
Darma sangat penasaran dengan wujud asli kilatan putih yang menyambarnya, bola mata yang terus bergerak mengikuti kemana perginya cahaya itu.
Duar!
Batu besar terbelah menjadi dua, Darma membesarkan pupil mata saat melihat wujud asli dari kilatan putih yang tiba-tiba menyerangnya. "Kita tidak punya urusan denganku."
"Tentu saja, aku hanya ingin menjemput sukma wanita yang kau sandera. Lepaskan dia!" titah seorang pria dengan wajah yang teduh.
Rima menyipitkan kedua mata saat melihat kilatan putih berubah menjadi seorang pria tampan, tidak pernah melihatnya sebelumnya. "Siapa pria itu?" lirih pelannya, wajah teduh yang membuat siapa saja ikut berpaling.
"Kau tidak akan bisa membawanya, sukmanya sudah menjadi milikku. Aku suaminya dan dia adalah istriku." Klain Darma tak ingin mengalah.
"Jangan salahkan aku melukaimu." Pria yang berbentuk seperti sukma mulai menyerang Darma, niat baiknya tentu tidak akan berjalan mulus, sangat sulit melepaskan hubungan terlarang itu.
Keduanya terus bertarung, Rima berharap jika sang penyelamat yang menang dan dirinya bisa terbebas dari Darma, suami gaibnya.
Lain halnya pada raja yang sangat cemas memikirkan anaknya yang tengah bertarung melawan ilmu putih, karena sang penjemput bukanlah orang sembarangan yang bisa dihalangi.
Darma terus menyerang demi mempertahankan istri manusia, namun sekuat apapun dia menyerang selalu saja mental tidak menyentuh lawannya sedikitpun.
"Menyerahlah!"
"Tidak akan." Keukeuh Darma yang kembali bangkit melawan sampai titik perjuangan, di tonton oleh ayahnya dan beberapa antek-antek.
Tubuh Darma terpental hingga mengenai pohon besar, dirinya sangat lemas setelah di hajar kilatan putih yang berwujud seperti manusia.
"Kang mas, hentikan semua ini. Biarkan Rima pergi bersamanya dan jangan menyiksa dirimu lagi." Pekik tuan putri Sekar Sari, dia yang baru datang sangat terkejut melihat kondisi tunangannya yang sangat memprihatinkan.
"Ck, tidak ada yang bisa menghalangiku untuk bersama dengan istriku." Darma tidak rela jika sukma istri manusianya di bawa pergi oleh kilatan putih, dia hendak mengejar namun tangannya di cekal ayahanda nya.
"Jangan mengikuti egomu, Pangeran Darma. Kondisimu sedang tidak sehat." Tutur Prabu.
"Lepaskan aku Romo, dia membawa istriku pergi." Darma sangat cemas dan bersikeras untuk mengejar, namun kondisi yang tidak memungkinkan membuatnya lemah dan jatuh pingsan.
"Kang mas Darma…Pangeran Darma." Ucap Sekar Sari dan raja Prabu.
__ADS_1
Rima menatap pria asing di sebelahnya, ada perasaan cemas dan juga was-was apakah dia orang baik atau tidak.
"Tidak perlu menatapku begitu." Celetuk sang pria di sebelah.
"Siapa kamu?"
"Orang yang menyelamatkanmu."
"Tapi kita belum pernah bertemu sebelumnya." Serentetan pertanyaan ada di benak Rima saat ini, namun pria di sebelahnya terlihat teduh membuat hatinya nyaman dan percaya jika dia akan kembali ke alamnya.
Di rumah sakit, seorang pasian tiba-tiba membuka kedua matanya seraya bernafas sebanyak mungkin, alat bantu pernafasan membantunya. Terdengar suara orang berdzikir, wanita itu langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
Rima meneteskan air mata saat melihat seorang pria berdzikir, sangat penasaran siapa pria itu dan dia mengalihkan ke arah samping terlihat seorang wanita yang mengenakan cadar di wajah sangat dia kenal.
"Aisyah." Lirih Rima meneteskan air mata, melihat sekeliling ruangan membuatnya bisa bernafas lega telah kembali ke dunianya.
