
Warga melihat momen romantis antara Irfan dan juga Rima menimbulkan kesalahpahaman hingga keduanya akan nikahkan di malam itu juga, sangat mengejutkan bagi keduanya yang begitu shock dengan keadaan yang tidak terduga.
Rima memegang kepalanya yang terasa pusing, sekarang dia sangat tidak nyaman dengan kondisi dan situasi yang terjadi. Semua orang berada di balai desa dan di hadiri oleh kepala desa setempat yang mengajukan pertanyaan kepada mereka berdua, yang pastinya menyudutkan dan provokatif dari pihak lain.
Sudah berapa kali Rima dan Irfan mengatakan hal yang sebenarnya, tapi tidak ada yang percaya karena adanya dua orang saksi yang melihat keromantisan mereka hingga membuat malapetaka dan pernikahan secara paksa.
"Apa tidak ada cara lain Pak? Itu hanya fitnah, bagaimana kami bisa menikah sedangkan kami tidak melakukan perbuatan mesum seperti yang di tuduhkan." Ucap Rima membela diri, menatap kepala desa dengan tatapan tegas.
"Sudahlah, kalian harus menikah sebelum kawasan ini di timpa musibah. Beberapa orang yang melihat kalian bermesraan saat mati lampu, seorang janda dan seorang bujangan dekat pasti memiliki hubungan spesial." Ucap seorang ibu-ibu yang terus menyudutkan Rima dan Irfan.
"Ibu jangan nuduh sembarangan, memangnya ada bukti video atau foto mengenai yang di tuduhkan itu? Lagipula saksi yang melihat hanya dua orang dan mereka dalam kondisi setengah kesadaran." Cetus Rima, kesabarannya mulai mengikis mengingat semua orang malah percaya dengan omong kosong dua pria paruh baya yang lewat di kawasan itu dalam kondisi setengah kesadaran dan termasuk mabuk.
"Kami lebih mempercayai warga asli sini dari pada kalian berdua yang hanya pendatang baru." Sahut yang lainnya ikutan ketus, menyukai hal semacam gosip yang di lebih-lebihkan.
"Apa menolong orang lain itu salah?" kini Irfan mulai membuka suara, menatap semua orang secara bergantian.
"Heh, bujang lapuk. Si Parman dan Paijo melihat kalian itu bermesraan, menolong dari segi mananya? Menolong kegatelan dari janda, begitu?" ketus ibu-ibu yang tak ingin mengalah.
Irfan menghela nafas berat seraya melirik Rima, situasi kesalahpahaman membuat keduanya terjebak.
"Semua orang sangat marah dengan perbuatan yang kalian lakukan, masih beruntung kami tidak mengarak kalian yang berakibat di permalukan."
"Harus berapa kali kami mengatakannya, kalau kami tidak melakukan tindakan senonoh itu. Apa kalian bisa mempercayai perkataan dari dua pria paruh baya dalam keadaan mabuk? Jika tidak adanya bukti, saya bisa menuntut balik kalian yang menuduhku." Tegas Rima pada semua orang, kesabarannya begitu di uji saat ini dan tidak akan tinggal diam jika tidak mendapatkan ketidakadilan.
"Semua orang sudah menjadikan kalian berdua tersangka, mau tidak mau kalian akan di nikahkan di malam ini juga." Putus kepala setempat semakin membuat Rima emosi.
__ADS_1
"Sangat lucu sekali, dua orang saksi yang bahkan setengah kesadaran malah menuduh dan menyebarkan gosip. Aku tidak akan menikah!" tekan Rima di akhir kalimat.
"Kalau begitu kalian harus di arak dan di rajam."
Sekeras apapun Rima mempertahankan posisinya akan tetap salah dimata semua orang, apalagi statusnya sebagai seorang janda dan tinggal sendirian.
Irfan menggenggam tangan Rima dengan sangat lembut, dan meliriknya sekilas. "Baiklah, kami akan menikah."
