi kalau perlu sesuatu telepon kak Reno saja."


"Iya kak."


"Kak Reno duluan ya." Reno menyentuh pipi Narra dan hal itu membuat wajah Narra berubah sedikit merah.


"Hati-hati dijalan kak Reno."


"Iya imut, imut hati-hati dijalan. Jangan lupa telepon kak Reno."


"Pasti kak."


Narra merasa bahwa dokter Reno mungkin saja menyukainya, karena semua itu terlihat saja jelas dari semua perhatian yang telah diberikan dokter Reno terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2