"Syukur Alhamdulillah kamu sudah sadar, Rima." Aisyah terharu jika perjuangannya dengan Farhi tak sia-sia.
"Bagaimana kamu bisa disini?"
"Aku tidak punya pilihan lain." Pandangan lurus ke depan, tanpa menatap wajah yang di tutupi cadar dan hanya memperlihatkan bagian mata.
"Seharusnya kamu datang padaku."
"Apa yang harus aku lakukan Aisyah, saat aku berkata jujur mas Arman malah semakin membenciku dan bahkan dia membawa wanita lain masuk ke dalam rumah. Setiap malam aku mendengar des*han wanita itu tanpa memikirkan aku yang hamil muda. Hati siapa yang tidak sakit saat kenyataan ada di depan mata, bahkan pria itu juga membunuh anakku." Rima terisak mengedipkan kedua matanya beberapa kali karena tak sanggup untuk menceritakannya.
"Aku ingin kamu berubah dengan taubat nasuha, jangan mengulangi kesalahan dua kali."
"Pasti, aku juga menyesal dan kapok." Jawab Rima penuh penyesalan, cinta semu yang di berikan Darma memang menggiurkan tapi dirinya manusia yang tak akan pernah bersatu, dia melirik pemuda yang masih saja berdzikir.
"Dia Farhi, adik sepupuku." Ucap Aisyah yang menjawab rasa penasaran Rima.
Rima yang masih penasaran menatap punggung pria itu, betapa terkejutnya dia melihat sang penyelamatnya. "Eh, jadi dia menyelamatkanku?" tunjuknya.
"Benar, dia membawamu kembali kesini."
__ADS_1
Fahri tersenyum seraya berjalan mendekat, wajah teduh membuat siapa saja yang berada di sekitarnya menjadi nyaman.
"Terima kasih sudah menyelamatkanku." Ucap Rima.
"Aku hanya perantara saja." Jawab Fahri merendah, dirinya juga tidak bekerja sendiri melainkan di bantu oleh ayahnya dari jarak jauh.
"Tetap saja aku harus berterima kasih padamu."
"Sama-sama."
Aisyah memeluk Rima dan sangat bersyukur bisa menyelamatkan temannya.
"Bagaimana kalau dia datang lagi?" Rima sangat takut jika Darma datang dan kembali membawanya pergi.
"Bagaimana Fahri?" Aisyah melempar pertanyaan ke arah adik sepupunya, dia juga bingung dan tidak tahu apapun.
"Bagini saja, kalau kamu tidak keberatan sebaiknya tinggal di rumah abi." Putus Fahri, dengan begitu di bisa lebih leluasa memantau dan melindungi wanita malang itu.
Rima tidak setuju dan tidak ingin merepotkan orang lain, tapi genggaman tangan Aisyah penuh harap agar dirinya menerima tawaran itu.
"Kamu tidak perlu sungkan Rima, aku juga tinggal di sana dan kita satu kamar. paman dan bibi tidak akan keberatan dengan kehadiranmu."
"Tapi aku hanya orang asing."
"Pilihan ada di tanganmu, makhluk gaib itu tidak akan menganggumu lagi jika mengikuti solusi dariku. Pisang tak akan berbuah dua kali, mau terima atau gak terserah kamu." Ujar Fahri menghela nafas.
"Baiklah."
Di perjalanan, Rima tidak ingin menginjakkan kakinya ke rumah terkutuk itu, memulai hidup baru dan lingkungan baru yang membawanya ke arah positif.
Rima kembali memakai kerudung untuk dirinya dan juga menghormati lingkungan baru yang taat dalam ibadah, berharap setelah ini dia tak lagi bertemu dengan Darma.
Dia terdiam sembari membuka jendela mobil, membiarkan angin yang meneroa wajahnya. Dengan begitu tidak ada yang tahu diam-diam dirinya tengah menangis, kehilangan calon anak bagi seorang ibu amatlah menyakitkan hati, dunianya runtuh dan menjadi tidak terarah.
"Maafkan ibu yang tidak bisa menjagamu, nak." Ucap Rima di dalam hati sambil mengelus perutnya.
__ADS_1