
Pria itu berjalan mendekat, dia tidak tahu jika hubungan Rima dan Irfan telah sah menjadi sepasang suami istri. Sebagai seorang pria yang memiliki perasaan pada wanita itu amat menyakitkan melihat pemandangan yang menyesakkan dada.
"Assalamu'alaikum." Sapa Fahri yang bersikap elegan.
"Waalaikum'salam." Jawab keduanya yang langsung terdiam saat kedatangan tamu yang tak di undang.
Fahri menatap Rima dalam membuat Irfan sangat tidak nyaman jika ada yang menatap istrinya lebih dari lima detik.
"Maaf, mau cari siapa ya?" tanya Irfan pura-pura tidak tahu.
"Aku perlu bicara dengannya." Tegas Fahri yang melirik Rima.
"Kalau ingin bicara katakan langsung." Tiba-tiba suasana menjadi tak terkendali, sangat menyesakkan dan juga sengit persaingan antara dua kubu yang berbeda.
"Rima, aku perlu bicara dengan kamu karena ini sangat penting." Fahri hendak menarik tangan wanita itu tapi langsung di cegah oleh Irfan yang tengah melindungi istrinya dari pria lain.
"Bicarakan saja disini."
"Ini privasi." Fahri melirik Irfan yang menganggapnya pengganggu sekaligus penghalang.
Rima juga menatap Irfan bermaksud untuk meminta izin, satu anggukan kepala menjadi lampu hijau. "Bicarakan disini saja, ada apa?" tanyanya setelah memberikan jarak lima meter saja.
"Aku tak sengaja melihatmu dan dia bersikap sangat romantis, apakah itu cerminan dari wanita baik-baik?" Fahri langsung menanyakan prinsip juga karakter Rima dan secara tidak sengaja menggoreskan luka di dalam hati.
"Jadi kamu meragukan karakterku, begitu?" tekan Rima.
"Bukan begitu, seharusnya kamu tidak dekat dengan pria itu. Aku tahu kalau wajahnya mirip dengan suami gaibmu itu, tapi setidaknya mereka sangatlah berbeda."
"Apa yang kamu tahu dan hubungannya?"
"Umi mengharap banyak mengenai hubungan kita, hargai perasaan aku sebagai calon suamimu."
__ADS_1
"Biar ku perjelas padamu agar tidak ada kesalahpahaman lagi." Rima sontak menarik lengan Irfan dan berhadapan langsung dengan Fahri, memang takdir sudah membawanya sejauh ini dan tidak bisa merubahnya. "Perkenalkan, dia Irfan, suamiku."
Deg
Bagai tersambar petir, Farhi sangat terkejut mendengar hal yang sangat tidak terduga hingga mulutnya menganga beberapa detik. Masih tidak mempercayai apa yang baru saja di dengar oleh telinganya dan berharap itu suatu mimpi buruk belaka.
"Itu tidak mungkin, seminggu yang lalu kedua orang tuaku datang untuk melamarmu. Apa ini jawabannya?" terlihat guratan kesedihan di wajah Fahri, nasi yang sudah menjadi bubur begitupun dengan rasa sakit di hati karena wanita yang di cintainya sudah menikah dengan pria lain.
"Maafkan aku, ini sangatlah mendadak. Aku meminta maaf juga kepada umi, abi, dan juga Aisyah yang tanpa sengaja melukai perasaan mereka." Rima menunduk sedih, dia tidak ingin menceritakan bagaimana kronologis pernikahan mendadaknya itu.
Fahri mengerti dan mengangguk, mengulurkan tangan seraya tersenyum dalam duka, rasa sakit saat melihat wanita yang akan menjadi calon istri di rebut oleh pria lain. "Aku Fahri, maaf sudah membuat suasana menjadi tidak nyaman."
"Irfan. Aku bisa memakluminya."
Keduanya melihat kepergian Fahri yang masuk ke dalam mobil dalam raut wajah yang sedih, Rima juga sedih mengingat sang pelaku yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Itu semua karena ulahmu, bermainlah secara sportif bukannya licik."
"Aku merasa tidak enak dengan keluarganya, mereka menampungku."
