
Caca terlihat mencari keberadaan Inne di taman dalam kampus. Karena tadi gadis itu sudah menghubunginya untuk datang ke sana. Dan tidak lama ia bisa melihat Inne yang tampak duduk termenung di salah satu kursi taman. Caca bergegas mendatanginya lalu menepuk pundak gadis itu. "Oi, kenapa lo?"
Spontan Inne kaget dan langsung menoleh. Sedetik kemudian wajahnya pun langsung merengut. "Gue dipaksa nikah, Ca."
"Hah?" Kaget Caca seraya duduk di sebelah Inne, menatap gadis itu serius.
Inne mengangguk. "Konyol banget gak sih? Masak gue udah dijodohin dari lahir, cuma karena dari orok gue udah diramal bakal susah jodoh. Karena Emak gue takut anaknya jadi perawan tua, dia jodohin gue sama anak sahabatnya yang kebetulan seumuran sama gue."
Caca benar-benar bingung dan tak bisa mencerna penjelasan Inne dengan baik.
Perjodohan? Kenapa lagi-lagi harus soal perjodohan?
Inne mendesah kecil. "Gue gak suka sama tu cowok, Ca. Dia ngeselin pake banget. Lagian gue masih mau kuliah dan ngejar cita-cita. Impian gue masih banyak, gue masih pengen ke Cappadocia." Omelnya.
"Terus sama cowoknya gimana, Ne? Dia juga nolak?" Tanya Caca penasaran.
Inne mengangguk. "Tapi nyokap kita masih kekeh buat nerusin. Gue capek, Ca. Apa gue kabur aja ya?"
Caca memukul lengan Inne kesal. "Kabur bukan solusi, yang ada nambah masalah. Lagian kok bisa sih nyokap lo pemikirannya kolot gitu. Takut lo jadi perawan tua? Gak logis banget. Tapi... gue juga korban perjodohan sih. Beda masalahnya doang."
Caca mendesah kecil, ditatapnya Inne begitu dalam. "Mending lo tolak aja deh, Ne. Bukan gue nakutin elo, tapi gue bukti nyata dari korban perjodohan yang gagal. Pernikahan gak akan berjalan baik kalau sama-sama berat hati. Percaya sama gue."
Inne menatap Caca lekat. "Udah, Ca. Yang belum mulut gue berbuih. Terus gue harus gimana, Ca?"
"Lo beneran gak suka sama tu cowok? Gak ada rasa dikit pun?" Tanya Caca penuh selidik.
Inne menggeleng. "Dia ngeselin, Ca. Ya kali gue suka sama dia. Kalau gue nikah sama dia, udah pasti kita berantem terus. Gua sama dia gak akan pernah akur." Ditatapnya Caca lekat. "Lagian dia udah punya cewek yang dia cinta."
Caca kaget mendengar hal itu karena kisah Inne sangat mirip dengannya. Hanya saja Inne tak memiliki perasaan apa pun terhadap lelaki itu. Dan itu merupakan keberuntungan untuk Inne.
"Gimana dong, Ca?"
Caca meraih tangan Inne lalu menggenggamnya. "Coba deh lo diskusi lagi sama keluarga lo, gue rasa mereka gak mungkin deh tega maksa anaknya."
"Kakak gue juga dijodohin, Ca. Keluarga kita itu udah kayak tradisi pake jodoh-jodohan. Kolot banget. Mana nyokap si cowok ngebet banget lagi pengen jadiin gue mantu. Jadinya susah. Pusing gue." Kesal Inne seraya mengacak rambutnya.
__ADS_1
Caca menghela napas karena bingung harus ngomong apa lagi.
"Ca." Inne manatap Caca lekat.
"Apaan?" Tanya Caca bingung.
"Gue nginep tempat lo aja ya malam ini?" Pintanya penuh harap. "Please, boleh ya?"
"Terus kalau bonyok lo cemas gimana, Ne?"
"Biarin aja, biar mereka tahu kalau gue beneran gak mau dijodohin. Bantu gue, Ca." Mohon Inne memberikan harapan penuh pada Caca.
Akhirnya Caca pun mengangguk. Spontan Inne pun langsung memeluknya.
"Aaaaa... makasih Caca yang baik hati. Gue gak akan lupain jasa lo sampai kapan pun." Inne benar-benar bahagia sekarang.
Caca ikut tersenyum seraya mengusap punggung Inne. "Selagi gue bisa bantu lo, gue bakal bantu kok."
Inne mengangguk dengan senyuman yang mengembang.
****
"Tolong copy ini. Bawa ke meja saya." Pinta salah satu senior seraya melempar sebuah berkas di meja Kiano.
Sontak Kiano yang tengah duduk manis sambil mengerjakan tugasnya itu pun menoleh. Lalu menghela napas kasar karena sejak pagi tadi orang-orang itu saja yang memerintahnya. Seolah tengah memanfaatkannya. Mungkin jika sekali Kiano tak akan sekesal ini. Namun mereka sudah menguras kesabaran dan energinya.
