Once We Get Divorce

Once We Get Divorce
Chapter 36


__ADS_3

Setelah konsultasi panjang, Caca dan Kiano pun memutuskan untuk pulang. Keduanya berjalan keluar secara beriringan. Sesekali Kiano melirik Caca yang masih diam, kemudian tangannya mulai bergerak untuk meraih tangan Caca dan langsung menggenggamnya erat. Refleks Caca menoleh karena kaget. Namun pemuda itu seolah tak melihatnya padahal tangannya sudah menggenggam tangan Caca.


Spontan Caca berusaha melepaskan genggaman tangan Kiano, sayang pemuda itu malah mengeratkan genggamannya.


"No, lepasin tangan gue." Geram Caca tertahan sambil melihat kesekitar yang lumayan ramai.


"Diem, Ca. Kita harus kelihatan kayak suami istri yang mesra di depan semua orang." Sahut Kiano dengan santai.


Sontak Caca melayangkan tatapan membunuh padanya. "Kita bukan pasutri lagi, Kiano. Lagian buat apa kita pura-pura? Lo mau nunjukin sama siapa?" Geramnya masih berusaha menarik tangannya dari genggaman lelaki itu.


Kiano menoleh sekilas tanpa berniat melepaskan genggamannya. "Tapi bakal lagi kan?"


Caca membulatkan matanya. "Gak akan, gue udah bilang kita gak bakal balikan."


Kiano tersenyum tipis. "Kita lihat aja kedepannya, Ca. Aku bakal yakinin hati kamu buat bilang iya."


Caca menggeram kesal, alhasil ia pun tak memberontak lagi karena percuma saja. Kiano tak akan melepaskannya. Caca juga tidak ingin menjadi pusat perhatian karena membuat keributan dengan pemuda itu.


"Temenin aku makan dulu ya? Aku belum makan dari pagi." Ajak Kiano.


"Terserah lo aja."


Kiano tersenyum mendengarnya.


Kini keduanya sudah berada di sebuah restoran tempat langganan Kiano. Sejak tadi Caca terus memperhatikan lelaki di depannya yang tengah serius makan.


"Kenapa liatin aku terus hem? Kamu mau ngomong apa, Ca?" Tanya Kiano yang berhasil membuat Caca kaget. Pasalnya Kiano bertanya tanpa melihatnya.


Caca menarik napas lalu membuangnya perlahan. "Kerjaan lo gimana?" Tanyanya kemudian.


Alhasil Kiano pun mengangkat pandangannya. "Kenapa nanyain kerjaan hem? Takut pas kita udah nikah nanti aku gak bisa nafkahin kamu?"


Caca bedecak sebal mendengarnya. "Bukan itu, Kiano. Maksud gue, lo masih kerja di restonya Randy kan? Gue cuma pengen tahu kabar dia aja, soalnya dia gak pernah ngasih kabar lagi."


Kiano tersenyum kecut. "Enggak."


Caca mengerutkan kening. "Lo udah berhenti kerja juga?"


"Aku udah kerja di perusahaan Daddy sekarang." Sahut Kiano melirik Caca sekilas.


Caca kaget mendengarnya. "Serius?" Kiano mengangguk yakin lalu ditatapnya Caca serius.


"Aku mau nikahin kamu, jadi harus dapat kerjaan yang tetap. Supaya kamu sama baby bahagia terus."


Seketika pipi Caca terasa panas mendengar itu. Namun ia masih bersikap acuh tak acuh dan lanjut makan es krimnya. Meskipun hatinya berdesir hangat karena ucapan Kiano barusan.

__ADS_1


"Jadi nanti kamu gak perlu kerja, fokus kuliah dan besarin anak-anak kita aja. Aku yang cari nafkah buat kalian." Imbuh Kiano dengan rasa percaya dirinya.


Caca tertawa hambar. "Percaya diri banget lo, kayak mau gue terima aja. Lagian gue udah nyaman sendiri. Gue yakin bisa besarin baby sendirian."


