
Rima sangat penasaran dengan identitas asli dari suaminya itu yang bahkan tidak pernah bekerja namun selalu memberikannya uang kebutuhan hidup dan juga pegangan untuk dirinya yang cukup banyak ada di tangannya.
Dia sangat terkejut dan hampir tak percaya dengan apa yang di lihatnya, tapi itu amatlah nyata.
"Sebanyak ini?" tanyanya yang hampir shock melihat seikat uang merah ada di tangannya.
"Ya, itu kebutuhan selama dua minggu. Sisanya terserah padamu mau di buat apa." Ucap Irfan yang duduk di sebelah istrinya, meneguk secangkir teh yang ada di hadapannya.
"Kita baru menikah satu minggu yang lalu, bagaimana kamu memberikan uang ini dengan mudahnya? Apa kamu bercanda uang sepuluh juta hanya untuk dua minggu, yang benar saja." Ujar Rima mengerutkan dahi, dia jelas ingin tahu asal usul uang itu sebelum memakainya.
"Kamu tenang saja, itu uang halal kok. Aku gak mungkin nafkahin kamu pake uang haram."
"Ta-tapi__."
Belum sempat Rima melanjutkan perkataannya lebih dulu bibirnya terkatup saat tangan pria di sebelahnya mendarat di sana dengan mulusnya.
"Uang itu seratus persen halal, jangan mikir yang tidak-tidak."
"Kita sudah menikah, tapi aku tidak tahu apa pekerjaanmu. Jelaskan mengenai dirimu!" tekan Rima melotot tajam, pikiran negatif mengenai suaminya itu selalu menghantui dirinya.
Irfan terkekeh seraya menyentuh kening Rima, membuat wanita itu semakin penasaran. "Apa kamu beneran tidak ingat aku?" tuturnya.
"Memangnya kamu siapa? Aku tidak mengenalmu sama sekali." Rima semakin tidak mengerti mengapa pria yang mirip dengan Darma tersenyum melihat rasa penasarannya yang sangat tinggi.
"Kamu benar-benar melupakan aku, Rima. Apa kamu lupa siapa adik kelas yang selalu mengagumimu dalam diam dan mencoba untuk mengungkapkan kata cinta? Saat kita masih duduk di bangku sekolah menengah pertama." Irfan mencoba untuk membantu istrinya untuk mengingat masa lalu bersama.
Perlahan Rima mulai mengingat segalanya, dimana adik kelas yang terlihat sangat cupu dan juga culun mengungkapkan perasaan padanya saat bersekolah di desa. Dia yang hanya ingin fokus pada ujian akhir menolak pria itu dan membuat pria malang itu patah hati dan setelah lulus sekolah menengah pertama mereka tidak pernah lagi bertemu. "Itu sudah lama sekali dan aku juga lupa bagaimana wajahnya, tapi namanya bukanlah Irfan."
__ADS_1
"Cerdas, aku adik kelas yang kamu tolak itu dan membuatku patah hati. Waktu sekolah menengah pertama, nama panggilanku Iyan." Ujar Irfan yang sangat mencintai Rima semenjak penolakan itu, dirinya begitu tertantang untuk mendapatkan wanita itu.
Rima tersentak kaget setelah mendengar fakta itu, dia tidak menyangka jika adik kelas yang mencintainya dalam diam dan pernah menolaknya karena alasan dirinya ingin fokus ujian akhir sekolah. Untuk sekian tahun lamanya mereka di takdirkan untuk bertemu lagi dan malah menjadi pasangan suami istri dalam kondisi kesalahpahaman warga.
"Iyan."
"Iya Sayang, sekarang kamu sudah mengingatku?" Irfan tersenyum saat dirinya sudah mendapatkan sang wanita pujaan sekaligus cinta monyet dan cinta pertamanya.
"Bagaimana mungkin?" Rima masih tidak percaya dengan semua itu, terasa seperti mimpi apalagi mereka tidak pernah saling berkontak setelah dia lulus dari sekolah menengah pertama.
"Tentu saja mungkin, padahal aku hanya merubah penampilan saja tapi kamu tidak mengenaliku, sayang sekali." Irfan menghela nafas memaklumi penampilannya yang berubah sembilan puluh derajat.
