Nasi Kangkang Untuk Suamiku

Nasi Kangkang Untuk Suamiku
Bab 22


__ADS_3

Seluruh pandangannya menyusuri tempat itu, sangat besar dan juga mewah membuat Rima merasa sungkan dan juga segan untuk masuk ke dalam. Suasana di kelilingi pohon buah-buahan yang membuat mata semakin sejuk memandang. 


"Ayo turun!" ucap Aisyah membuyarkan lamunan Rima yang sangat kagum melihat tempat itu, bahkan sepuluh kali lipat lebih mewah daripada rumah dari mendiang suaminya. 


"Eh, iya." Jawab Rima menganggukkan kepala pelan, dia membuka pintu mobil dan turun.


Aisyah tersenyum saat dirinya sampai di kota, tempat paman dan bibinya berada dan sangat merindukan kedua orang tua pengganti. "Ini rumah milik paman dan juga bibiku, aku dan Fahri juga meminta izin pada mereka, menceritakan semuanya."


"Hem." Rima tersenyum sekilas, betapa buruk dirinya yang di kasihani orang lain.  


"Kamu tidak perlu sungkan, anggap seperti rumah sendiri. Ayo masuk!" Fahri berjalan lebih dulu menuntun kedua wanita itu, melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah setelah mengucapkan salam. 


Rima melihat sepasang suami istri sudah paruh baya tersenyum melihat kedatangan mereka, hal itu semakin membuatnya sungkan. 


"Assalamu'alaikum Umi…Abi." Fahri langsung menyambar tangan sepasang suami istri yang paruh baya, adab yang lebih di muliakan dalam keluarga mereka. 


"Waalaikum'salam, apa dia Rima?" tanya seorang wanita paruh baya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. 


"Benar Umi, dia Rima…temanku yang pernah aku ceritakan itu." Jawab Aisyah yang juga melakukan hal yang sama dengan Fahri lakukan. 


Sementara Rima tersenyum canggung seraya menyatukan kedua tangannya, bersalaman dari kejauhan. "Saya Rima, Bi." Ucapnya tersenyum kaku. 


"Panggil umi saja seperti yang lainnya." 


"Baik Umi." 


"Kalian pasti capek, sebaiknya masuk ke kamar yang sudah Umi siapkan." 


"Iya Umi." Jawab ketiganya serempak. 


Farhi berlalu pergi lebih dulu, dirinya sangat merindukan kamar yang sudah lama di tinggalkan. Membersihkan diri seraya melakukan ibadah Sunnah yang selalu di lakukan jika memiliki waktu senggang. Sedangkan Aisyah membawa Rima pergi menuju lantai atas, mereka satu kamar sesuai pembicaraan sebelumnya. 


Lagi dan lagi Rima terkesan saat melihat kamar yang begitu luas, dekorasi yang indah dan juga berkelas. Aisyah tersenyum saat menangkap ekspresi temannya yang selalu saja takjub dengan tempat itu, membawa wanita itu bersamanya berharap bisa melupakan masa lalu yang kelam. 

__ADS_1


"Ayo masuk, kamu pasti capek." 


"Eh, iya." Rima meletakkan barang bawaannya, membersihkan diri terlebih dahulu karena masih terasa lengket karena keringat. "Aku mandi dulu!" 


"Kamar mandinya di sebelah sana." Tunjuk Aisyah yang membuka cadarnya di hadapan temannya itu. 


Rima mengangguk dan masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa sehelai handuk juga peralatan mandi. "Rumah dan seisinya sangat indah sekali, jadi Farhi adalah anak orang kaya." Gumamnya seraya membersihkan diri. 


Setelah selesai membersihkan diri, Rima keluar dan mengganti pakaiannya. Pakaian yang cukup terbuka, saat dirinya tak sempat untuk membeli pakaian tertutup dan syar'i. "Aku gak pede pakai pakaian ini, kurang pantas jika bergabung dengan keluarga ini." Pikirnya yang mencoba untuk mencari pakaian. 


Aisyah yang melihat gelagat Rima segera menghampirinya dan bertanya. "Ada apa? Sepertinya kamu gelisah sekali." 


"Hem…anu, aku gak punya baju dan lupa membawa pakaian tertutup. Gak mungkin pakai pakaian ini, apa kata mereka." Jawab Rima yang mengeluarkan kegelisahannya. 


"Aku bisa membantumu, kamu bisa memakai pakaianku dulu untuk sementara. Nanti kita belanja pakaian syar'i ya!" 


