Nasi Kangkang Untuk Suamiku

Nasi Kangkang Untuk Suamiku
Bab 24


__ADS_3

Malam yang menjadi penentu sekaligus pemutus hubungan Rima dan Darma, dua makhluk yang berbeda alam akan bercerai di bantu oleh fahri dan ayahnya. 


Rima meremas kedua tangannya, sangat takut jika Darma tak ingin melepaskannya, berharap jika ikatan di antara mereka segera terputus. "Semoga dia tidak mengikutiku lagi, dan aku bisa hidup tenang." Gumamnya di dalam hati. 


Rima memejamkan kedua mata dan membawa sukmanya kembali ke kerajaan dimana dirinya pernah di sekap oleh Darma, dia berjalan-jalan untuk mencari keberadaan makhluk itu dan mengakhiri hubungan mereka. 


Dari kejauhan dia melihat seorang pria yang melamun dan menghampirinya. "Aku mencarimu di istana tapi tidak ada." Ucap Rima membuyarkan lamunan pria itu yang langsung menoleh dengan semangat saat mengenali suaranya. 


"Dinda." Darma langsung memeluk Rima dengan sangat erat, betapa rindunya dia saat melihat wanita pujaannya tiba-tiba datang dan mencarinya. Sedangkan wanita dalam dekapannya terdiam membiarkan dirinya memeluk dengan erat, tidak tahu jika itu menjadi pertemuan mereka untuk terakhir kalinya. "Aku sangat merindukanmu, kamu kembali untukku. A-aku akan membawamu pergi dan tidak ada siapapun yang akan mengganggu hubungan kita, kamu tahu? Aku sangat sedih jika kamu menolakku, aku sangat mencintaimu Rima." 


Seketika Rima meneteskan air mata, makhluk gaib itu terus saja membelai wajahnya dengan lembut dan takut akan kehilangan dirinya, namun dirinya tak ingin menjalin hubungan terlarang yang bertentangan dengan alam. Dia terdiam sambil melihat reaksi Darma, bahkan cinta dari makhluk gaib yang berbeda dengannya begitu besar di bandingkan Arman. 


Darma kembali memeluk Rima, menyeka air mata dan sangat terharu dengan kedatangan istrinya. Padahal dia hampir berputus asa, namun kedatangan itu menciptakan sebuah cahaya kecil penuh harapan.


"Jangan pernah menjauh dariku Dinda, aku sangat sedih jika kamu menolakku. Tapi…tapi bagaimana kamu bisa sampai ke alamku?" tanya Darma yang sesaat terdiam, menatap Rima dengan tanda tanya besar di kepala. 


"Aku di bantu oleh orang lain dan mencarimu." 


Darma sangat senang dan bahagia kembali memeluk istrinya, dia tidak peduli pada apapun lagi. "Ikut aku dan kita akan hidup bahagia." 


"Kebahagiaan apa yang kamu bicarakan, Darma? Aku datang secara baik-baik menemuimu untuk berpisah. Aku ingin kamu menjauh dari kehidupanku, kita sangatlah berbeda." Jawab Rima yang membulatkan hati untuk terlepas dari makhluk yang berwujud pemuda tampan. 


Deg


Darma sangat terkejut dengan perkataan yang keluar dari mulut Rima, dia memundurkan langkah diiringi air mata kesedihan, menggelengkan kepala kalau dia tak mau berpisah. "Tidak Dinda, sampai kapanpun kamu tetaplah istriku." 


"Kita sangat berbeda, jadi aku minta padamu untuk melepaskanku baik-baik." Tekan Rima semakin membuat perasaan Darma terluka, dirinya seakan tak ingin hidup jika mereka berpisah. 

__ADS_1


"Apa kebersamaan kita yang sementara itu tidak ada artinya? Apa Dinda tidak mempunyai perasaan sedetik pun?" 


"Walaupun sedetik, semenit, sejam, atau satu haripun aku tidak pernah mencintaimu. Sudah di putuskan kalau aku ingin berpisah darimu, aku datang secara baik-baik." Ucap Rima yang sedikit berbohong, dirinya pernah hanyut dengan cinta dan kasih sayang yang di berikan Darma. 


Darma menundukkan wajahnya ke bawah seraya mengangguk pelan, jika orang lain yang meminta mereka berpisah mungkin dirinya masih bisa berjuang tapi permintaan itu langsung di minta dari Rima. "Aku tidak mengira jika cinta bertepuk sebelah tangan teramat sakit, aku akan melepaskanmu. Hanya satu caranya, ada mustika biru di dalam tubuhku dan kamu bisa mengambilnya."


