
Rima tidak banyak bicara dengan pria yang wajahnya sangat mirip dengan Darma, sesekali menjawab dan memutuskan untuk masuk ke kontrakannya saat nasi di dalam piring sudah habis.
"Aku kembali dulu, terima kasih traktirannya." Rima berjalan masuk ke dalam.
"Harusnya aku yang mengucapkan terima kasih."
"Lupakan."
Rima berbaring di atas ranjang single yang tidak besar, pas untuk dirinya sendiri. Menatap langit-langit kamar seraya mengingat pria yang menyerobot nasi gorengnya. "Dia sangat mirip dengan Darma, itu tidak mungkin dia karena aku membunuhnya." Monolognya sembari mengingat bagaimana suami gaibnya menuntun untuk melakukan pengorbanan yang sangatlah besar.
Keesokan harinya, Rima beberes rumah terlebih dahulu setelah menjalankan sholat subuh, melakukan semua aktivitas yang sudah menjadi kebiasaannya. Setelah selesai, dia bersiap-siap untuk berangkat kerja yang tak jauh dari kontrakan.
Terdengar suara lengkingan motor yang menghampirinya, Rima segera menoleh dan melihat pria tampan tengah tersenyum ke arahnya. "Sebagai tetangga yang baik, aku anterin ya!" tawar Irfan.
"Gak usah, jaraknya gak jauh." Tolak Rima yang tersenyum beberapa saat, dia merasa canggung jika pria itu terus mengikutinya.
"Oh jadi kamu kerja di cafe itu?" tunjuk Irfan yang di balas anggukan kepala oleh Rima.
"Iya, aku duluan ya." Rima mempercepat langkahnya, dia tak ingin kalau pria itu semakin mengikutinya. "Alhamdulillah, aku sampai." Gumamnya seraya menghela nafas lega, masuk ke dalam cafe berharap jika dia tidak terlambat.
Seperti biasa, Rima bekerja dengan penuh telaten dan melayani pengunjung dengan sangat baik. Seseorang mencolek bahunya yang membuatnya tersentak kaget, seorang wanita bercadar yang begitu dia rindukan.
"Aisyah." Rima memeluk Aisyah yang sudah lama tidak terlihat.
"Apa kabar? Jadi kamu kerja di sini?" Balas Aisyah yang juga memeluk sebentar.
"Iya, aku kerja disini. Kamu tahu aku disini?"
"Iya, Farhi yang memberitahukan ku."
Dengan berat hati Rima berpamitan pada Aisyah untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu, tidak ingin di pecat setelah mendapatkan pekerjaan yang menurutnya layak.
"Gak apa-apa 'kan aku tinggal sebentar?"
"Enggak, santai aja."
__ADS_1
"Hem."
Tibalah saatnya Rima mendapatkan izin dan dia kembali menemui Aisyah yang sedari tadi menunggunya cukup lama. "Maaf buat kamu nunggu lama." Ucapnya yang merasa bersalah.
"Gak masalah."
Rima membawa Aisyah ke tempat yang tidak terlalu ramai agar mengobrol terlihat lebih santai. "Bagaimana pekerjaan kamu di luar kota?"
"Alhamdulillah semuanya berjalan baik, aku kesini ingin memberikan ini." Aisyah langsung mengeluarkan kartu undangan pada Rima.
Rima tersenyum setelah membaca nama yang tertera di kartu undangan pernikahan, yang tak lain Aisyah dan juga agung. "Kamu akan segera menikah? Wah, diam-diam kamu berbisnis sambil mencari jodoh ya."
"Bukan begitu, umi dan abi yang mencarikan ku jodoh."
"Baiklah, aku pasti datang."
"Kamu gak berniat membuka lembaran baru? Mencari pasangan hidup mungkin."
"Aku masih trauma, belum bisa membuka hati." Jawab Rima jujur, pengkhianatan yang di berikan Arman sangatlah menyiksa hingga dirinya tak berani untuk menikah lagi.
"Aku tahu, kalau jodohnya sudah terlihat aku tidak menolaknya." Jawab Rima bergurau.
"Eh, serius? Ada tuh yang mau daftar."
"Siapa?"
