
Kegiatan hari sudah berakhir, Narra sedikit kecewa karena dirinya tidak bisa mengikuti kegiatan itu karena keadaannya saat ini.
"Akhirnya kegiatan membosankan itu berakhir juga Narra, Muti bisa bernafas lega sekarang."
"Tapi Muti, ini baru hari pertama. Masih ada dua hari lagi kan."
"Oh iya Narra , kamu benar juga. Habislah aku."
"Muti, kamu tenang saja. Narra akan selalu bersama Muti, pasti besok luka Narra ini sudah sembuh."
"Apa kamu yakin, luka mu itu bisa sembuh dalam waktu satu hari saja."
"Tentu saja bisa Muti , dokter yang mengobati luka Narra sudah sangat ahli."
"Menurut cerita yang aku dengar, dokter disekolah ini sangat tampan. Apa itu benar Narra???, pasti kamu sudah bertemu dengan dokter itu kan. Cepat beritahu aku seperti apa orangnya."
"Seperti apa yang kamu dengar Muti, dokter disini sungguh tampan dan juga baik hati."
"Serius Narra, lebih tampan siapa dokter itu atau kak Reyhan."
"Keduannya sama-sama tampan dan juga baik hati Muti."
"Kamu benar juga ya Narra, kak Reyhan itu baik banget orangnya beruntung sekali kalau bisa jadi pacarnya kak Reyhan."
"Apa Muti menyukai kak Reyhan???."
"Itu.., apa terlihat jelas kalau Muti memyukai kak Reyhan ya Narra."
"Sepertinya begitu."
"Narra, rahasiakan soal ini ya. Kalau sampai bocor Muti malu Narra."
"Iya, kamu tenang saja Muti. Narra tidak akan membocorkannya, biarkan saja rahasia ini kita simpan berdua saja."
"Muti tidak salah pilih teman."
"Maksud Muti???, Narra tidak mengerti."
"Yang jelas Muti beruntung bisa mengenal Narra hanya itu saja."
Seseorang datang dari arah belakang keduannya, dengan santainya orang itu berjalan ditengah-tengah keduannya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
"Minggir-minggir kalian berdua menghalangi Jalanku."
"Aduh!?!!, kalau jalan itu hati-hati ya kak. Narra sedang sakit sekarang." Jawab Mutiara
"Eh bocah ingusan kalian berdua itu menghalangi Jalanku jadi seharusnya yang marah saat ini bukannya kamu."
"Tapi kakak itu sudah keterlaluan, kakak bisa menjadi jalan yang lain. Jalan disni juga cukup luas kenapa kakak harus mencari jalan yang jelas-jelas ada orangnya. Kakak tidak punya mata ya."
"Kamu berani sekali menantangku ya, tutup saja mulutmu itu dan pulanglah. Dasar bocah ingusan."
"Muti, sudahlah. Narra juga tidak apa-apa. Ribut dengan orang keras kepala sepertinya buang-buang waktu saja. Ayo Muti bukannya jemputanmu sudah menunggu."
"Iya Narra, kamu benar juga. Orang keras kepala seperti kakak ini buang-buang waktu saja untuk menasihati nya karena tetap saja tidak direspon sama sekali."
"Kalian berdua yang memperbesar kan masalah kecil seperti ini kenapa sekarang kalian berdua yang membuat keributan disini. Kurang kerjaan sekali kalian berdua."
__ADS_1
"Kak, kamu itu ya..."
"Muti sudahlah, serahkan ini kepada Narra saja. Muti tetap tenang."
"Tapi Narra, kakak itu sudah keterlaluan sekali seharusnya dia minta maaf kan."
"Serahkan semuanya kepada Narra, Muti tenang saja."
"Baiklah Narra, hati-hati saja ya."
"Iya."
Narra menghampiri Dodi yang berdiri tidak jauh darinya dan Mutiara.
"Kak Dodi , berhentilah bersikap seperti anak kecil. Apa yang kakak lakukan saat ini tidak ada untungnya sama sekali, kakak bersikap ini hanya ingin mencari perhatian. Narra tau kakak membenci Narra atas insiden memalukan itu, tetapi Narra juga sudah meminta maaf atas kejadian itu tetapi kakak mengabaikan permintaan maaf Narra. Sebenarnya mau kak Dodi itu apa???. Coba jelaskan."
"Kenapa aku tidak bisa mengatakan apa pun kepada perempuan menyebalkan ini. Dodi apa yang terjadi denganmu dan perasaan apa ini, apa aku menyukai perempuan menyebalkan ini. Tapi itu tidak mungkin, dia bukan tipe ku sama sekali. Sadarlah Dodi." Batin Dodi
"Kak, kenapa hanya diam saja. Katakan apa yang sebenarnya kak Dodi inginkan."
"Aku tidak menginginkan apa pun yang terpenting jangan muncul lagi dihadapku kamu mengerti. Bertemu denganmu hanya membuat hariku bertambah buruk saja jadi mulai besok sampai seterusnya jangan muncul dihadapanku."