"Aku mengerti, maaf karena kelicikanku. Aku akan memperbaiki segalanya." Irfan tersenyum lembut, Rima tersenyum.
"Tapi bagaimana caramu untuk memperbaiki keadaannya?"
"Dengan cara bersilaturahmi dan menjelaskan kesalahpahaman ini, aku harap mereka mengerti."
*
*
Satu bulan kemudian, Rima sudah bisa menerima kenyataan jika Irfan adalah suaminya sekaligus cinta monyet di kala itu namun lebih memilih memendamnya juga karena harus menyelesaikan ujian akhir sekolah dengan nilai yang memuaskan.
__ADS_1
Pertemuan di hari itu dengan keluarga Fahri sesuai dengan perkataan Irfan yang menepati janji. Ya, suaminya itu datang dan menjelaskan kesalahpahaman terjadi, awalnya mereka tidak terima terutama umi dari Fahri yang tidak bisa merelakan jika calon menantunya telah bersama dengan pria lain.
Namun jalan yang di tempuh oleh Rima juga tidaklah mudah, dia pasrah akan mendapatkan kebencian dari keluarga itu, tapi sang suami berada di pihaknya dengan membantunya.
Perlahan Fahri sudah ikhlas dengan pernikahan Rima dan juga Irfan, begitupun Aisyah.
Irfan memulai kehidupan baru bersama dengan istrinya dan membawanya ke tempat yang lebih layak, dimana wanita itu di perlakukan bak seorang ratu. Rima sangat bahagia mendapatkan cinta kasih dari seorang suami yang begitu dia dambakan, sangat berbeda di saat dia menikah dengan Arman yang mati sangat mengenaskan oleh suami gaibnya yang bernama Darma.
Ada satu hal yang Rima ketahui dan mengambil hikmah dari apa yang dia jalani hingga saat ini, cinta pertama yang secara tidak sengaja terekam di hati kecil yang dalam perlahan keluar dan membayangkan orang itu. Seperti dirinya yang bertemu dengan sosok Darma, atas kekhilafan diri yang mendatangi seorang dukun. Dirinya hanya mengingat satu wajah yang saat itu culun dan cupu, hal itulah mengapa ilusi muncul di luar kepala.
Rima tersenyum saat menatap keluar jendela, begitu banyak ujian di dalam kehidupannya yang sekarang merasakan hasil dari semuanya. Dia sangat bahagia dan melupakan pengkhianatan Arman dan Sulastri, pertemuan dengan Darma yang pernah singgah di hatinya menjadi salah satu bentuk penataan hati dan sekarang dirinya memiliki seorang suami satu tahun lebih muda darinya, namun perjalanan cinta di masa lalu kian melebar seiring waktu.
"Sayang, sudah aku bilang untuk tidak melamun." Tegas Irfan yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Aku tidak melamun, hanya memikirkan masa lalu." Jawab Rima yang tersenyum menyambut kedatangan suaminya.
Irfan tahu semua mengenai jalan hidup Rima dan bahkan istrinya itu juga menceritakan mengenai Darma yang sangat mirip dengannya. "Jadi selama ini kamu diam-diam merekam wajahku, sampai-sampai wajah makhluk bunian itu sama persis denganku." Ucapnya tersenyum bahagia sekaligus miris jika istrinya malah menyamakan wajahnya dengan makhluk gaib.
"Aku juga tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi."
"Lupakan itu, yang terpenting adalah kita hanya berdua." Bisik Irfan seraya mencium ceruk leher sang istri.
"Hey, ini masih siang." Rima merasakan sesuatu yang mengancam, seperti dirinya harus melayani sang suami di atas ranjang.
"Memangnya kenapa? Kehadiran buah cinta akan melengkapi hari-hari kita." Bisik Irfan yang menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke atas ranjang berukuran jumbo, menaungi kenikmatan dunia dalam hubungan suami istri yang sah. "Aku selalu kecanduan, apa kamu memeletku dengan nasi kangkang?"
Rima terkekeh. "Itu hanya cara kuno, aku menggunakan dengan cara baru."
"Apa itu?"
"Rahasia." Keduanya tersenyum dan kembali melanjutkan pergerumulan panas mereka.
__ADS_1
...Tamat...