Nasi Kangkang Untuk Suamiku

Nasi Kangkang Untuk Suamiku
Bab 23


__ADS_3

Rima terus berjalan dan merasa asing berada di tempat itu, selalu celingukan apakah ada orang lain di sana atau tidak. Dia bingung tak tentu arah, perasaan semakin khawatir. 


"Halo…apa ada orang disana?" pekiknya berharap ada orang, ruangan yang sedikit gelap dengan pencahayaan yang tidak terlalu bagus. "Apa ada orang disini? Ada yang bisa menjelaskan dimana aku berada?" 


Terlihat seseorang yang berbadan tegap menghampirinya, namun tidak bisa melihat wajahnya. Rima menyipitkan kedua mata agar terlihat lebih jelas, kedua pupil matanya membesar seraya memundurkan kaki ketakutan melihat siapa yang menghampirinya. 


"Jangan takut Dinda, ini suamimu." Ya, makhluk yang berbadan tegap, tubuh besar dan hitam legam adalah Darma. Menatap sendu wanita pujaannya yang tidak bisa di gapai, mengingat mereka ada di alam mimpi. 


"Menjauhlah dariku, Darma!" pekik Rima yang histeris dan ingin kabur, tapi tubuhnya seakan kaku dan tidak bisa bergerak. Ketakutannya semakin menjadi-jadi saat makhluk gaib itu memeluknya dengan sangat erat, tidak bisa di bayangkan bagaimana dirinya harus bertindak. "Menjauhlah dariku!" 


"Tidak, jangan katakan itu lagi. Aku melawan semua orang hanya untuk mu, Dinda. Kita sudah terikat satu sama lain, baik kau dan aku sudah bersama. Kembalilah bersamaku, gapai tanganku." Darma mengulurkan tangan dan menggerakkan tangan Rima dengan kekuatannya. 


Rima tidak bisa mengendalikan tangannya yang hampir meraih tangan hitam legam itu. Dia memejamkan kedua mata, membaca ayat kursi di dalam hati. Satu persatu anggota tubuhnya bisa di kendalikan olehnya, dan mulut akhirnya langsung merapalkan ayat Al-Qur'an hingga makhluk di depannya kepanasan dan menghilang. 


Kedua mata terbelalak saat tubuh langsung terduduk, Rima melihat suasana di tempat itu dan menyadari dirinya tengah bermimpi tapi sangat nyata. Pakaiannya basah di mandikan keringat, nafas memburu dan sangat yakin jika Darma tak akan tinggal diam dan tidak mudah melepaskannya. 


"Astaghfirullah haladzim, ternyata dia juga mengikutiku sampai ke mimpi. Apa yang harus aku lakukan!" ucap Rima di dalam hati, matanya menangkap sosok yang tidur di sebelahnya dan akan menceritakannya pada Aisyah. 


Rima melihat jam yang menunjukkan pukul tiga dini hari, perlahan beranjak dari tempat tidur dan mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud dan meminta petunjuk. Saat kedua tangan di tadahkan, dia gemetaran merasakan dosa yang di perbuatnya di masa lalu, genangan air mata di iringi juga mengiringinya.


Rima sangat menyesal telah menyekutukan Tuhannya, tidak percaya akan takdir yang di berikan padanya. 


Sementara di sisi lain, Darma sangat marah mengetahui Rima tidak lagi menginginkan dirinya, padahal dia sudah berkorban banyak meninggalkan gelarnya sebagai pangeran. Melampiaskan kemarahan dengan mengeluarkan semua kekuatannya, sangat frustasi jika dirinya tak bisa meraih istrinya kembali. 


Terdengar suara gelak tawa menyeramkan, menertawakan nasib Darma yang malang begitu memaksakan diri untuk bersama dengan manusia. 


"Ck, keluar kau Braja." Ucap Darma yang tahu siapa yang menertawakannya. 


Muncullah sosok yang menertawakannya. "Dasar bodoh, aku sudah pernah memperingatkanmu."


"Kalau kau ingin mengejekku sebaiknya pergi saja dari sini." Usir Darma. 


"Apa yang kau harapkan dari manusia? Bahkan tuan putri Sekar Sari lebih cantik dan yang pastinya sebangsa dengan kita." Braja duduk di sebelah Darma, tertawa melihat penderitaan makhluk gaib di sebelahnya. 


"Ck, kalau kau ingin ambil saja dia." 

__ADS_1


Seketika Braja semakin bersemangat, sangat tertarik untuk membahasnya. "Apa kau sungguh-sungguh?" 


