NARRA

NARRA
Eps. 04 - Semua baik-baik saja


__ADS_3

Reyhan dan Narra kembali ketempat mereka semula, dari kejauhan tampak tatapan tidak suka yang terlihat jelas dari wajah Dodi saat melihat Reyhan dan Narra kembali.


"Apa sekarang tidak sakit lagi???."


"Lumayan kak, sudah baik-baik saja sekarang."


"Narra"


"Muti"


"Dia siapa Narra??."


"Muti, teman barunya Narra kak."


"Oh begitu."


"Kak Reyhan, biarkan saja Muti yang membantu Narra. Kakak bisa kembali untuk memandu kegiatan ini."


"Baiklah, tolong Narra ya."


"Pasti kak, ayo Narra."


"Sekali lagi terimakasih kak Rey atas bantuannya kalau tidak ada kakak pasti luka Narra akan bertambah parah."


"Ini sudah menjadi tanggu jawab kakak untuk menolong orang yang membutuhkan, kalau begitu kakak pergi dulu. Tolong dijaga temannya."


"Iya kak."


"Reyhan, cepat kesini"


"Iya Dodi Hermawan, aku segera kesana."


"Apa aku tidak salah dengar, tadi kak Rey memanggilnya dengan nama yang hampir sama dengan dokter Reno. Apa mungkin kakak menyebalkan itu adiknya dokter Reno bukan kak Reyhan." Batin Narra


"Narra..Narra..Narra."


"Iya, kenapa Muti???."


"Sedang memikirkan sesuatu???."


"Maksudnya???."


"Dari tadi itu aku terus saja memanggil namamu tetapi kamu sama sekali tidak meresponnya. Jadi aku pikir bahwa saat ini kamu sedang memikirkan sesuatu."


"Narra, tidak memikirkan apa-apa. Hanya kurang fokus saja."


"Apa Narra sakit???, sini Muti periksa dulu."


"Muti, Narra baik-baik saja. Sebaiknya kita kembali ketempat duduk kita, oh ya pakaian yang kamu pinjamkan itu besok Narra akan mengebaliknya setelah Narra mencucinya."


"Kamu tidak perlu mengembalikannya, ambil saja untukmu sebagai hadiah pertemanan dariku."


"Tapi Muti..."


"Terima saja dan jangan menolaknya, pakaian seperti itu masih banyak dirumahku jadi ambil saja dan simpan baik-baik sebagai kenangan pertama kita bertemu."


"Baiklah, Narra juga punya sesuatu untuk Muti."


"Narra, hal itu tidak perlu kamu lalukan."

__ADS_1


"Tidak apa-apa Muti, ini akan menjadi kenakan kita berdua. Narra sudah menyimpannya cukup lama dan pada akhirnya Muti lah orang yang pantas memilikinya jadi tolong diterima dan jangan menolaknya."


"Baiklah, jika Narra memaksa."


"Narra ambil dulu didalam tas."


"Nanti saja setelah kita duduk, baru kamu mengeluarkannya."


"Baiklah."


Mutiara mencari tempat yang nyaman untuk Narra, supaya dirinya bisa beristirahat dengan nyaman.


"Reyhan, dari mana saja kamu. Dari tadi aku menunggumu tapi baru sekarang kamu kembali. Apa saja yang telah kamu lakukan bersama perempuan itu."


"Sepertinya kamu sangat ingin sekali mengetahuinya Dodi."


"Sudahlah jika kamu tidak ingin mengatakannya, aku juga tidak terlalu perduli dengan apa yang kamu lalukan bersamanya."


"Baiklah, jangan bertanya lagi akan hal ini."


"Iya, tidak akan aku lakukan."


"Maaf untuk semuanya kalau kak Reyhan baru kembali kesini, ada sedikit masalah tapi semuanya sudah terselesaikan jadi untuk kali ini kakak akan melanjutkan kegiatan kita yang sempat tertunda. Untuk Narra lebih baik istirahat saja dulu dan untuk sementara jangan mengikuti kegiatan yang terlalu berat karena sedang sakit."


"Wah, beruntung sekali kamu Narra."


"Tidak juga Muti, Narra merasa tidak enak dengan yang lainnya. Apalagi Muti juga harus mengikuti kegiatan ini, Narra pasti akan merasa kesepian dan hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa bisa ikut meramaikan kegiatan ini."


"Sejujurnya Narra, Muti tidak telalu suka kegiatan seperti ini. Muti itu lebih suka ketenangan dan tidak terlalu menguras tenaga, apa Muti pura-pura sakit saja."


"Apa hal seperti itu baik untuk dilakukan Muti???, kalau ada yang sampai tau kamu berbohong bagaimana???."


"Narra tenang saja, Muti kenal sekali dengan kepala sekolah disini jadi Narra tenang saja dan pura-pura tidak tau kalau Muti sedang berbohong saat ini."


"Tapi Muti..."


Narra tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa menuruti permintaan Mutiara walaupun dirinya tidak terlalu setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Mutiara.