"No, aku juga sekalian nitip ya?" Pinta salah satu karyawati berpenampilan nyentrik. Dan itu membuat Kiano tambah kesal karena pekerjaannya otomatis akan terganggu. Bahkan sejak pagi ia belum separuh pun menyelesaikan tugasnya.
"Maaf, Mbak, Mas. Saya memang anak baru, tapi saya juga punya tugas. Kalian bisa copy sendiri kan? Tempat copy-nya juga deket kok di situ." Ujarnya yang berhasil mencuri perhatian karyawan lainnya. Termasuk dua orang tadi yang menyuruhnya.
"Lho, kamu marah cuma karena di suruh foto copy, No? Kita semua tahu aturan di sini, tugas anak baru itu...."
"Kita di sini sama-sama digaji, Mas." Sergah Kiano.
Sontak lelaki bertubuh jangkung itu mendatangi meja Kiano lagi. Termasuk si karyawati tadi.
__ADS_1
"Bahkan mungkin gaji Masnya lebih besar dari pada saya, kita juga punya tugas masing-masing. Lagian ini bukan sekolah atau kampus yang pake senioritas. Dan setahu saya, tidak ada peraturan itu di sini." Imbuh Kiano dengan tegas.
Senior yang bernama Yuda itu tertawa hambar dan duduk di atas meja kerja Kiano. Menepuk-nepuk pundak Kiano. "Mungkin kamu gak tahu siapa saya, No."
Kiano tersenyum miring. "Memangnya Anda siapa?"
Para karyawan lain pun terlihat kembali bekerja karena tak ingin ikut campur. Kecuali wanita yang ikut merintah tadi yang tersenyum mengejek ke arah Kiano.
Yuda tertawa lagi. "Berani juga ni anak baru. Gak papa, aku maafin karena mungkin kamu gak tahu siapa aku. Biar aku kenalkan, aku Yuda Pratama. Kamu tahu manager di sini siapa?"
Kiano mengerutkan kening. "Dia backingan kamu?" Tanyanya seraya tersenyum mengejek.
Para karyawan yang ada di sana terlihat curi-curi pandang dan curi dengar pembicaraan mereka. Bahkan ada beberapa yang diam-diam merekamnya.
"Heh anak baru, kamu harus tahu. Manager di sini itu Ayahnya Mas Yuda. Yang bisa kapan aja depak kamu dari sini." Sahut si karyawati dengan sinis.
Cih, apa anak buah Daddy bodoh semua masih pelihara karyawan model ginian? Atau Daddy sengaja ngasih posisi ini supaya aku bisa lihat siapa aja yang kerjanya gai beres? Pikir Kiano dalam hati.
Kiano memundurkan kursinya, lalu menatap keduanya bergantian. "Manager ya? Manager bagian apa?"
Yuda tersenyum mengejek. "Gaya kamu itu lho kayak anak pemilik perusahaan aja. No... No... nyogok berapa masuk ke sini?"
Kiano tersenyum miring. "Kalau aku bener anak pemilik perusahaan gimana?"
Yuda dan karyawati itu pun tertawa mengejek setelah mendengar perkataan Kiano barusan.
"Mimpimu ketinggian, No." Ledek Yuda tertawa geli. "Mana ada anak CEO kerjanya di sini? Ngaco kamu."
Kiano mengangguk kecil, kemudian kembali fokus pada komputernya. Percuma ia menjelaskan pun, tak akan ada yang percaya dengannya. Jadi ia tak ingin membuang waktu.
Namun dengan sigap Yuda menahan bahunya. Refleks Kiano menoleh, dan mendapati tatapan intimidasi darinya.
"Sekali lagi kamu berani ngelawan, jangan harap besok kamu bisa nginjakin kaki lagi di sini. Kerjakan apa yang aku suruh, aturan tetap aturan, paham?" Setelah mengatakan itu Yuda pun pergi meninggalkan Kiano dengan angkuh. Begitu pun dengan si wanita yang sok kecantikan itu.
Kiano mengeratkan rahangnya, tetapi masih berusaha tenang karena mengingat perkataan sang Daddy. Ia tak diizinkan membuat masalah dalam dua bulan masa percobaan ini. Jika tidak ia akan langsung dipecat oleh Regar. Yang artinya Kiano tak akan mendapat bekerja bagus lagi kedepannya.
__ADS_1
Kiano tak ingin itu terjadi karena ia sudah bertekad untuk membahagiakan Caca dan juga calon buah hati mereka. Pemuda itu menghela napas kasar. Kemudian bergegas bangkit dan menyambar dokumen yang akan dicopy. Yuda yang melihat itu tersenyum penuh kemenangan.
Kamu pikir bisa lawan aku di sini hem? Jangan harap, semua karyawan di sini harus tunduk di bawahku. Batinnya seraya menyungginhkan senyuman licik.