"Ya, aku tidak ingin menikahi Sekar Sari." 


"Ya sudah, aku akan maju menjadi pendamping tuan putri Sekar Sari." Celetuk Braja dengan semangat empat lima. 


"Yaa…itupun kalau dia mau denganmu." Cibir Darma terkekeh, sedangkan Braja cemberut. 


"Walaupun aku hanya rakyat biasa, sangat yakin mendapatkan cinta dari tuan putri."


"Semoga kau berhasil." Darma menepuk bahu Braja dan menghilang. Dirinya tak ingin di ganggu ataupun membahas orang lain di kala hati terluka cukup dalam. 


"Ternyata dia menyenangkan juga." Gumam Braja sembali melamunkan tuan putri Sekar Sari yang sangat cantik menjadi istrinya, walaupun statusnya hanyalah rakyat biasa. "Maju rakyat jelata!" ungkapnya menyemangati diri sendiri. 


*


*


Di dalam ruang tamu, semua orang berkumpul seperti biasanya. Rima diam untuk melihat situasi dan kondisinya untuk menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. 


"Ada apa Rima?" tanya Aisyah yang sedari tadi melihat gelagat temannya. 


"Ini cukup rumit, dia akan selalu mengejarmu." Tutur pria tua dengan tenang. 


"Aku ingin terbebas darinya." 


"Langkah pertama adalah dengan memutuskan hubungan kalian yang tak lazim itu dan bercerai." Ujar Fahri. 


"Tapi aku tidak menikah dengannya." 


"Kamu sudah menikah dengannya tanpa kamu sadari." 


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Rima sangat takut jika Darma kembali menghantuinya. 


"Aku akan mencoba mengeluarkan pengikat kalian dan tentu saja di bantu abi." Jawab Fahri. 

__ADS_1


Rima mengangguk dan berharap masalahnya dengan makhluk gaib terselesaikan. 


*


*


Sudah beberapa hari Rima tinggal di rumah orang tua Fahri, dia merasa sungkan untuk terus tinggal di sana. Apalagi Aisyah pergi ke luar kota dalam kurung waktu dua minggu karena urusan mendesak, dia tidak ingin merepotkan orang lain dan mencoba untuk berbicara dengan Fahri. 


"Kenapa kamu diam saja? Ayo katakan!" desak Fahri. 


"Hem begini, berhubung Aisyah ke luar kota selama dua minggu, sebaiknya aku mencari tempat tinggal yang baru dan juga pekerjaan." Ucap Rima berharap jika sang tuan rumah tidak tersinggung. 


Fahri mengangkat sebelah alisnya. "Tidak, sangat berbahaya kalau kamu keluar dari sini." 


"Aku tahu, aku akan berjuang sendiri dengan mendekatkan diri pada sang khalik. Kamu tidak perlu khawatir." 


"Siapa yang khawatir, penuh percaya diri itu tidaklah baik." Ralat Fahri membuang arah pandangan ke samping. 


"Alasanku kedua tidak ingin merepotkan Aisyah dan kamu, bantuan kalian lebih dari cukup. Aku akan memulai hidup di kota ini dan mencari pekerjaan." 


Fahri terdiam dan berlalu pergi tanpa mengatakan apapun, Rima menautkan kedua alisnya karena tidak mengerti mengapa pria itu tiba-tiba saja pergi. "Ada apa dengannya?" 


Rima mulai membantu umi di dapur dan bersih-bersih sebagai tamu yang tahu diri, dia tidak pernah tinggal diam dan membersihkan tempat yang sangat luas itu dibantu oleh dua orang pembantu walau pemiliknya sudah melarang. 


"Umi lagi buat apa?" tanya Rima yang selesai beberes rumah. 


"Umi lagi belajar buat kue bolu pisang dan selalu gagal." 


Seketika Rima tersenyum, dia sangat pintar memasak dan juga membuat kue. "Aku bisa membantu Umi, itu sangat mudah." 


"Eh, kamu juga bisa buat bolu?" 


"Insyaallah bisa, biar Rima yang buat dan Umi perhatikan atau mencatat hal-hal yang di perlukan." 


"Baiklah." 

__ADS_1


Kedua wanita berbeda usia itu tertawa saat mereka mengadon kue bolu dan tertawa, tanpa di sadari seseorang melihat keakraban itu terjalin indah. 


"Semenjak Rima disini, Umi selalu ceria." Batin Fahri dan berlalu pergi. 


__ADS_2