Kiano menatap Caca begitu dalam. "Ca...."


"Gak usah banyak menghayal, No. Mending lo cepet abisin tu makanan. Gue pengen cepet rebahan, pinggang gue sakit kelamaan duduk." Sela Caca mulai kesal. "Lo banyak bacot sekarang, No."


Kiano menghela napas pendek. "Jadi kamu lebih suka aku diem?"


"Iya." Ketus Caca. "Lo keliatan cool pas diem dari pada ngoceh terus."


Kiano tersenyum geli. "Oke kalau itu mau kamu, aku bakal bersikap cool."


Caca mendengus sebal lalu kembali melahap sisa es krimnya.


Saat keduanya tengah asik makan, tiba-tiba Anya datang dan mencuri antensi keduanya.


Refleks Caca manatap Kiano. "Lo undang dia ke sini?"


"Gue datang sendiri." Anya menyambar jawaban Kiano. Spontan Caca melihatnya lalu mendengus sebal.


"Ya kali ujuk-ujuk lo tahu kita ada di sini." Sinis Caca hendak bangun dari duduknya. Namun dengan cepat Anya menahannya sampai Caca terduduk lagi.


"Apaan sih lo? Gak usah nyari ribut sama gue di sini, ini tempat umum. Lo perlu sama cowok lo kan? Noh ambil." Kesal Caca melirik Kiano tajam sebelum kembali bangun dari duduknya.


"Lo urus pacar lo. Ah lupa, mantan pacar lo." Baru saja Caca hendak pergi, perkataan Anya berhasil menahan langkahnya.


"Gue mau bahas kejadian beberapa bulan lalu, soal lo sama Kiano. Dan penyebab kenapa lo bisa bunting."


Refleks Caca berbalik, ditatapnya Anya penuh selidik. Sedangkan yang ditatap justru tersenyum sinis.


"Anya." Kiano bangkit dari duduknya. "Kita gak punya urusan apa pun lagi. Sebaiknya jangan ganggu Caca atau pun aku."


Anya mengeluarkan ponselnya dari dalam tas lalu terlihat mencari sesuatu. Setelah didapat ia pun langsung memberikan ponselnya pada Kiano.


Kiano menatap mantannya itu ragu.


"Lo harus lihat, ini hasil rekaman cctv malam itu." Katanya seraya menoleh ke arah Caca. Tentu saja Caca terlihat kaget dengan wajah yang mulai pias.


Gimana bisa dia dapat rekaman itu? Gue udah minta Leo hapus rekamannya. Pikir Caca mulai cemas sendiri.


Jangan harap lo bisa dapatin Kiano, Caca. Gue gak bisa maka elo juga gak akan bisa dapatin dia. Lihat aja, Kiano pasti marah besar setelah lihat rekaman itu. Untung gue punya orang pinter yang bisa pulihin video yang pernah dihapus. Kali ini lo bakal mampu, Ca. Kiano pasti benci lo seumur hidup. Lagi pula, Kiano juga gak tahu kalau gue yang sebenarnya mau jebak dia. Rekaman itu keberuntungan buat gue. Anya tertawa puas dalam hati.


Caca menatap Kiano yang tengah menonton hasil rekaman cctv itu. Kedua tangannya mengepal erat. Keringat biji jagung pun mulai keluar di dahinya.

__ADS_1


Kiano melihat video itu dengan seksama, di sana terlihat Caca memapahnya ke sebuah kamar, dan Caca punya kuncinya. Kiano tahu betul itu kamar tempat mereka melakukannya malam itu.


"Lo lihat sendiri kan? Mantan istri lo itu licik. Dia rela lakuin segala cara buat dapatin elo, No. Bahkan rela nyerahin harga diri." CecaR Anya memprovokasi Kiano. Lalu tersenyum penuh kemenangan ke arah Caca.


Kiano memgembalikan ponsel Anya, lalu menatap Caca penuh arti.


