Nerd boy

Nerd boy
episode 6


__ADS_3

Dira membuka matanya perlahan mengedarkan pandangannya keseluruh jangkauan matanya, ruangan itu tampak asing baginya ruangan putih dengan bau obat obatan yang menyengat apa lagi kalau bukan rumah sakit, dira mencoba bergerak dari posisi semulanya


"awww"dira perlahan bangkit dari tidurnya, mencabut beberapa selang yang terpasang di tubuhnya, kini gilirannya keluar dira mengambil jaket yang tergantung di kamar rumah sakit itu dan pergi meninggalkan ruangan itu


Langkah dira begitu lambat karena masih merasakan sakit di tubuhnya, mencoba rilex karena banyak orang yang melihatnya


"ayoo dira lo pasti bisa"ucap dira dalam hati menyemangati dirinya agar bisa keluar dari rumah sakit itu, karena pintu keluar sudah di depan matanya


Dira mengedarkan pandangannya mencari cara agar ia bisa pulang, namun ada satpam rumah sakit yang mencurigainya


"permisi neng"ucap satpam itu mencoba menghampiri dira, dira yang kaget sontak berlari kesembarang arah tanpa menggunakan alas kaki, satpam itu juga sontak berlari mengejar dira


Brakkk, dira tak sengaja menabrak seseorang yang melintas di depannya karena tak kuat menahan keseimbangan dira pun tumbang, pria itu mencoba membantu


"minggir minggir gw mau pulang"ucap dira dan tiba tiba masuk kedalam mobil ervan, ervan sontak terkejut dengan tatapan aneh


"cepetan masuk" teriak dira


"ngapain disini,lu terluka?"tanya ervan


"kaga,diem aja lu cepat antar gw pulang"ucap dira datar


"ntar dulu lu udah bayar belum biaya rumah sakit"ucap ervan


"sssst gw lupa"ucap dira kemudian


"tap.."belum sempat ervan meneruskan kata katanya dira sudah melotot tajam kearah matanya membuat ervan meneguk ludahnya, dan mengangguk


sesampai dirumah


keheningan bermuncul ervan yang tak sanggup menoleh kesebelahnya hanya menatap kosong pandangan didepannya dan memberhentikan mobilnya, karena tak ada tanda tanda dira mau keluar, ervan mencoba membuka suara


"dir"ervan menoleh kesampingnya mendapati dira yang sudah pingsan dengan darah mengalir di hidungnya


ervan sontak panik, lalu membawa dira kerumah sakit tadi


"dok tolong dok sepertinya ia terluka" ucap ervan cemas


Para perawat membawa dira menuju tempat inapnya


"dir lo kenapa sii astaga" ucap ervan cemas karena emang dira sudah lama tanpa ada kabar sekalipun


Dokter keluar dari tempat penanganan dira.


"gimana dok?" tanya ervan


"kondisi ia belum cukup pulih sejak kemarin dirinya juga belum sadar, namun syukur tadi ia bisa sadarkan diri, cukup perlu istirahat jangan banyak gerak" ucap dokter itu

__ADS_1


Ervan sontak kaget, dira sudah lama tak sadarkan diri lalu ada apa dengan dia" tanya ervan dalam hatinya kini pikirannya menyerbak dimana mana


"hei nak, sekitar sehari yang lalu ada seorang bapak bapak yang membawanya kesini, mungkin kamu bisa tau penyebabnya dengan menghubungi bapak itu"lanjut dokter itu lalu pergi


"dev, dira ada di rumah sakit gw shareloc sekarang" ucap ervan dalam telpon


Ervan masuk kedalan ruang inap dira, wanita yang gagah itu kini terbaring lemah tak berdaya dengan selang yang banyak terpasang di tubuhnya


"maafin gw dir, maaf karena gagal menjagamu" ucap ervan memegang tangan dira yang lembut itu


Tak lama berselang, devian dan riyan datang ervan pergi menjauh dari tempat dira


"diraaa" teriak riyan memekakkan telinga


"goblok kaga usah keras keras bego" pukul devian melihat tingkah laku riyan yang lebay