"Bagaimana caraku mengambilnya?" 


"Dengan cara membunuhku." 


"A-apa?" Rima sangat terkejut jika syarat perpisahan mereka adalah salah satunya harus mati, mana tega dia bersikap tidak adil pada Darma yang walau bagaimanapun juga pernah singgah di hatinya sesaat saja. 


"Ya, salah satu dari kita harus mati agar terlepas dari ikatan ini." 


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Rima yang sepertinya tidak sanggup melakukan hal yang keji. 


"Tapi aku tidak bisa melakukan itu." 


"Harus. Bukankah Dinda ingin memulai kehidupan baru? Biarkan aku yang mengalah demi kebahagiaan Dinda, berkorban sedikit saja tidak masalah 'bukan?" Darma tersenyum getir, untuk apa dia hidup saat perjuangannya tidak di hargai, bahkan dirinya sudah di usir dari istana dan gelar pangeran sudah di copot darinya karena telah menolak menikah dengan tuan putri Sekar Sari. 


Rima tidak ingin membunuh makhluk yang berwujud tampan itu, dia masih memiliki hati. "Aku tidak ingin membunuhmu." 


"Tidak ada cara lain?" 


"Tidak." 


"Bagaimana aku bisa membunuhmu?" 

__ADS_1


"Kamu bisa mengatakan itu pada orang yang membawamu kesini, dia tahu apa yang harus kamu lakukan." 


Rima melihat di sisi kanannya ada Fahri dan mengatakan bagaimana dirinya untuk melenyapkan makhluk itu, menyerahkan sebuah keris yang berkilau cahaya keemasan. 


Rima meraih keris itu dengan tangan yang sedikit bergetar, memberanikan diri untuk mendekati Darma. 


"Tusukkan keris itu di dadaku." Ucap Darma yakin. "Apakah aku bisa meminta satu hal saja sebelum mati?" 


"Apa itu?" 


"Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya."


Rima terdiam dan mengangguk pelan, membiarkan Darma memeluknya sangat erat hampir meruntuhkan niatnya. 


"Setelah aku tiada, lanjutkan kehidupan seperti yang kamu inginkan. Carilah pendamping yang bisa menghargaimu dan mencintaimu lebih besar di bandingkan aku, barulah aku akan merasa tenang. Mulai sekarang aku tidak bisa melindungimu, dan aku berharap agar kamu tidak mendatangi dukun lagi itu sangatlah berbahaya dan konsekuensinya amatlah besar. Jaga dirimu." Bisik Darma di telinga Rima dan memejamkan kedua matanya. "Tusukkan keris itu ke perutku!" 


Rima sangat bergetar, namun tangannya di gerakkan oleh Darma dan menuntunnya untuk mengakhiri hidup suami gaibnya. Tetesan air mata mulai bergulir, menjatuhkan keris itu saat berhasil menikam. 


Darma mengerang kesakitan tapi tak melepaskan pelukannya. "Jaga dirimu baik-baik istriku." Bisiknya sekali lagi seraya tersenyum dengan nasibnya yang begitu malang. 


Perlahan Rima merasakan tubuhnya menjadi ringan dan Darma menghilang dalam sekejap mata, dirinya menangis karena sudah kejam pada suami gaibnya. Pandangannya beralih pada mustika biru dan memungutnya, menggenggam erat di depan dada dan menyerahkannya kepada Fahri. "Aku sudah mendapatkannya." 


"Kamu sudah bebas darinya dan dia tidak akan mengikutimu lagi, ayo kita pulang." Fahri bisa merasakan apa yang terjadi sangatlah menyedihkan.


Sebelum pergi, Rima menoleh ke belakang dan menganggukkan kepala. "Ayo." 


Rima membuka mata dan melihat sekeliling yang berada di ruangan, dia melihat beberapa orang yang membantunya terlepas dari Darma. Air mata kembali menetes, merasa bersalah dan menganggap dirinya egois. 

__ADS_1


"Aku akan melanjutkan hidupku, pengorbananmu tidak akan aku lupakan dan melakukan sesuai dengan permintaan terakhirmu, Darma." Ucapnya di dalam hati sambil menyeka air mata dengan cepat. 


__ADS_2