
Rima memutuskan untuk keluar dari kediaman rumah mewah itu dan akan menjalani hidupnya seperti biasa, memulai kehidupan baru ditempat yang baru. Dirinya mulai mengemasi tas dan berpamitan pada semua orang terutama Aisyah yang sudah membantunya selama ini, dan juga Fahri yang membantunya terlepas dari Darma, suami gaibnya.
"Apa kamu yakin ingin pindah? Kenapa tidak tinggal di sini saja." Ucap wanita paruh baya yang menangis karena kepergian Rima secara mendadak.
Rima tersenyum sambil meraih kedua tangan wanita paruh baya itu. "Aku tidak ingin merepotkan Umi dan keluarga lagi, gak enak sama orang. Umi kan tahu sendiri jika aku dan Fahri tidak bisa tinggal bersama, takut fitnah." Ujarnya dengan lembut, apalagi Aisyah mulai sibuk dengan pekerjaannya ke luar kota.
"Rima benar Umi, takut ada fitnah. Jadi biarkan saja nak Rima pergi dari sini." Celetuk pria paruh baya yang tahu di dalam pikiran wanita itu.
"Tapi Umi senang kalau Rima di sini menemani Umi memasak dan membuat bolu."
"Kamu yakin ingin pindah?" tanya Fahri yang melihat ibunya menjadi tidak tega.
"Iya, aku ingin membuka lembaran baru."
Terlihat guratan kesedihan di wajah Fahri, tapi dia juga tak memiliki hak untuk melarang wanita itu pergi.
"Begini saja, bagaimana kalau Nak Rima menikah dengan Fahri. Dengan begitu tidak akan ada fitnah lagi dan kamu tidak pergi meninggalkan Umi sendiri."
Rima terkejut dengan permintaan dari umi, namun dia melihat bagaimana statusnya yang hanyalah seorang janda dan tidak pantas jika bersanding dengan sosok pria lajang yang tampan dan juga kaya raya seperti Fahri.
"Maaf Umi, bukan maksud lain tapi Rima belum bisa membuka hati untuk saat ini."
"Sudahlah Umi, jangan memaksakan kehendak hati."
"Baiklah, tapi Umi bolehkan sesekali main ke kontrakan kamu?" ucap wanita paruh baya itu dengan nanar.
"Boleh kok Umi, tinggal kabari Rima."
"Baiklah kalau begitu, hati-hati ya dan jangan lupa mengabari Umi saat kamu dan Fahri sudah sampai."
"Iya Umi."
Setelah drama itu, akhirnya Rima pergi dan mencari kontrakan baru di temani oleh Fahri. Tidak ada yang ingin membuka suara, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Masih ada kecanggungan di antara mereka yang menjadi jarak pemisah.
__ADS_1
"Jadi itu kontrakannya?" celetuk Fahri.
"Iya, itu lebih dekat dengan cafe tempat aku bekerja."
"Kamu yakin bekerja di cafe? Aku sudah menawarkan mu pekerjaan di perusahaan."
"Aku gak mau ngerepotin lagi, semuanya lebih dari cukup." Rima membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil, mengambil koper dari dalam mobil.
Fahri ingin membantu tapi di tolak Rima, dirinya hanya melihat dari dalam mobil dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Rima melihat kontrakan kecil di depannya, mengucapkan basmalah dan salam sebelum masuk ke dalam. Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, kini dirinya akan tinggal di sana dan memulai membuka lembaran baru sesuai permintaan terakhir Darma.
*
*
Rima sangat bersemangat saat dirinya akan bekerja hari ini, tidak mempunyai pendidikan tinggi membuatnya hanya bisa mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan cafe yang penting halal baginya. Dia terlihat cantik dengan pakaian khusus yang di berikan, memperbolehkan karyawati menggunakan hijab juga rok.
Sang manager cafe mulai mengatakan tugas-tugas untuk pegawai baru, Rima mendengarkan dengan seksama dan mengangguk mengerti.
"Baik Bu." Jawab keempat karyawati baru termasuk Rima.
