
...123...
...Ehem, tes tes tes, 123...
...Masih ada yang stay tune kah?...
...Alhamdulillah author masih hidup...
...Ehh, canda wkwk🤣🤣🤣...
...Im so sorry guys, baru bisa update sekarang😔😔😔...
...Maapin yah🥺🥺🥺🙏🙏...
...Lapak eyke nggak ini doang soalnya🥺🥺🥺🙏🙏🙏...
...Langsung aja nyok kito maos sareng sareng 😁🤙🤙🤙...
......Happy reading guys ......
Di tengah belantara rimba. Sebuah pohon besar tumbuh. Dengan batangnya yang kokoh dan daunnya yang lebat, siapapun betah berteduh di bawahnya.
Namun, di salah satu dahannya yang melambai, terlihat sebuah keanehan. Sulur sulur pohon itu terbelit hingga membentuk sebuah keranjang. Seorang bayi mungil tidur di dalamnya dengan tenang.
Tidak ada binatang yang berani mengganggunya. Bahkan hewan hewan di sana seolah menjaganya agar tidak ada yang menganggu.
Seorang wanita muda berdiri di dekat pohon itu. Dengan wajah bersahaja, dia memperhatikan keranjang sulur itu tanpa bosan.
"Sudah sampai?" Wanita muda itu menoleh dan menemukan suaminya datang menghampirinya.
"Dua jam yang lalu" kata wanita muda itu tenang.
Suaminya mengangguk pasti. Dia adalah seorang yang berbadan tegap dan memakai manset panjang yang tertutup coat dengan celana kain dan flat shoes.
"Mari kita pulang" kata Pria itu mendekat ke arah bayi perempuan yang tertidur itu.
__ADS_1
Tanpa di perintah, Pohon itu seolah mengerti dan memendekkan dahannya agar mudah di gapai. Pria itu meraihnya dan menutupi tubuh polos bayi itu dengan coat yang ia bawa.
"Semua akan segera di mulai" kata pria itu kepada istrinya.
Wanita itu mengangguk singkat.
"Semua berawal darimu dan akan berakhir darimu juga" kata wanita muda itu.
Wanita muda itu menatap bayi perempuan itu dengan teduh.
"Anakku Kath" katanya sebelum beranjak pergi bersama suaminya dari hutan itu.
...•••••••••••••••••••••••••...
"Kita harus segera mencegahnya atau mereka akan melakukan kudeta terhadap kerajaan kita" kata Fredrick kepada para tentaranya.
"Tapi bagaimana? Tentara kita jelas kalah banyak dengan mereka?" kata sang penasehat kebingungan.
Fredrick juga tampak kebingungan. Ia memijat pelipisnya jenuh.
Ini sudah kesekian kalinya kerajaannya di serang kerajaan Tufory.
"Katakan Balfomart" kata Fredrick antusias. Ia tidak tahu harus meminta solusi kepada siapa lagi.
"Kita harus menyembunyikan kerajaan kita" kata Balfomart tegas namun tetap menjaga kesopanannya.
"Seperti kerajaan Dorce begitu?" Fredrick membernyit heran.
"Benar My Lord" kata Balfomart tegas.
"Itu akan sangat sulit" kata Edhena menyela.
"Lord, kita tidak punya pilihan lain" Balfomart kembali meyakinkan Fredrick.
Fredrick kembali menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Segera kumpulkan ahli kimia untuk tugas ini" kata Fredrick memerintahkan salah satu menterinya.
"Segera laksanakan Lord" kata Nanifi. Ia memberi hormat dan segera beranjak pergi.
"Xavier, tunggu pembalasanku" kata Fredrik berapi api. Ia mencekal kursi singgasanannya dengan geram.
...•••••••••••...
"Bawakan gadis lain kemari" Xavier mengacungkan jarinya. Ia kembali menenggak minuman beraroma menyengat dari gelas porselennya yang tinggi.
"Tuan, bukankah tadi pagi kami membawakan gadis untuk anda?" kata Cecilia dengan ketakutan.
"Akh, dia hanya melayaniku sebentar. Aku belum puas dengannya. Baru sebentar saja dia sudah mati kelelahan" kata Xavier mengeluh.
"Bawakan yang lain untukku segera!!!" kata Xavier tegas dengan pandangan mata nyalang.
"Atau ku penggal kepala kalian?!!!" kata Xavier keras. Ia berteriak sampai menggemparkan seisi istana.
"Segera laksanakan" kata Cecila ketakutan.
"Tuanku Xavier" seorang wanita berjalan ke arah altar singgasana dengan anggun dengan memakai gaun berwarna hijau zambrut. Dia adalah wanita yang sangat cantik. Dia memiliki sayap kelelawar, tanduk naga dan ekor yang sangat panjang. Ekor itu meliuk liuk dengan pelan mengikuti gerakan wanita itu.
"Zeravart my dear. Kenapa kau mencariku?" kata Xavier yang tampak senang.
"Bukankah kau harus mengerjakan urusan penting?" Zeravart mendekati Xavier dengan mengaduh manja.
"Kenapa kau malah bermain dengan gadis gadis rendahan itu?" Ia menunjukkan matanya yang berkilat menggoda.
Zerafart mengusap lengan kekar Xavier dengan gerakan pelan.
"Oh Zeravart sayang. Kau selalu mengingatkanku" kata Xavier sambil mengusap dagu Zeravart pelan.
"Sebagai imbalannya, datanglah ke kamarku malam ini dan bersenang senanglah denganku" kata Xavier sambil tersenyum miring.
"Terima kasih atas kemurahan hati tuanku" kata Zerafart sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
...•••••••••••••...
...Mon maaf, part kali ini banyak teka tekinya. Tapi author jamin bakalan nyambung kok. Yahh, sebelas dua belas sih alurnya kek The Book With No Name karya Anonymous....