"Terima kasih Aisyah, maaf merepotkanmu." 


"Tidak perlu sungkan." Aisyah beranjak dari duduknya berjalan menuju lemari putih, memilih salah satu pakaiannya dan memberikannya kepada Rima. "Ini sepertinya cocok, coba pakai." 


Beberapa menit setelahnya, Aisyah tertegun untuk beberapa lama saat melihat penampilan Rima yang begitu memukau, walaupun tertutup tapi aura kecantikan terlihat dengan sangat jelas. "Masya Allah. Kamu sangat cantik sekali Rima." Pujinya dengan kedua mata berbinar cerah.  


"Terima kasih." Jawab Rima tersenyum, dia segera duduk di sisi ranjang mengingat tubuhnya masih tahap pemulihan.


"Aku tinggal bentar." Aisyah keluar dari kamar setelah kembali memasang cadarnya dan Rima menganggukkan kepala.


Bulir cairan bening yang menetes, lolos di antara kedua pipi mulusnya. Rima memegang perut, keguguran sangatlah menyakitkan bagi seorang ibu. "Kapan aku bisa merasakan kebahagiaan? Kenapa hidupku selalu saja menderita?" pikirnya dengan kesedihan mendalam. 


Kedatangan seseorang membuat Rima terburu-buru menyeka air matanya, berharap tidak ada yang mengetahui kesedihan hatinya. 


"Umi." Rima tersenyum melihat kedatangan sang pemilik rumah. 


"Apa Umi boleh masuk?" 

__ADS_1


"Masuk saja Umi, tidak perlu bertanya." 


Wanita paruh baya itu mengangguk dan masuk ke dalam kamar, membawa buah-buahan yang sudah di kupas. "Ini ada buah-buahan yang sudah Umi kupas, dan segelas susu. Jangan lupa di habiskan!" Ucapnya dengan senyuman hangat. 


"Iya Umi, terima kasih." Rima tersenyum seraya meneguk segelas susu hingga habis tak bersisa, membuat wanita paruh baya itu tersenyum dan mengelus pucuk kepalanya dengan lembut. Dia melihat kepergian sang empunya punya rumah yang menghilang dari balik pintu. 


Rima tersenyum sekilas saat dirinya mendapatkan sambutan kehangatan penuh cinta dan tidak pernah dia dapatkan sebelumnya, begitu beruntungnya Aisyah yang mempunyai paman dan bibi berhati mulia dan penuh dedikasi yang tinggi.


Saat malam hari, mereka semua telah berkumpul di meja makan untuk menyantap makanan yang terlihat sangat menggugah selera, Rima begitu terkesan karena dirinya lagi dan lagi mendapat perlakuan sama di tempat itu seperti Fahri dan juga Aisyah. 


Tak butuh waktu lama suasana hangat di keluarga kecil itu sudah selesai, menyantap makanan hingga habis tak bersisa. 


"Alhamdulillah…seperti biasa masakan Umi sangat lezat." Puji Farhi mengacungkan kedua jempolnya. 


"Sangat berlebihan." 


"Aku mengatakannya dengan jujur, Umi." 


"Umi tidak akan memasak untukmu selamanya, minta saja kepada istrimu nanti." 


"Istri? Bahkan calon saja aku tidak punya." Jawab Fahri. 


"Kamu gak ingin menikah, Aisyah? Sudah lama hidup sendiri, sebaiknya kamu mencari pasangan hidup." 


Aisyah membalasnya dengan senyuman di wajah, dia tidak bisa berkomitmen dalam jangka panjang apalagi trauma yang pernah dialami olehnya yang menyebabkan rumah tangganya putus di tengah jalan. 


"Kenapa kamu diam saja?" 


"Aku hanya ingin fokus pada pekerjaan dulu Umi, gak kepikiran menikah."


"Ya sudah kalau itu keinginanmu." 


Rima hanya tersenyum biasa sekali menganggukkan kepala karena dirinya masih saja canggung masuk ke tengah-tengah keluarga bahagia itu. 

__ADS_1


Sementara di luar rumah seseorang telah memperhatikan hal itu dari kejauhan, ekspresi yang penuh kerinduan menatap Rima. Ya, dia adalah Darma yang masih saja mengikuti istri manusianya. Ingin sekali dia masuk ke dalam rumah mewah itu, tetapi pagar gaib yang di sekeliling itu membuatnya tidak bisa masuk ke dalam dia sudah mencoba namun tubuhnya terpental hingga beberapa meter. 


__ADS_2