Nasi Kangkang Untuk Suamiku

Nasi Kangkang Untuk Suamiku
Bab 27


__ADS_3

Rima menyambut kedatangan Aisyah dan sepasang suami istri yang pernah menampungnya sebelum tinggal di kontrakan, tersenyum ramah dan memperlakukannya dengan sangat baik. Dia masih belum tahu apapun mengenai niat tamunya itu, hanya menyebutnya dengan cemilan sederhana saja. 


"Bagaimana pekerjaan kamu, Rima?" tanya wanita paruh baya yang tersenyum. 


"Alhamdulillah, lancar Umi." Rima membalas senyuman itu, namun hatinya merasa ada yang aneh mengenai kedatangan keluarga Fahri yang mendadak itu. 


"Syukur lah." Sahut wanita paruh baya sambil melirik suaminya. "Maksud kedatangan kami kesini untuk meminangmu menjadi menantu." 


Deg


Sontak Rima sangat terkejut mendengarnya, seakan waktu terhenti untuk beberapa saat. Perbedaan di antara mereka sangatlah jauh, mana mungkin sepadan berdampingan dengan mereka. "Maksud Umi gimana ya?" tanyanya untuk meyakinkan hati, gugup tak tahu harus apa.


"Umi tahu ini terlalu cepat, mendengar pengakuan Fahri dan Umi juga menyukaimu. Bagaimana kalau kamu menikah dengan anak kami?" 


Rima tak dapat membuka suara seakan lidahnya menjadi keluh, melirik Aisyah sekilas kemudian tampak berpikir. "Menikah? Bahkan aku belum memikirkannya, bagaimana aku bisa menikah dalam waktu secepat ini." Batinnya. 


"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau sudah ada jodohnya akan memutuskan untuk menata hidupmu kembali, tapi semua keputusan ada padamu dan kami juga tidak akan memaksa." Ujar Aisyah menjadi penengah sekaligus jembatan.


Rima terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Sementara yang lainnya mengerti dan tidak melanjutkan pembahasan pernikahan dan hanya mengobrol ringan, takut terjadi yang tidak-tidak. 


Rima termenung di teras rumah setelah melihat kepergian tiga orang yang berniat meminangnya untuk putra semata wayang mereka, perkenalan singkat yang bahkan dirinya tidak mengenal sikap, sifat, dan sisi terdalam dari Fahri. 


"Setan paling suka sama orang yang melakun." Ucap seseorang membuat Rima tersenyak kaget, melihat tetangga di sebelah kembali merecokinya. 


"Kamu tuh yang setannya." Cetus Rima membalas malah membuat Irfan terkekeh dan duduk di sebelahnya. "Bisa gak, sekali aja jangan ganggu aku." 


"Kenapa? Biar kamunya kangen sama aku, di usilin orang ganteng kan rasanya beda." Jawab Irfan sekenanya. "Oh ya, tadi itu siapa?" 


"Gak usah kepo jadi orang." Rima berlalu pergi masuk ke dalam, menutup pintu yang sedikit kasar. Entah mengapa dirinya bisa memiliki tetangga seperti Irfan dan sialnya wajah pria itu sangat mirip pangeran Darma, suami gaibnya. 


"Cantik sih, tapi judes." Irfan tersenyum seraya masuk ke dalam kontrakannya.


Rima melanjutkan lamunannya yanh mengarah pernikahan, dirinya belum sepenuhnya membuka diri dan membutuhkan sedikit waktu dalam membina rumah tangga. Notifikasi ponselnya menyala membuatnya segera mengecek siapa yang mengirimkan pesan singkat kepadanya.


["Assalamu'alaikum, ini aku, Fahri. Bagaimana kabarmu, Rima?"]

__ADS_1


Rima hanya membaca pesan teks tanpa berniat untuk membalasnya, rasanya masih aneh saat tiba-tiba orang tua pemuda itu datang untuk meminangnya. Dia kembali mengalihkan perhatian pada benda pipih itu, deringan ponsel yang memekakkan telinga. Dia menggelengkan kepala saat Fahri meneleponnya, padahal dia hanya ingin sendiri dan memutuskan langkah hidup barunya. 


"Assalamu'alaikum, kenapa kamu tidak membalas pesanku? Kamu baik-baik saja?" tanya seorang pria yang begitu mencemaskan keadaan Rima. 