"Fahri." Ungkap Aisyah sembari tertawa.
"Ya gak mungkinlah, aku itu janda miskin dan dia bujangan. Kayak gak ada gadis aja!" Rima tak ingin mengharapkan apapun ataupun bergantung harapan, penting baginya untuk berbenah diri menjadi lebih baik lagi.
"Apa sih yang gak mungkin jika Allah berkehendak, jangan su'uzon dulu. Aku mengatakan itu karena tidak sengaja mendengar Farhi keceplosan suka sama mu."
Rima tersenyum, dia juga tidak tahu mengenai perasaannya kepada pria bujangan bernama Fahri.
Di sore hari, sepulang bekerja Rima singgah di warung terdekat untuk membeli bahan-bahan untuk memasak beberapa hari ke depan. Memilah dan memilih sayuran dan juga lauk pauk, dia membayarnya menggunakan uang pas dan mengucapkan terima kasih lalu pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Perjalanan pulang, Rima kembali mendengar suara motor dari belakang dan segera menoleh. "Dia lagi?" gumamnya yang mulai jengkel dengan sikap tetangganya itu.
"Kita satu arah, aku antar mumpung lagi baik." Tawar Irfan yang membuat Rima jengkel mendengarkannya.
"Tidak perlu, terima kasih."
"Kenapa aku merasa kamu itu menghindar dari aku, tidak seperti wanita lain yang malah mengejar-ngejar aku yang tampan ini."
Rima menghentikan langkah kakinya, menatap tajam pada pria yang sedari tadi mengikutinya. "Apa kita sedekat itu sampai aku menghindarimu? Kita baru saja bertemu jadi aku minta untuk menjaga batasanmu."
Bukannya tersinggung Irfan malah terkekeh mendengar ketusan Rima. "Benarkah? Tapi sorot matamu tadi malam sangat berbeda, diam-diam kamu tertangkap basah."
"Stop ya. Jangan sok tahu jadi orang." Rima kembali melanjutkan perjalanannya yang hanya berjarak sepuluh meter sampai ke kontrakan. Dia masuk ke dalam dan menatap Irfan dengan jengkel, entah mengapa dia sangat risih pada orang yang sok tahu dan menyebalkan itu.
Di malam harinya, Rima selesai memasak dan hendak memakannya, lauk pauk dan sayuran seadaanya sudah menjadi makanan mewah bagi seorang yang kelaparan sepertinya. Baru saja dia berdoa dan ingin menyuapi mulut dengan makanan, terdengar suara pintu yang di ketuk dan terpaksa dia melihat siapa tamu yang datang di saat waktu tidak tepat.
"Ada apa?" tanya Rima sedikit ketus, melihat sosok pria tampan yang menjadi tetangganya itu, sangat aneh melihat tamu yang datang dengan membawa piring kosong.
"Aku mencium aroma masakan dan wanginya sampai di sebelah, apa aku boleh memintanya sedikit? Maklum, bujangan cuma biasa masak mie instan dan telur ceplok." Irfan mengulurkan piring kosongnya tanpa tahu malu, tersenyum bagai orang yang polos.
"Tunggu sebentar." Rima meraih piring dan mengisinya dengan nasi dan juga makanan yang tersedia di atas meja, tidak mengijinkan Irfan masuk takut terjadi fitnah. "Ini, ambillah." Mengulurkan piring yang berisi makanan.
"Terima kasih. Bagaimana kalau kita makan di luar aja?"
"Mau mu apa sih? Di kasih jantung kok minta hati."
"Itu juga boleh."
Rima semakin jengkel dan mendorong tubuh pria itu dan mengunci pintu rumah dengan sebaik mungkin, bisa saja tetangganya kembali mengganggu. Dia melanjutkan makan malam yang tertunda dan melahap semua makanan hingga habis tak bersisa, bersyukur atas nikmat yang masih di berikan padanya.
Notifikasi ponsel bergetar menandakan pesan masuk, Rima melihatnya dan membaca pesan yang di kirim lewat aplikasi hijau.
["Malam besok aku, umi dan abi berkunjung ke kontrakan."]
Rima mengerutkan dahi, ada acara apa yang membuat mereka menghampirinya ke kontrakan.
__ADS_1