"dirr bangun dirr"ucap riyan


"dia hanya perlu istirahat" ucap ervan menepuk pundak devian lalu pergi meninggalkan kamar dira


"lo harus kuat dir, yok bisa yok katanya lu mau balas gue ayolah sini gw dah sini kok"ucap riyan pada dira


"impas dah gw rekam "ucap devian


"heh bego napa lu rekam sii"ucap riyan


"dalah berisik lu"ucap riyan lalu kembali menunggu dira bangun


tak berselang lama dari itu devian keluar kamar inap dira dan menepuk pundak ervan


"lu tau penyebab dira gini?"ucap devian dengan tatapan sorot yang tajam, ervan hanya memberikan secarik kertas bertuliskan nama dan alamat orang yang membawa dira kerumah sakit, tanpa pikir panjang devian langsung pergi meninggalkan ervan sendiri disusul ervan di belakangnya


sesampai di alamat


"permisi"ucap devian mengetuk rumah


ceklek, bunyi pintu terbuka


"ada apa ya?"ucap seorang wanita yang membuka pintu itu, bapak wahyu ada?"tanya devian kemudian sedangkan ervan hanya diam


"ada perlu apa ya?"tanya wanita itu yang diketahui itu istrinya


"ada apa bu"ucap pak wahyu keluar dari kamar, dan sempat bingung melihat devian dan ervan yang berdiri diluar


"masuk"ucap bapak itu menyuruh devian dan ervan masuk


"maksud kedatangan kami kesini, mau tanya perihal teman kami yang bapak temukan terluka"ucap devian

__ADS_1


"itu temen kalian toh, kemarin itu bapak dah cari kemana mana keluarganya entah itu teman temannya tapi belum ada hasil, tapi bapak nemu tas dan handphonenya tapi pakek kode jadi bapak susah menghubungi" ucap bapak itu


"oalah gitu pak, makasih ya udah bantu teman kami"ucap devian


"kemarin itu, saya hendak pergi memancing di belakang bangunan tua itu, tak sengaja melintas ketemu neng tadi dengan luka di pelipisnya yang banyak mengeluarkan darah, saya cepat cepat antar kerumah sakit"ucap bapak itu


"apakah saat bapak nemuin teman kami bapak melihat orang lagi?"tanya devian memastikan


"kayanya nggak dehh,saya lihat dia hanya sendiri" ucap bapak itu


"yaudah kalau begitu terima kasih pak, berkat bapak teman kami selamat" ucap devian lalu memberi bungkusan makanan yang sudah ia beli sebelumnya sebelum kesini


"ehh ga usah repot repot saya ikhlas kok"ucap bapak itu


"ga papa pak,makasii banyak ya, kalau begitu kami pamit"ucap devian


devian dan ervan pergi pulang dan menuju rumah sakit kembali


drrrt, ponsel devian berbunyi


"lu duluan aja, jaga dira gw masih ada urusan "ucap devian lalu pergi meninggalkan ervan, ervan belum sempat menjawab


dirumah sakit


dira masih terbaring lemas di atas kasur putih, dengan nuansa putih


"jaga dira gw ada urusan"ucap riyan lalu pergi


ervan duduk di kursi dan memegang tangan lembut dira


"kenapa tiap gw ketemu lu, hati gw berdetak kencang" ucap ervan


"kenapa hati gw merasa sakit lihat lu begini dir, entah kapan rasa ini datang"ucap ervan sambil memandang wajah dira yang terbalut plester


"apa gw terlalu lengah menjaga lu sampai lu begini"ucap ervan yang masih menggerutu menyalahkan dirinya


disisi lain devian dan riyan sudah tiba dimana lisa dan teman temannya berada


"heh ada devian, ada apa dev"tanya lisa


"ga usah, sok akrab"ucap devian


"lu kalau main jangan keroyokan dong mental lu lemah, asli pasti lu udah ketebak pasti kalah kalau sendiri yekan"ucap riyan spontan


"pengecut lu"ucap riyan kemudian


"begini ya lis, bila kedapatan lagi lu nyakitin dira kelar hidup lo"ucap devian lalu pergi meninggalkan lisa dan kedua temannya itu

__ADS_1


__ADS_2