Oh My Pegasus

Oh My Pegasus
Sembilan


__ADS_3

Selamat membaca dan semoga suka🤗🤗


•


•


Kath terbangun dengan nafas tersenggal. Ia bermimpi aneh, lagi.


Mimpi yang benar benar terasa nyata terus mengusiknya. Siapa anak kecil itu?


Kenapa dia sering hadir di mimpinya?


Jutaan pertanyaan hinggap di pikirannya, dan dia tak tahu harus bertanya dengan siapa.


"Kakak!!! " teriak seorang gadis kecil yang tengah berlari menghampirinya di sisi ranjang.


"Sendirian? " tanya Kath sambil mengusap kepala gadis kecil itu.


Gadis kecil itu menggeleng pelan.


"Aku bersama Mama kesini" kata gadis kecil itu apa adanya. Ah, imut sekali dia.


Kath tersenyum menanggapinya.


"Di mana mamamu? " tanya Kath sambil menurunkan kakinya.


"Ayo ikut ke bawah" kata gadis kecil itu seraya menarik tangan Kath.


Kath merapikan rambutnya dan ikut turun ke lantai bawah.


"Hay adik sepupu" kata Mama gadis itu sambil memeluk Kath. Ia membalas pelukannya.


"Kak Licia, mana suamimu? " tanya Kath.


"Aih, kau tahu sendiri dia sangat sibuk. Aku sampai sulit mengajaknya" kata Licia berdecak kesal.


"Anakmu tinggal saja" kata Kath sambil menunjukkan cengiran lebarnya.


Licia menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya.


"Hm? Kau selalu ingin membawa anakku. Buat saja sendiri " katanya mencibir. Kath menekuk wajahnya dan Licia malah tertawa keras.


"Eh, kapan kau menikah? " tanya Licia sambil menyeka ujung matanya yang sempat berair.


"Aku? Tidak tahu" kata Kath sambil mengendikkan bahunya.

__ADS_1


"Jangan lama lama" kata Licia kembali menggoda Kath.


"Ya! Kenapa bilang begitu terus? " kata Kath mendelik kesal.


Licia tiba tiba merubah raut wajahnya menjadi sendu. Ia menghela nafas pelan.


"Aku serius. Aku hanya ingin kau di jaga" kata Licia pelan.


"Hey!! Kau pikir aku tidak bisa menjaga diri? " kata Kath merasa tersinggung.


"Bukan begitu sayangku. Kau tahu akhir akhir ini banyak kasus penculikan. Dan rata rata korbannya adalah remaja perempuan. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu" kata Licia dengan tatapan teduhnya.


Kath sempat terdiam sebentar.


"Entahlah" jawabnya bingung.


•••••••••••


"Hay sayang. Aku kira kau tidak akan kemari" ucap Siver saat gadis bertiara di kepalanya itu datang.


"Aku hanya mampir untuk keperluan sebentar" kata gadis itu.


"Aku tahu ini pasti sangat rahasia" kata Siver serius.


Gadis itu tersenyum.


Siver tersenyum tipis sambil membenarkan letak mahkota bertanduk kerbau di kepalanya.


"Nah, aku bilang juga apa, kan" katanya merasa benar.


"Kau masih ingin menjelajahi dunia?" tanya Siver.


"Tentu" jawab gadis itu. Siver mengangguk pelan.


"Kau mau pergi ke mana?" tanya Siver. Ia mengambil salah satu emas koleksinya dan mengusapnya dengan kain.


"Ke bumi saja. Mungkin itu seru" kata Gadis itu ringan.


Siver sempat tertegun. Ia meletakkan kembali potongan emasnya.


"Kau yakin?" tanya Siver tak percaya.


"Ya, kenapa memang? Apa para manusia itu masih sibuk berperang?" tanya gadis itu sambil mengerutkan kening.


Siver mengibaskan tangannya sejenak.

__ADS_1


"Ah, tidak. Setahuku mereka sudah berdamai sejak 75 tahun lalu. Mungkin, sih. Tapi bisa saja pendapatku salah. Bisa saja beberapa negara besar di bumi merencanakan perang antar negara yang di sebut 'perang dunia ke-3'. Aku juga heran dengan mereka. Apa untungnya, sih berperang seperti itu. Sangat tidak bermanfaat" kata Siver mencibir.


"Kau kenapa, sih? . Selalu saja tidak senang dengan para manusia itu" tanya gadis itu sambil melipat tangan di depan.


Siver mendelik seketika.


"Ah, bukan begitu. Hanya saja aku tidak suka jika mereka menceritakan kisah para klan viking. Coba bayangkan, mereka melebih lebihkan tentang kami. Kata siapa kami ini kejam, sadis, itu keterlaluan bukan? Mereka pikir kami saja dengan klan phinirium?" kata Siver sambil memasang wajah ketusnya.


"Bisa kita pergi sekarang? Kenapa jadi membahas manusia? " kata gadis utu menyidahi gosip merek.


"Ah ya, jangan membahas mereka. Tidak akan ada habisnya" kata Siversedikit tenang.


Ia lalu berjalan menuju pintu belakang rumahnya. Gadis itu mengekorinya.


Tepat tiga puluh meter dari jarak pintu kediaman Siver, sebuah pohon besar dengan cabangnya yang kokoh dan daunnya yang rimbun nan lebat.


Di salah satu cabangnya bertengger seekor burung rajawali yang gagah.


Di salah satu akarnya terdapat seekor ular besar yang siap memangsa siapa saja yang berani mengusik Yggdrasil.


Di sayap kiri pohon itu terdapat jembatan pelangi yang tertuju langsung ke pemukiman para penjaga pohon.



Mereka berdua segera menaiki jembatan pelangi dan dengan cepat mereka segera meluncur menuju batang Yggdrasil.


"Sebutkan permintaanmu" kata Siver setelah mengusap batang pohon itu.


Gadis itu mengangguk singkat dan segera menyebutkan keinginannya di dalam hati.


Whusss!!!!!


Binar cahaya berwarna kehijauannya muncul setinggi orang dewasa. Gadis itu duduk bersimpuh seketika. Aura di sekita pohon itu segera berubah seketika. Waktu seolah berhenti sejenak.


Dengan cepat pohon itu membawanya ketempat yang ia inginkan.


"Semoga kau tidak menyesal dengan pilihanmu" kata Siver sambil berjalan meninggalkan pohon itu.


••••••••••••


****Guys, jadi gini. Umm, aku nggak yakin sih sama pemilihan bahasanya. Mau ku bikin baku takut WAGU, mau di bikin kekinian takut alay. Dilema lah pokoknya. Soalnya kalo waktu kejadian yang di luar nalar tuh, susahnya kalo nggak dibikin baku bahasanya takut aneh. Iya nggak sih?


Jadi untuk Attantion-nya, kapan kapan novel ini bakal aku revisi ulang. Jadi sebelum itu, aku mau minta pendapatnya dong. Enaknya gaya bahasanya di bikin gimana? Terus terang aku agak nggak terlalu pro gitu kalo bikin percakapan pake bahasa indo, la wong biasane nak ngomong neng wong yo nganggone basa jowo kok, hehe. Yah, kalian tau sendirikan dialek setiap bahasa itu beda beda.


Segitu dulu lah.

__ADS_1


See you readersku


Tbc**


__ADS_2