"Hei kamu yang disana, apa lukamu itu baik-baik saja."


"Sejak kapan kakak menyebalkan itu bersikap perhatian seperti ini." Batin Narra


"Narra, kenapa kamu terpaku begitu saja. Kak Dodi sedang berbicara kearahmu, kenapa kamu tidak meresponnya. Kalau kak Dodi kecewa bagaimana."


"Iya, kenapa Muti???."


"Ya ampun Narra, kamu itu terlalu sering melamun. Apa terjadi banyak masalah sampai kamu jadi seperti ini???."


"Muti, Narra baik-baik saja. Sudah Narra jelaskan beberapa kali kalau Narra baik-baik saja. Apa Muti tidak percaya dengan apa yang Narra katakan???."


"Bukannya Muti tidak mempercayai apa yang Narra katakan, hanya saja..."


"Hanya saja apa Muti, katakan saja kenapa kamu ragu seperti ini."


"Bukan apa-apa Narra, lupakan saja."


"Kenapa???, katakan saja apa yang ingin Muti sampaikan kepada Narra jangan ragu-ragu seperti ini."


"Muti lupa mau mengatakan apa, kita lupakan saja ya Narra. Tidak apa-apa kan."

__ADS_1


"Baiklah."


"Dodi, sepertinya apa yang kamu katakan kepadanya sia-sia saja."


"Iya benar, apa yang Nelson katakan. Rasanya pasti sakit kan Dodi."


"Kalian berdua tutup mulut dan jangan ikut campur atau mau aku lem mulut kalian berdua supaya tidak berisik lagi."


"Aduh!?!!. Keterlaluan sekali kamu Dodi. Kalau mulut kami berdua kamu lem bagaimana kami bisa makan dan minum."


"Karena suasana hatinya tidak begitu baik makannya Dodi bersikap sekejam itu kepada kita berdua Nelson, padahal kita berdua itu sahabat yang selalu setia dimana pun Dodi berada."


"Tepat sekali, sahabat kita ini sungguh kejam sekali ya Irwan."


"Tunggu dulu kenapa kalian berdua tidak menyebutkan namaku, apakah aku bukan bagian dari persahabatan ini."


"Oh iya sampai lupa ternyata Rendi juga sahabat kita Nelson."


"Wah, keterlaluan sekali kamu Irwan. Kenapa Rendi kamu lupakan begitu saja."


"Bukannya lupa, hanya tidak sempat memikirkannya."


"Bukannya itu sama saja ya."


"Sudahlah Rendi, yang terpenting sekarang kami sudah mengingat mu sebagai bagian dari persahabatan kita ini. Hanya saja akhir-akhir ini kamu terlalu sibuk dengan kehidupan percintaanmu itu."


"Tentu saja Irwan, pasti kamu iri melihatnya. Makanya punya pacar supaya ada penyemangat."


"Hahahaha, pacaran. Buang-buang waktu sekaligus uang saja, lebih baik uangnya untuk aku top up game."


"Dasar Irwan, diotaknya sudah terisi game semuanya. Bisa-bisa nanti kamu pacarannya dengan yang tidak nyata."


"Tidak nyata itu, hantu Rendi. Aku akan punya pacar tapi untuk saat ini aku tidak tertarik untuk menjalin sebuah hubungan."


"Tidak tertarik atau kamu belum bisa melupakan cinta pertamamu itu."


"Siapa cinta pertamanya Irwan, kenapa aku tidak tau mengenai hal ini. Cepat katakan Rendi siapa orangnya aku jadi penasaran ingin mengetahuinya."


"Kenapa sekarang kamu memojokkan ku Rendi, awas saja kamu."


"Sabar...sabar Irwan, aku tidak akan mengatakannya kamu tenang saja."


"Rendi, jangan seperti itu. Irwan biarkan Rendi mengatakan siapa orangnya, ini hanya antara aku dan Rendi saja. Aku janji tidak akan memberitahukan hal itu kepada siapapun termasuk Dodi atau pun Reyhan."


"Aku sudah tau siapa orangnya."


"Apa!?!!."


"Jangan berbicara sekeras itu aku tidak tuli."


"Maaf..maaf Dodi. Reyhan apa kamu juga mengetahui siapa orangnya."


"Tentu saja."


"Berarti hanya aku saja yang tidak tau siapa orangnya, kalian semua keterlaluan sekali."


"Nelson, bukannya kamu keterlaluan kamu saja sudah lupa. Bukannya pernah aku memberitahukan mu siapa orangnya."


"Kapan itu???, aku sama sekaki tidak mengingatnya Reyhan. Apa bisa kamu memberitahukanku siapa orangnya???."

__ADS_1


"Tanpa izin Irwan, aku tidak bisa mengatakannya Nelson. Maafkan aku, lebih baik kamu tanyakan langsung kepada orang yang bersangkutan."


Nelson mulai meyakinkan Irwan untuk mengatakan yang sebenarnya, tetapi sepertinya Irwan belum sanggup untuk menceritakan kisah cintanya itu.


__ADS_2