"Baiklah, akan Narra lakukan semua yang kak Dodi inginkan."
"Bagus, tapi ada satu syarat lagi yang harus kamu lalukan untukku perempuan menyebalkan."
"Baiklah, cepat katakan saja."
"Berhentilah menyebut namaku karena kita tidak sedekat itu."
"Ok, kakak keras kepala. Masih ada lagi???."
"Baiklah, ayo Muti kita pergi sekarang"
"iya Narra."
Narra cukup lega karena sudah mengeluarkan semua unek-unek dari dalam hatinya. Tanpa Narra sadari Reyhan memperhatikannya dari kejauhan.
"Perempuan yang sangat unik, aku menyukainya."
"Kak Reyhan, kamu sedang menyukai seseorang sekarang setelah kita putus."
"Amara, sejak kapan kamu berada disini???."
"Baru saja, apa kak Reyhan tidak mendengarkan aku berjalan kearahmu."
"Aku tidak mendengarkan apa pun."
"Kak Reyhan, malam ini ada waktu???."
"Aku sibuk dan tidak punya waktu Narra."
"Pasti kakak berbohong, kak untuk malam ini saja pergilah bersamaku. Mau ya kak, untuk malam ini saja setelah itu Amara tidak akan melakukannya lagi."
"Baiklah, aku akan pergi bersama"
"Terimakasih kak, malam ini ditempat biasa. Aku tunggu ya kak."
__ADS_1
"Iya, sudah dulu Amara. Aku harus segera pulang sekarang."
"Kenapa terburu-buru seperti ini kak, apa Amara boleh ikut pulang bersama kak Reyhan."
"Maaf, sepertinya tidak bisa Karen Nelson akan pulang bersamaku. Itu dia Nelson aku pergi dulu Amara."
Reyhan pergi begitu saja untuk menghindar dari Amara.
"Kak Reyhan saat ini kamu bisa menghindar dariku tapi lihat saja malam nanti kamu pasti tidak akan pergi dari hadapanku."
"Nelson."
"Ada apa Reyhan???."
"Bisa minta bantuanmu."
"Bantuan seperti apa yang harus aku lalukan untukmu Reyhan."
"Pura-pura lah pulang bersamaku hari ini."
"Tapi untuk apa Reyhan???, hari ini aku juga membawa kendaraan jadi untuk apa aku harus pulang bersamamu. Bagaimana dengan kendaraanku."
"Suruh Irwan yang membawanya Nelson, gampang kan."
"Aku tidak mau Reyhan, terakhir kali Irwan merusak motor kesayanganku. Sebaiknya kamu mengajak Irwan saja untuk pulang bersamamu, kenapa harus aku."
"Nelson, jarak rumah kita itu tidak begitu jauh kalau aku harus pulang bersama Irwan akan memakan banyak waktu. Kamu kan tau jarak rumah Irwan sangat jauh."
"Sangat jauh atau kamu takut dikejar anjing galak lagi Reyhan, hahahah."
"Itu juga salah satunya Nelson, jadi turuti saja apa yang aku minta. Kalau kamu tidak ingin meninggalkan motor kesayanganmu itu, simpan saja digudanh dekat uks."
"Aku tidak mau Reyhan, kalau motorku lecet bagiamana???."
"Kamu tenang saja, akan aku ganti semau biaya kerusakannya."
"Begini saja Reyhan, kita pulangnya setelah Amara pergi saja. Bagaimana???."
"Dari mana kamu tau kalau aku sedang menghindar dari Amara."
"Reyhan, aku mengenalmu itu sudah cukup lama jadi aku sudah tau seperti apa kamu. Dan terlihat jelas itu kamu akan meminta bantuan ku kalau hal itu menyangkut tentang Amara. Kamu itu tipe orang yang tidak suka menyusahkan orang lain tetapi kalau soal Amara kamu pasti tidak bisa berbuat apa-apa. Apa kamu masih menyukainya Reyhan???."
"Hahahaha."
"Kenapa kamu tertawa Reyhan???,apa yang akan katakan ini terlihat lucu???."
"Nelson, akan aku katakan dengan sejelas-jelasnya bahwa aku tidak memiliki perasaan suka atau cinta terhadap Amara. Karena perasan itu sudah hilang sejak lama dan sekarang aku sudah menemukan penggantinya."
"Apa!?!!!, secepat itu. Siapa perempuan beruntung itu???, cepat beritahu akan Reyhan siapa dia."
"Rahasia."
"Reyhan jangan seperti ini, cepat beritahu aku siapa perempuan beruntung itu yang sudah melelehkan hatimu."
"Nanti juga kamu akan tau siapa orangnya."
"Reyhan jangan seperti ini."
__ADS_1
Nelson tampak kesal karena reyhan tidak mengatakan apa pun kepadanya tentang siapa perempuan yang disukainya saat ini.