Deg
Bagaimana mungkin keputusan yang sangat besar dan bahkan berpengaruh di kehidupan masa depan dapat di putuskan dalam waktu semalam saja, apa salahnya menjadi seorang janda? Dirinya juga tidak menggoda para pria maupun suami orang dan bahkan baru pindah beberapa hari di kontrakan. Masalah yang sebenarnya tidaklah rumit malah semakin rumit dengan keputusan Irfan yang menyetujui pernikahan secara paksa itu.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan konyol. Aku tidak ingin menikah denganmu," tolak Rima seraya menyingkirkan tangan yang di genggam oleh pria tampan di sebelahnya.
"Apa kamu itu buta? Jelas-jelas saksinya hanya dua orang dan kesadaran perlu di tanyakan. Aku tetap tidak ingin menikah, hidupku akulah yang mengaturnya bukan orang lain."
Mendengar penolakan Rima semakin memperkeruh suasana dan malah melemparinya dengan kata hinaan, cacian, dan juga sumpah serapah menyalahkan status sebagai seorang janda.
Hingga akhirnya Rima dan Irfan tetap menikah di malam itu juga, sangat berat jika hati tak sesuai dengan apa yang seharusnya di raih.
"Sah?"
"Sah." Jawab semua orang yang menjadi saksi, seraya memberikan selamat pada kedua mempelai yang baru menyandang status sebagai suami istri dalam kesalahpahaman.
Rima mencium tangan kanan suaminya, dan Irfan membalasnya dengan menyentuh ubun-ubun seraya mengucapkan doa agar pernikahan mereka tetap bertahan, kemudian mencium kening sang istri dengan penuh haru.
__ADS_1
Satu persatu semua orang pergi meninggalkan tempat itu, tinggallah sepasang suami istri yang baru sah dalam keadaan yang sangat canggung.
"Sekarang apa?" tanya Rima pasrah.
"Tentu saja malam pertama, kamu lupa kalau kita sudah halal?" goda Irfan seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Dia sebelas dua belas dengan Darma, namun mereka memiliki ciri khas yang berbeda." Batin Rima sambil mendudukkan tubuhnya di kursi sederhana, menghela nafas jengah dengan malangnya jalan hidup yang di tempuh. "Masih memikirkan malam pertama? Aku bahkan memikirkan mengapa orang-orang di sekitar sini percaya dengan dua orang saksi dalam keadaan mabuk. Apa kamu tidak merasa ada yang aneh, benar-benar mengganjal."
"Ya sudahlah, lagipula kita sudah menikah. Kamu beruntung mendapatkan perjaka ting-ting seperti aku, produk masih dalam segelan."
"Apa di otakmu hanya memikirkan itu? Sangat malang sekali." Cibir Rima yang berjalan menuju pintu kontrakannya. "Tuan Irfan yang terhormat, sekarang kamu keluarlah dan kembali ke asalmu."
Irfan tahu jika Rima ingin mengusirnya, dia segera berlari masuk ke dalam kamar milik wanita cantik yang baru saja resmi menjadi istrinya. Berbaring dengan sangat nyaman dan menghirup bantal yang masih meninggalkan aroma dari wanita itu. "Aku suka bau iler mu."
Rima sangat dongkol, mencoba menarik tubuh Irfan yang bahkan tidak ingin beranjak dari ranjang yang hanya muat untuk satu orang. "Keluarlah! Ranjangnya tidak muat untuk dua orang."
"Ini sangat muat, aku bisa mengaturnya." Irfan menarik tangan Rima hingga terjatuh di atas dada bidangnya, tatapan keduanya saling berkontak dalam waktu yang cukup lama.
"Ehem." Rima sengaja berdehem untuk memecahkan situasi ambigu itu.
Ifran tersenyum khas seraya menggulingkan tubuh ramping sang istri bersebelahan dengannya, kedua tangan yang masih ada disana memeluk dengan begitu nyamannya. "Ini baru benar."
"Aku bukan bantal guling!" Rima hendak memberontak, namun tetap saja tenaga seorang wanita tak pernah menang dari tenaga pria.
"Huss…diamlah dan biarkan seperti ini." Bisik Irfan memejamkan mata.
__ADS_1