"Kalau kamu sudah mengenalku, mengapa kamu tidak memberitahukan sebelumnya?"
"Apa aku harus mengumumkan kalau aku itu pria yang selalu mengejarmu saat kita sekolah dulu, penolakan itu yang membuatku berubah dan jadilah seperti ini, pria tampan dengan seribu pesona. Tapi kamu tenang saja, aku mencintaimu dulu, sekarang, dan juga di masa depan. Aku sangat mencintaimu, sekarang kamu tidak punya alasan untuk menghindariku lagi." Tutur Irfan tersenyum penuh kemenangan.
Irfan terkekeh melihat sang istri yang meremehkan dirinya. "Apa kamu pernah bertemu langsung dengan pemilik cafe tempatmu bekerja?" tanyanya yang di balas dengan gelengan kepala oleh Rima. "Aku pemiliknya. Aku punya lima cabang yang Alhamdulillah nya semua berjalan dengan lancar."
"Kalau kamu kaya, tidak mungkin tinggal di kontrakan." Rima masih mencari celah kesalahan Irfan yang mengira berbohong padanya.
"Wow, sepertinya aku terlihat misterius ya." Irfan menoel dagu istrinya.
"Ayo jelaskan!" sentak Rima mulai kesal dengan pria di sebelahnya.
"Aku harus menjelaskannya darimana?" Irfan pura-pura tidak tahu membuat Rima jengkel. "Hah, aku akan memulainya saat kamu lulus lebih dulu."
"Ayo jelaskan dan jangan sampai terlewatkan satupun."
__ADS_1
"Siap Tuan putri." Irfan membungkuk layaknya memperlakukan wanita itu dengan sangat spesial.
"Ayo!"
"Saat aku lulus, aku melanjutkan studi di negara tetangga dan melanjutkan ke jenjang universitas yang ada di luar negeri. Mencoba untuk berbisnis dan syukur Alhamdulillah sudah bisa membuka lima cabang dalam waktu yang berdekatan, setelah aku merasa sukses dan ingin mencari keberadaanmu lagi. Tapi aku mendengar kamu sudah bersuami yang membuatku kembali patah hati, dan menetap beberapa tahun di luar negeri untuk mengobati hati yang luka. Aku mendengar banyak mengenai apa yang kamu jalani, hingga salah satu bawahan mengatakan kamu bekerja di cafe ku dan aku sangat bahagia sekali."
"Bukankah kamu tinggal di kontrakan lama? Ini sangat tidak masuk akal."
"Tidak masuk akal bukan berarti tidak mungkin, anggaplah itu sebagai bentuk pengorbanan atas cintaku padamu."
Rima menatap tajam pada suaminya yang pasti menyembunyikan hal lainnya lagi.
"Kenapa kamu menatapku begitu? Aku sudah menjelaskannya."
"Belum semuanya, aku yakin ada yang tidak di ceritakan padaku."
Irfan menggaruk tengkuk yang tidak gatal sembari cengengesan karena ikut turun tangan mengenai pernikahan mereka yang mendadak itu. "Ya, kamu dan aku sama-sama dewasa."
"Ayo jelaskan!" cetus Rima menatap Irfan tajam penuh penyelidik.
"Hehe…sebenarnya pernikahan kita itu terjadi karena aku yang meminta semua warga untuk membantuku mendapatkanmu." Ungkap Irfan yang merasa suasana di sekitarnya sangatlah berbeda, melihat ekspresi yang di tunjukkan Rima benar-benar membuatnya bergidik ngeri.
"Jadi ini karena ulahmu." Rima sangat kesal bercampur marah saat dirinya di jebak atas permainan Irfan, pantas saja pria itu terlihat santai menghadapinya. Dia mengejar pria yang sudah berlari dan terjadilah aksi kejar-kejaran layaknya Tom and Jerry.
Rima memukul dada Irfan, dirinya merasa di permainkan dan keduanya malah terlihat romantis. "Dasar penipu."
"Maaf…maaf, aku seperti itu karena mencintaimu. Maafkan ke khilafan suami tampanmu ini," bujuk Irfan.
__ADS_1
Kedekatan keduanya terlihat sangat jelas oleh seseorang yang mengenakan baju koko berwarna putih, sangat terkejut dengan kedekatan Irfan dan juga Rima.