Caca mengeratkan kepalan tangannya lalu mengeluarkan pembelaan. "Gue lakuin itu karena mau nyelamatin elo, No. Malam itu Anya mau jebak lo, gue yang denger sendiri dia bicara sama orang buat masukin obat perangsang di minuman elo."


Anya mendengus sebal. "Gue gak mungkin lakuin itu, Ca. Buat apa gue lakuin itu sedangkan Kiano itu pacar gue? Lo jangan lempar kesalahan sama orang lain dong. Bisa aja lo frustrasi karena Kiano malah milih gue kan? Jadi lo lakuin cara licik itu buat dapatin dia. Buktinya lo hamil sekarang. Ini kan yang lo mau?"


"Gue gak gitu. Lo yang mau jebak Kiano malam itu, Anya." Kesal Caca mulai tersulut emosi. Kehamilan membuatnya mudah meledak. "Lo yang licik, karena takut Kiano berpaling hati. Lo mau jebak dia. Sekarang lo balikin keadaan? Licik lo!"


Karena emosi perutnya mendadak kram. Caca mendesisi kecil seraya memegangi perut bawahnya.


"Ahhhh." Lenguhnya dan hampir limbung, beruntung dengan sigap Kiano menangkap tubuhnya.


"Kamu gak papa, Ca?" Panik Kiano.


Anya yang melihat itu mendengus sebal. "Alah, paling cuma akting doang. Cewek kayak lo mah mudah ketebak. Murah lo."


"Cukup Anya!" Bentak Kiano. Sontak semua pengunjung yang ada di sana pun melihat ke arah mereka. "Jangan pernah temui gue atau pun Caca lagi. Sekali lagi lo muncul, gue gak akan segan bongkar kebusukan lo di depan umum." Kecamnya.


Tentu saja Anya kaget. Ia pikir Kiano akan marah pada Caca, kenapa sekarang ia yang dimarahi?


"No...."


"Gue gak mau denger apa pun dari mulut busuk lo." Kiano langsung menggendong Caca dan membawanya pergi dari sana.


Anya menggeram kesal seraya menghentakkan kedua kakinya. "Sialan lo, Kiano."


Di waktu bersamaan seorang waiter pun datang. "Maaf, Mbak. Temen Mbak yang tadi itu belum bayar makanannya. Jadi tolong dibayar ya, Mbak. Dua ratus tiga puluh ribu."


Anya terkejut mendengarnya. "Eh, gue bukan temennya."


"Maaf, Mbak. Tapi kami melihat Mbak yang datang dan mengganggu mereka makan di sini. Tolong segera di bayar atau kami akan melaporkan Mbak ke polisi." Ancam sang waiter.


"Lho, kenapa saya yang kalian laporin sih? Kan mereka yang makan. Kejar aja mereka." Sinis Anya yang langsung pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah saja ia langsung dihadang oleh dua satpam.


Anya menggeram kesal. "Oke, gue bayar." Kesalnya yang pada akhirnya mengalah karena tak ingin dipermalukan di sana.


Sialan! Umpatnya dalam hati lalu dikeluarkannya tiga lembar uang seratus ribu dan melemparnya ke arah si waiter.


"Kampungan." Sinis Anya yang hendak pergi dari sana. Namun lagi-lagi ia pun dihadang oleh seorang laki-laki bertubuh tinggi dan tegap. Anya mendongak, seketika matanya membulat lalu mundur selangkah.


"Pungut, kasih pake cara sopan." Perintah orang itu yang tak lain adalah Agra.

__ADS_1


"Gue gak mau." Tolak Anya masih menyombongkan dirinya.


Agra tersenyum devil, lalu membisikkan sesuatu di telinga Anya sampai wajah wanita itu pias seketika. Buru-buru Anya memungut uang itu dan memberikannya pada sang waiter, setelah itu bergegas pergi dari sana. Melihat itu Agra pun tersenyum puas.


__ADS_2