"Aku baik." 


Lama Fahri terdiam dan kembali membuka suara, beruntung sambungan ponsel masih terhubung. 


"Jadi bagaimana dengan jawabanmu? Apa kamu menerimaku atau tidak?" 


"Aku belum bisa memutuskannya, dan butuh waktu." 


"Ya, aku mengerti setelah apa yang kamu alami. Secepatnya kabari aku mengenai keputusanmu, dan berharap kalau kamu menerima pinangan itu." 


"Insya Allah." 


"Ya sudah, ini sudah malam."


"Hem."


Rima menelan saliva dengan susah payah, tidak ada cara lain selain membeli lilin untuk penerangan malamnya. Tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan dingin di pundak, tubuh yang gemetaran tapi memberanikan diri untuk menengok. 


"Kamu sedang apa?" tanya seseorang yang memegang lilin, Rima sangat terkejut dan hampir jatuh. Beruntung tangan itu dengan cepat meraih tubuhnya, hingga tatapan keduanya saling bertemu cukup lama.


"Apa mataku ini menawan?" 


Ya, siapa lagi jika bukan Irfan tengah tersenyum dalam momen yang terlihat romantis. Rima menjadi gugup dan berdiri dengan cepat, menjadi canggung apalagi menatap netra mata yang membuatnya sedikit terpesona.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" 


"Mau cari lilin." 


"Yakin mau pergi sendiri dalam kondisi gelap gulita seperti ini?" 


"Mau bagaimana lagi, aku lupa beli lilin." 

__ADS_1


"Ada lilin satu di dalam kontrakanku, ambil aja."


Rima awalnya ragu, tapi dia juga tidak seberani itu pergi ke warung sendirian dalam suasana minim cahaya. "Aku gak mau ngerepotin." 


"Ambil aja lilin yang ini." Irfan menyodorkan lilin yang ada di tangannya, Rima menerima dengan sepenuh hati. 


"Terima kasih." 


"Sama-sama." 


Rima masuk ke dalam kontrakannya, karena tergesa-gesa membuat pintu tertutup itu dan tidak bisa dibuka walau dia sudah mencoba. "Eh, kenapa pintunya gak bisa dibuka?" lirihnya pelan. 


"Kenapa?" 


"Pintunya macet." Jawab Rima menoleh, tentu saja ingin meminta bantuan pada Irfan. 


"Biar aku mencobanya." Irfan mendobrak pintu dan berusaha sebisanya, hal yang umum terjadi di kontrakan itu. 


"Bagaimana?" Rima semakin khawatir, hari semakin larut dan suasana hanya dibantu lilin dan juga flash dari ponsel. 


"Pintunya macet, sepertinya terkunci di luar." 


"Tapi aku tidak menutup pintunya." Ujar Rima yang merasa itu hal yang aneh. 


"Mungkin saja kamu tidak ingat, kebiasaan kalau kontrakan disini terkendala masalah pintu yang sering terkunci dari dalam. Bahkan aku mengalaminya lima kali dalam sebulan, dan berakhir tidur di kost teman." Ungkap Irfan. 


"Kemana aku menginap semalam? Hari semakin larut." Ucap Rima di dalam hati, apalagi besok harus bekerja dan tidak boleh terlambat membuatnya masuk dalam dilema. 


Rima mencoba untuk melihat dua kontrakan yang tak berada jauh darinya, namun selama tinggal di sana tidak pernah bertemu dengan tetangganya yang sibuk bekerja, bahkan dirinya tidak sempat untuk berkenalan. "Kamu bilang dua kontrakan itu ada penghuninya, tapi aku tidak pernah melihat pintu itu terbuka?" 


"Mereka bekerja di pabrik yang jaraknya lumayan jauh, mungkin menginap di mes yang tersedia dan jarang pulang." 


"Ouh." 


"Hem, bagaimana kalau kamu tidur di kontrakan aku?" tawar Irfan. 

__ADS_1


Rima langsung menolak dan memutuskan untuk tidur di luar saja, beruntung baju yang dipakainya cukup hangat. Dia mencoba untuk menghubungi pemilik kontrakan tapi tak ada jawaban sama sekali. 


__ADS_2