Rima tidak memikirkan apapun selain menyambung hidup, dia melayani para pelanggan dengan sangat ramah dan juga membersihkan meja. Walaupun sangat lelah, tapi dirinya sangat bersyukur menjadikan keringatnya sebagai sambungan hidup tanpa ketergantungan pada siapapun.
Saat di sore hari, Rima kembali pulang ke kontrakan sempitnya dengan berjalan kaki, memang jarak tempuhnya tidaklah jauh hanya beberapa puluh meter saja.
"Aku sangat lelah." Rima duduk di teras rumah seraya menyandarkan punggung, rasa pegal menjalar keseluruh tubuhnya.
Lama Rima berada di teras kontrakan, dan melihat motor yang berjalan ke arahnya lebih tepatnya ke kontrakan di sebelah. Dia menyipitkan kedua mata saat melihat seorang pria yang mengenakan jaket kulit berwarna hitam menggunakan helm dengan warna senada membuatnya sangat penasaran.
Kedua pupil mata Rima membesar saat melihatnya dengan sangat jelas. "Darma." Lirihnya terkejut.
Rima tak menyangka jika pria yang mengendarai motor itu sangat mirip dengan Darma, suami gaibnya. Mencoba untuk mengucek kedua bola mata dan berharap itu hanyalah ilusi belaka karena akhir-akhir ini dia merindukan suami gaib yang mati di tangannya.
__ADS_1
Pria itu menganggukkan kepala, merasa bingung saat mendapatkan tatapan dari mata Rima. Dia masuk kedalam kontrakan yang bersebelahan dengan seorang wanita.
"Hah, mungkin aku sangat capek dan penglihatan menjadi melantur." Gumam Rima yang bermonolog, dia masuk ke dalam kontrakan dan membersihkan diri.
Ada empat kontrakan yang berderet di sana, tiga yang lainnya penghuninya adalah wanita. Jadi dia tidak tahu kontrakan bertepatan di sebelahnya penyewa nya seorang pria yang sialnya sangat mirip dengan Darma.
"Tidak mungkin itu Darma, aku sendiri yang membunuhnya." Rima masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, atau mungkin karena dirinya yang capek usai bekerja.
Di malam hari, seperti biasa Rima menjalankan kewajiban umat muslim dengan mendekatkan diri kepada sang Rabb. Melupakan kisah kelamnya dan memulai awal yang baru, berharap tidak ada masalah di kemudian hari. Dia hanya ingin menjalankan rutinitas seperti biasa dan meninggalkan hal yang berbau ilmu hitam.
Perut terasa kosong, Rima sangat lapar dan lupa untuk membeli sayuran dan lauk pauk. Dia berjalan keluar kontrakan dan melihat nasi goreng keliling dan memanggilnya.
"Nasi gorengnya satu ya Pak, yang pedas."
"Iya Neng, di tunggu ya."
Rima duduk sambil memegang perutnya yang minta di isi, mencium aroma masakan semakin membuatnya tak tahan lapar.
"Ini Neng, nasi gorengnya sudah siap. Monggo di makan!"
Rima mengangguk dan hendak meraih piring yang berisi nasi goreng, perut yang lapar membuatnya sudah tak sabar. Tapi, piring yang berisi nasi goreng berada di tangan seseorang yang tiba-tiba dirampas darinya.
"Itu nasi goreng ku!" ucap Rima tak senang.
"Kamu pesan lagi yang baru, aku gak bisa terlambat makan." Pria itu langsung melahap nasi goreng membuat Rima jengkel, sedangkan sang penjual bingung mau apa dan akhirnya membuatkannya satu.
"Alhamdulillah, ini Pak uangnya." Serah pria itu memberikan uang seratus ribu. "Sekalian saya bayarin buat mbak di sebelah."
"Oh oke Mas."
Seakan lapar menghilang saat melihat pria di sebelah yang menyerobot nasi gorengnya sangat mirip dengan Darma.
"Maaf ya Mbak, aku punya riwayat penyakit maag gak bisa telat makan. Oh ya, namaku Irfan." Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan.
__ADS_1
"Iya gapapa. Rima." Jawabnya sambil meraih uluran tangan itu dan tersenyum beberapa saat.